
Entah bagaimana prosesnya, tahu-tahunya Ruksa telah berhasil membaur dengan semua penghuni rumah itu tanpa meninggalkan rasa curiga sedikit pun, ia berhasil menyusup dan berbaur dengan alami.
Di sela kegiatannya, ia mengamati dan menghapal setiap sudut dari tempat itu. Ia sangat memuji pada orang yang mendesain tempat itu, tempat ini memiliki banyak pintu untuk akses masuk tapi sayangnya hanya ada satu pintu untuk bisa keluar dari sana, yang mana artinya, sekali masuk maka tak bisa keluar sampai kapan pun. Pantas saja, Ayahnya bisa di tahan di tempat seperti ini.
Tapi, sampai saat ini, Ruksa masih belum menemukan di mana tempat Ayahnya di sekap, sebab terlalu banyak pintu dan ia tak bisa sembarangan masuk, karena ada puluhan pasang mata yang tengah mengamatinya.
Sebagian besar penghuni rumah itu merupakan kelompok remaja yang seumuran dengan Dania, mereka mengaku bahwa mereka telah tinggal dan besar di rumah itu sejak masih kecil, beberapa diantaranya mengaku bahwa mereka sengaja di buang begitu saja oleh orang tua mereka sendiri.
Beruntung orang yang mereka sebut dengan panggilan " Ibu " itu mengajak mereka untuk tinggal bersama.
Awalnya mereka menolak, tapi setelah melihat dan menemukan kenyamanan di rumah itu, tanpa sadar, mereka tak bisa pergi dari tempat itu.
Meski tak ada peran orang dewasa di sana, tapi mereka tak peduli sama sekali, selama bisa berbagi kebahagiaan itu sudah lebih dari cukup.
" Lalu bagaimana bagaimana kalian mengelola makanan, Pakaian, keuangan dan lainnya? " Tanya Ruksa seorang gadis yang bernama Veda.
Keduanya di tugaskan memasak makan malam.
Mendengar pertanyaan itu, Veda pun menoleh, ia tersenyum sembari mengatakan bahwa yang bertugas sebagai pemimpin di tempat ini adalah Lingga.
Meski sikap Narsisnya tak bisa di toleransi, namun sekalinya dia berucap maka semua anak yang berada di sana wajib untuk mendengarkannya, jika tidak. Orang yang di panggil " Ibu " itu akan menghukum mereka.
Ruksa pun menundukkan kepalanya, sejak tadi, topik pembicara mereka selalu mengarah pada " Ibu ", Apa maqsudnya Clara?
__ADS_1
" Oh iya, apa aku bisa bertemu dengan Ibu? " tanya Ruksa tiba-tiba.
" Soal itu. . .
Bruk!!
Tanpa di sadari Ruksa menabrak tubuh seseorang hingga membuat tubuhnya terpental, menjatuhkan keranjang sayuran yang hendak dicucinya jatuh berantakan.
" Oh Maaf, aku tidak . . . Dania, apa yang. . .
" Kalian sudah saling mengenal? " tanya Veda.
" Oh, kami.
" I-i-iya, benar, kita sudah saling mengenal sejak pagi tadi, maaf membuat pekerjaan kalian menjadi berantakan. Biarkan aku ikut membantu kalian. " ungkapnya sembari mengalihkan pembicaraan.
Veda yang merasa tak ada yang aneh pun, langsung menerima tawaran Mikael, ia lalu melanjutkan aktifitasnya kembali.
Setelah memakan waktu yang cukup lama, akhirnya tugas mereka pun selesai, Veda pun mengajak Ruksa untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum waktu makan malam di mulai.
Akan tetapi, Mikael tiba-tiba meminta Ruksa untuk berbicara dengannya empat mata.
" Kenapa? Apa kalian memiliki rahasia, atau jangan-jangan. . . Lo suka yah sama Dania, " Terka Veda. " Cieee yang jatuh cinta pada pandangan pertama, kalau gitu kalian boleh pergi, tapi ingat jangan sampai melebihi batas. " tambahnya sembari melenggang pergi, meninggalkan Mikael dengan semburat merah di wajahnya. Berbeda dengan Ruksa yang hanya memasang tampang datar.
__ADS_1
" Ada apa? " Tanya Ruksa yang langsung menyadarkan Mikael dari lamunannya.
" Apa yang kamu lakukan di sini? " jawabnya dengan sebuah pertanyaan.
" Lo sendiri? Bukannya lo udah mati. "
" Siapa yang bilang? "
Seketika Ruksa terdiam, memang benar, tak asa yang menyebutkan bahwa dia sudah meninggal, tapi karena menghilang dalam waktu yang lama banyak yang mengira bahwa dia sudah meninggal.
" Lalu, apa yang lo lakukan di tempat ini? Kenapa nggak pulang ke rumah, lo tahu? Kedua Orang tua lo sangat khawatir banget sama Lo. Lagian, bukannya mulang malah keluyuran di tempat seperti ini. "
" Itu bukan urusan kamu, yang penting sekarang, kamu harus segera pergi dari sini, tempat ini tidak cocok untuk mu.
Ruksa menyipitkan matanya, kedua tangannya terlipat di dada.
" Kenapa? Dari mana lo tahu kalau tempat ini nggak cocok? Lagi pula ini bukan urusan lo. " ungkapnya, Ruksa pun berjalan pergi namun Tangannya di tahan oleh Mikael.
Pria itu menatapnya dengan tatapan cemas, tersirat rasa gelisah di wajahnya. " Aku mohon. "
Bukannya merasa terharu, Ruksa malah mendelik tajam ke arah Mikael, sembari menghempaskan tangan anak laki-laki itu dengan kasar, lalu pergi begitu saja, akan tetapi. . .
" Kalian Sedang apa? " Tanya Lingga
__ADS_1