
Setelah di tinggal begitu saja oleh saudaranya sendiri di depan restoran, Arga terdiam sejenak menatap belakang kendaraan yang perlahan menjauh, di rasa sudah menjauh, ia kemudian memutuskan untuk kembali ke rumah sakit untuk mengunjungi putranya dan juga Ayahnya sebelum dirinya kembali ke kantor.
Entah sengaja atau tidak? Namun, Arga merasa beruntung, karena jarak restoran itu begitu dekat dengan rumah sakit.
Setibanya di sana, tangannya menggeser pintu kamar pasien, saat pintu itu tergeser, ia bisa melihat sosok Ayah dan Anaknya yang masih terbaring tertidur di atas ranjang yang bersebrangan.
Ia sengaja meletakkan Ayah dan Anaknya dalam satu ruangan, agar dirinya bisa mengontrol dan memeriksa keduanya secara bersamaan, sekaligus bisa menghemat waktunya.
" Kalian kapan sih bangunnya? Apa kalian harus setega ini sama aku? Dan sampai kapan kalian akan menyiksaku begini? " Arga menghela nafas, Ia berdiri di antara dua ranjang itu, sesekali menatap keduanya secara bergantian,
Tatapannya kemudian beralih pada wajah putranya yang semakin tirus, padahal sebelumnya ia melihat di dalam postingan, Aldan tampak berisi, berbanding balik dengan kondisinya yang sekarang.
Kedua kakinya berjalan menuju samping ranjang anaknya lalu terduduk di atas kursi sembari menatap wajah itu sembari berpikir, mungkinkah mereka sedang mengerjainya? Sebab para dokter mengatakan bahwa mereka sudah dalam keadaan baik. Lantas apa yang membuat mereka terus tertidur seperti ini hingga sekarang? .
Ia kembali menghela nafas, tangannya terulur mencoba meraba wajah itu namun tiba-tiba ponselnya bergetar di balik saku jasnya, ia berdecak kesal lalu mengambil benda pipih itu dari dalam sakunya. Akan tetapi dahinya mengernyit ketika melihat nama pemilik no itu.
Bukankah mereka baru saja selesai makan siang? Lalu untuk apa dia memanggilnya? Tanpa berpikir panjang, ibu jarinya menggeser ikon hijau di layar.
" Apa lo sekangen itu sama. . .
__ADS_1
" Cepat kembali sekarang juga. "
" Ada a. . .
Belum sempat dirinya bertanya, panggilan itu sudah berakhir begitu saja. Membuat dahi Arga mengernyit heran, menatap layar ponselnya yang sudah mati.
Entah kenapa, perasaannya mendadak menjadi tak enak.
Tanpa membuang waktu, Ia kemudian bangkit dari posisi duduknya lalu bergegas kembali ke kantor.
Tanpa sadar, ia memajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, bahkan beberapa kali, ia hampir menabrak truk yang berada di depannya.
Akan tetapi, setibanya di sana, tubuhnya membeku, ketika melihat sosok wanita paruh baya terduduk anggun dengan secangkir teh di tangannya.
Menyadari akan keberadaannya, wanita itu mendongakkan kepalanya, kedua sudut bibirnya terangkat ke atas, lalu bangkit dan berjalan menghampiri Arga, dan tanpa di duga, wanita itu memeluknya di depan Dania.
" Seharusnya, kamu memberi tahu ibu, kalau kamu sudah pulang. " ungkapnya. " Kamu tahu betapa ibu merindukan mu. Putraku. " tambahnya sembari berbisik.
Kedua telapak tangannya mengepal dengan erat dengan kedua mata yang memerah. Dengan amarah yang tak tertahannya, ia melepas pelukan wanita itu darinya, kedua tangannya meremas bahu lemah itu dengan cukup keras, hingga membuat wanita itu meringis kesakitan.
__ADS_1
" Ruksa, bisakah kamu meninggalkan kami? Ada pembicaraan yang harus aku lakukan dengannya. " Ucapnya dengan kedua mata yang melototi sosok wanita tua yang ada di depannya.
" Tapi . . .
" LO DENGER NGGAK SIH GUE BILANG APA? " teriak Arga dengan suara lantang. " Ingat, jabatan gue lebih tinggi dari pada lo. " tambahnya dengan nada memperingatkan.
Tubuh Dania begitu terkejut, melihat sisi lain dari Arga yang berbeda, hal ini membuatnya terguncang, tanpa berniat berdebat dengan pria itu, dengan perasaan campur aduk, ia memutuskan pergi dari ruangan itu.
Setelah semuanya pergi, Dengan tergesa-gesa, Arga menutup kaca jendelanya rapat-rapat dan tidak membiarkan siapapun masuk tanpa seizin dirinya.
" Apa yang kamu lakukan di sini? "
" Tentu saja mengunjungi putraku yang sudah lama tidak pulang, kenapa? Lagi pula tidak ada salahnya bukan, Seorang ibu merindukan anaknya. "
Arga mendengus, sembari berkacak pinggang, " Ibu? Kamu panggil dirimu seorang ibu? Jangankan untuk menjadi ibu seorang manusia, kamu bahkan tidak cocok menjadi ibu dari seorang binatang sekalipun. "
Plak!!!
Sebuah tamparan, mendarat di pipi Arga yang putih hingga meninggalkan jejak di sana dengan jelas. Meski tamparan itu cukup kuat, bahkan membuat ujung bibirnya sobek, namun pria itu malah tergelak seperti orang gila.
__ADS_1