Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
41


__ADS_3

Darian Pov.


Sejak percakapannya dengan Dania pagi tadi , membuat perasaanya dan pikirannya menjadi sangat kacau.


Dirinya sungguh tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Dania, namun di sisi lain juga dirinya merasa bahwa apa yang di katakan wanita itu terdengar benar dan tak ada jejak kebohongan yang tersirat di wajah itu sama sekali.


Terlebih lagi dirinya merasa kecewa pada Mikael yang tak pernah mengatakan apapun padanya. Membuatnya merasa bahwa dirinya sangatlah tidak berguna sama sekali.


Jika di ingat kembali, Mikael tak pernah banyak cerita padanya, padahal ia merasa bahwa hubungan mereka sudah terbilang cukup akrab.


Namun sepertinya itu hanya berlaku untuk dirinya saja.


Kedati begitu, terlepas dari itu semua dirinya sangat ingin menyangkal pernyataan Dania pagi tadi tak mungkin. Sekolah yang ia banggakan itu menyembunyikan sebuah tempat tercela.


Dengan pakaian serba rapih, Darian berjalan mondar mandir di dalam kamarnya, seraya memangku dagunya, dirinya tak bisa mengenyahkan kata-kata itu dari dalam kepalanya.


Ia pun mendecakkan lidahnya lalu mendesis, kepalanya tiba-tiba merasa sakit.


Sungguh ia belum bisa menerima kebenaran itu, akan tetapi ia tak bisa menyangkal dengan bukti kuat yang di berikan oleh Dania.


Flashback


Meski video itu bukan kualitas tinggi, namun Darian masih bisa melihat dengan jelas bahwa di dalam video itu tengah terjadi sebuah perkelahian yang tengah di saksikan oleh sekelompok anak remaja.


Salah satu ujung bibirnya berkedut, tangannya mengepal dengan erat, bagaimana bisa mereka menyebut mereka sebagai manusia?


Darian pun menyipitkan matanya dan menyadari bahwa tempat itu merupakan gedung terbengkalai yang terletak di belakang gedung pelajar.


Ia pun mendongakkan kepalanya dan menatap perempuan di depannya, memberikan kembali ponsel itu kepada Dania.


" Bagaimana kalau itu cuman editan saja? "


" Gue yakin, otak lo pasti bisa membedakan mana yang asli dan mana yang palsu. " ujarnya dengan nada meremehkan.


Salah satu alis Darian berkedut, perkataan Dania membuatnya merasa terganggu. Ia pun membuang wajahnya sembarangan, dirinya baru tahu bahwa makhluk yang berada di depannya sangatlah menyebalkan dan mengganggu.


" Lalu, untuk apa kamu menunjukan video ini padaku, jika Mikael saja sudah mengetahuinya? " tanyanya dengan nada jutek.

__ADS_1


" Mungkin lo lebih berguna dari pada dia. "


" Bisa tidak, itu mulut di jaga? "


" Sayangnya nggak. "


Di bawah meja, kedua tangan Darian terkepal dengan erat, jika saja di depannya bukan seorang perempuan mungkin sejak tadi tinjunya sudah melayang dan mendarat di wajah perempuan itu.


Namun ia tak bisa melakukan hal rendah seperti itu, ia pun hanya bisa menahan amarahnya di dalam hati dan berusaha sebisa mungkin untuk menahannya.


" Jadi, apa yang ingin kamu minta dari ku, membubarkan mereka lalu melaporkannya ke polisi? "


" Tepat sekali. "


" Kenapa harus aku? Minta saja pada Mikael! "


" Kok lo malah kesel sama gue? " tanyanya. " Ya sudah kalau tidak mau, gue minta sama EL saja. " Ungkap Dania seraya beranjak bangkit dati posisi duduknya


Akan tetapi Darian tiba-tiba menghentikan pergerakannya.


" Tunggu, untuk memastikan keaslian dari video itu, bagaimana kalau kita bertemu di sekolah malam ini? " tawarnya


" Ingat! Jam sebelas malam tepat, lo harus sudah ada di tempat titik temu kita, jangan sampai telat! Tak peduli jika itu satu detik, aku tak akan menunggumu apalagi memaafkan mu. "


Flashback off


Jam di arlojinya sudah menunjukan pukul jam setengah sebelas malam , Darian yang tak suka membuang waktu, langsung bergegas berangkat menggunakan sepeda motor sport miliknya.


Kendaraan roda dua itu melesat elegan di jalanan yang mulai sepi.


Hanya membutuhkan waktu lima belas menit untuk membuatnya sampai di tempat titik pertemuan mereka. Masih tersisa lima belas menit lagi sampai perempuan itu datang.


Untuk menghabiskan waktunya, ia pun memainkan jarinya di layar ponselnya dengan melihat acara berita politik yang sedang ramai di bicarakan akhir-akhir ini.


Tak terasa waktu lima belas menit itu berlalu dengan sangat cepat.


Darian pun melirik jam di ponselnya yang sudah menunjukan pukul sebelas malam lebih dua puluh menit. Akan tetapi sosok yang tengah di tunggunya belum muncul juga.

__ADS_1


Ia pun menghentakkan kakinya ke tanah dengan perasaan kesal seraya mendecakkan lidahnya beberapa kali, ia pun menghidupkan kembali ponselnya. Lalu membuka aplikasi kontak telepon.


Tapi jari-jarinya tiba-tiba berhenti di udara dan menyadari bahwa dirinya tak memiliki ponsel Dania.


Kedua tangannya hanya bisa mengacak rambutnya dengan frustasi.


Kemana perginya wanita itu? Bukankah dirinya sudah mengatakannya dengan jelas untuk bertemu di jam sebelas malam tepat?!


Salah satu alisnya berkedut, merasa dirinya tengah di permainkan, tapi karena sudah terlanjur setengah jalan, Darian pun mencoba memberi waktu pada perempuan itu.


Setengah jam kemudian, sosok yang di tunggunya akhirnya datang juga, dengan menggunakan sepeda kayu tua, nafas perempuan itu begitu terengah-engah dengan wajah yang memerah.


Penampilan nya begitu asal-asalan, hanya menggunakan sweater berwarna abu-abu dengan celana training olah raga sekolah sebagai pelengkap penampilannya.


" Kenapa lama sekali?! Kamu tahu sudah berapa lama aku menunggu mu?! Bukankah aku sudah memperingatkan mu untuk tidak terlambat walau pun itu hanya satu detik saja. "


" Tapi lo masih ada di sini kan? " ujarnya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. "


Mulut Darian pun menjadi kelu, tak bisa berargumen, sebab dirinya menyadari akan kekeliruan yang terjadi dengan tindakannya.


" Lagi pula gue punya alasan, selain harus nunggu bokap tidur, gue juga harus menggoes dari rumah pake sepeda butut ini. Kalau lo nggak mau gue terlambat, seharusnya lo jemput gue bukannya marah-marah nggak jelas. "


Alih-alih melawan, Darian pun memilih untuk bungkam, dirinya terlalu malas untuk beradu argumen.


Ia pun kembali menaiki motor sport miliknya dan mengajak Dania untuk naik.


Akan tetapi perempuan itu menolak, sebab mereka harus melewati jalur bukit agar bisa menangkap mereka.


Dahi Darian pun mengernyit, tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun, ia pun beranjak turun dari sepeda motornya lalu berjalan memasuki jalur bukit yang merupakan salah satu jalan yang bisa menembus ke area sekolah.


Sesampainya di tempak kejadian, Kedua bola mata Darian terbeliak, melihat apa yang di katakan Dania memang ada benarnya, tanpa membuang waktu ia pun merogoh ponselnya dan langsung menghubungi seseorang.


Dania yang awalnya tak sadar hanya bisa terdiam memperhatikan.


Namun tak lama kemudian, sekelompok polisi pun datang menyerbu dan menangkap semua siswa yang sedang terlibat itu, kebanyakan dari mereka merupakan Siswa dan siswi dari Sky Dream high school dan juga Cloud high school, sedangkan sisanya berasal dari siswa swasta.


Kurang lebih ada lima puluh siswa dan siswi yang di amankan oleh anggota polisi.

__ADS_1


Setelah mengamankan mereka, seorang pria yang mengenalkan dirinya sebagai Aiptu Burno, berjalan kearah mereka dengan senyum ramah tamah yang tercetak di wajahnya, pria paruh baya itu mengucapkan terima kasih karena sudah melaporkan mereka pada dirinya


__ADS_2