
Setelah mengisi perut hingga kenyang, Bibi May menyuruh Ruksa dan Dania untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.
Awalnya keduanya terlihat enggan dan ragu untuk meninggalkan rumah sakit..
Namun wanita paruh baya itu meyakinkan bahwa dirinya bisa menjaga pria itu sebelum makan malam tiba. Jadi mereka tak perlu khawatir, lagi pula dia juga sudah meminta dan mendapatkan izin dari suami tercintanya.
Mendengar hal tersebut, baik Ruksa maupun Dania akhirnya menuruti perkataan wanita itu.
Keduanya pun memutuskan pulang bersama dengan Dania yang mengantarkan Ruksa pulang ke rumahnya terlebih dahulu.
Di sepanjang jalan Dania hanya diam membisu, tersirat jelas dari wajah gadis itu yang masih memikirkan kejadian tadi. Dimana dia baru tahu bahwa dirinya bukan lah anak kandung dari pria itu. Lantas, dia ini anak siapa?
Dan kenapa pria itu tak pernah mengatakan apapun padanya?
Jika tak ada insiden kecelakaan itu, apakah selamanya ia tak akan pernah tahu, tentang kebenaran itu?
Di sisi lain Ruksa pun ikut pun ikut memikirkannya, jika Dania bukan anak Ruslan, lantas kenapa pria itu mau membesarkan gadis itu hingga sekarang? Apa karena gadis itu merupakan anak dari wanita itu?
Mendadak kepalanya menjadi pusing, memikirkan banyak teka teki yang masuk ke dalam otaknya.
Selama ini, berapa banyak rahasia yang di miliki pria itu?
Sesampainya di dalam rumah, Ruksa pun membaringkan tubuhnya di atas ranjang miliknya seraya menatap langit-langit kamarnya yang sudah lapuk termakan usia.
Ia terdiam cukup lama, hingga akhirnya memutuskan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Di dalam kamar mandi, di sebuah wadah berukuran besar, yang berisikan air hangat. Tubuh Ruksa meringkuk memeluk kedua lututnya.
Biasanya, setiap kali dirinya mendapatkan masalah atau pun sesuatu yang mengganggu pikirannya, dirinya selalu menenggelamkan dirinya di dalam bathub, tapi karena di rumah ini tidak ada, jadi dirinya harus mencari alternatif lain.
Beruntung ada wadah berupa baskom berukuran besar di rumah itu yang bisa memuat seluruh tubuhnya.
Akhirnya, mau tak mau ia pun menggunakan benda itu.
Di dalam wadah berisikan air hangat itu, ia memejamkan kedua matanya yang masih memeluk kedua lututnya . Ia kembali mengingat kejadian terakhir kali dirinya bertemu dengan Ruslan.
__ADS_1
Kala itu, setelah perayaan kelulusan, pria itu tiba-tiba mengajaknya untuk bertemu di tepi danau, tempat di mana mereka selalu menghabiskan waktu di kala senggang, atau pun menjernihkan pikirannya, karena tempat itu begitu tenang dan damai.
Karena pria itu mengatakan bahwa ada hal penting yang ingin dikatakannya.
Tentunya Ruksa pun menjadi penasaran, perihal apa yang ingin di katakan pria itu padanya. Ia pun akhirnya menyetujui permintaan pria itu.
Seperti yang dikatakannya, mereka akan bertemu pada pukul tujuh malam tepat.
Akan tetapi, meski waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam, pria itu tak pernah menampakkan batang hidungnya. Entah sudah ke berapa kali dirinya mencoba menghubungi pria itu.
Namun hasilnya nihil, pria itu sulit di hubungi.
Mungkinkah ada sesuatu yang membuatnya tak bisa datang dan sulit di hubungi?
Pada akhirnya Ruksa menunggu hingga menjelang pagi, hingga akhirnya dirinya mendapat sebuah pesan, bahwa pria itu sudah pergi keluar negeri beserta keluarganya dan tak akan pernah kembali untuk selamanya.
Merasa di permainkan, Ruksa pun menggenggam ponselnya, lalu membuangnya ke danau, dengan perasaan marah ia pun pergi meninggalkan tempat itu.
Kendati begitu, ia tak bisa membenci pria itu, tak peduli seberapa sering pria itu menyakiti perasaannya.
Namun, perlahan kebenaran mulai terungkap setelah jiwanya terjebak di dalam tubuh Dania yang awalnya ia kira sebagai buah cinta dari Ruslan bersama Nisya , namun ternyata dugaan nya salah besar.
Setelah berendam cukup lama, ia pun beranjak keluar dari wadah itu, lalu menggambil satu set pakaian yang akan ia gunakan serta satu set pakaian tambahan untuk di bawa ke rumah sakit.
Tak lupa ia pun memasukkan satu set pakaian ganti untuk Ruslan.
Di rasa sudah lengkap, ia pun memutuskan untuk pergi saat itu juga.
Namun, saat hendak keluar rumah, Ruksa dikagetkan dengan sosok Dania yang sudah berdiri di depan rumahnya dengan pakaian yang sama seperti sebelumnya. Yang artinya gadis itu sudah menunggunya sejak tadi.
" Ada apa? " tanya Ruksa
" Bisakah kita berbicara? " tanya balik Dania.
" Tentu, masuklah. "
__ADS_1
Dania pun menganggukkan kepalanya lalu berjalan masuk ke dalam rumah yang sudah lama tak ia singgahi.
Seketika rasa rindu menyelimuti seluruh tubuh Dania, ia begitu merindukan tempat tinggalnya itu, meski kecil. Namun tempat ini penuh dengan kenangan yang penuh dengan rasa cinta dan kasih sayang yang selalu di berikan oleh sang ayah padanya.
" Duduklah, mau gue buatin minum nggak? " tawar Ruksa.
Tubuh Dania terdiam sejenak, entah kenapa ia merasa seperti tamu di rumahnya sendiri.
Ruksa yang mendengar hal tersebut hanya bisa menggaruk kulit kepalanya. Dan tak menyangkal apa yang di katakan oleh Dania, memang benar ini adalah rumahnya tapi kan sekarang ini juga rumahnya juga.
Semakin di pikir, bukankah situasi ini terasa aneh bagi mereka berdua?
Tapi dengan cepat, Ruksa berhasil memecah situasi aneh itu, dengan bertanya apa yang diinginkan oleh gadis itu padanya
Walau pun sebenarnya Ruksa tahu betul, apa yang di inginkan oleh gadis itu.
Dan benar saja, gadis itu memintanya untuk mencari tahu siapa dan dimana orang tua aslinya berada? Dan kenapa mereka membuangnya.
" Lo yakin ingin tahu? Siapa tahu, bokap lo memang sengaja menyembunyikannya dari lo, karena memang ini satu-satunya jalan yang terbaik pilihannya." terang Ruksa.
Namun,. Dania pun langsung menganggukkan Kepalanya, dan mengatakan bahwa dirinya sangat yakin dengan keputusan yang di buatnya.
Ia sangat penasaran akan sosok kedua orang tuanya. Kali ini dirinya sangat bertekad untuk menemukan mereka. Tak peduli bagaimana hasilnya, ia tak akan pernah menyesali keputusan itu.
Ruksa pun menghela nafas, " Baiklah kalau begitu, gue bakalan bantu buat nyari info tentang kedua orang tua lo. Tapi ini nggak gratis. "
" Kalau itu, bisakah aku menyicilnya setiap bulan? " pinta Dania.
Ruksa pun langsung tergelak mendengar jawaban dari gadis itu. " Gue nggak butuh duit lo, " Ruksa berkata seraya masih tergelak.
" Lalu, kakak mau apa dari aku? " tanya Dania kembali.
" Kalau soal itu, kurasa gue bisa memintanya nanti. " timpal Ruksa dengan enteng.
Tampak bahwa gadis itu terlihat sangat lega setelah mendengar pernyataan dari Ruksa.
__ADS_1
" Okeh, apapun yang kakak butuhkan, aku akan siapa siaga membantu kak Ruksa, kapan pun dan di mana pun, ujar Dania dengan nada tegas.