
Ruslan pov
Langkah kedua kaki Ruslan mendadak berhenti ketika ia mendengar suara tembakan yang berasal dari lantai atas, seketika perasaannya menjadi tak karuan, ia dengan cepat mempercepat langkahnya mengabaikan wanita yang berada di belakang punggungnya yang kesulitan mengikuti langkah kakinya yang lebar.
Tepat setelah sampai di lantai di mana suara tembakan itu berasal tiba-tiba tubuhnya terpental dan terjatuh dari tangga akibat sebuah ledakan yang berasal dari lantai tersebut. Ruslan pun jatuh pingsan tak sadarkan diri.
Beberapa saat kemudian, Ruslan pun tersadar, ia meringis kesakitan memegang kepalanya yang terasa sangat sakit dan menyadari bahwa dirinya kembali mendapat luka lagi, darah segar pun mengucur dari pelipisnya membuat kepalanya menjadi sangat pusing, saat mencoba bangkit, ia kembali meringis kesakitan di bagian kakinya, menyadari bahwa kaki kanannya terkilir akibat jatuh dari tangga.
Meski begitu, dirinya tak boleh menyerah apalagi bertindak lemah karena putrinya pasti sedang menunggu kedatangannya, ia kemudian membalut luka di kepalanya dengan merobek baju kemejanya, setelah selesai. Dengan mengerahkan seluruh kekuatannya, Ruslan pun kembali berdiri .
Akan tetapi, saat hendak pergi, langkahnya terhenti ketika menyadari bahwa dirinya tak mendengar suara Ruksa sama sekali. Ia kemudian menoleh dan mendapati wanita itu tergeletak tak sadarkan diri tak jauh dari tempatnya pingsan tadi.
Walaupun putrinya adalah prioritas utamanya, namun dirinya tak bisa mengabaikan wanita itu begitu saja, ia kemudian memutuskan untuk memindahkan tubuh wanita itu ke tempat yang lebih aman.
__ADS_1
Setelah memindahkannya ke tempat yang aman, Ruslan pun segera bergegas pergi menuju lantai atas untuk menemui putrinya
Setibanya di lantai atas, Ruslan terdiam sejenak, melihat kondisi lantai itu yang sudah hancur sepenuhnya. Namun ia segera keluar dari lamunannya.
Kedua matanya menyusuri setiap sudut ruangan itu berharap bisa menemukan jejak dari putrinya, akan tetapi, ia tak bisa menemukan apapun kecuali puing-puing yang berserakan di lantai, meski begitu dirinya terus berharap dan berdo'a bahwa putrinya masih hidup dan baik-baik saja. Ia terus berjalan sembari menyeret kakinya yang terluka sesekali menyerukan nama putrinya.
Namun, tak ada jawaban sama sekali. Hingga kedua telinganya tak sengaja mendengar suara putus asa dari adiknya, Rusdi.
Tanpa membuang waktu lagi, Ruslan pun semakin mempercepat langkah kakinya mengabaikan rasa sakit yang mendera di seluruh tubuhnya mencari sumber suara tersebut. Tak lama kemudian, ia akhirnya bisa menemukan sosok Rusdi, akan tetapi, tubuhnya membeku sejenak ketika melihat sang adik yang tengah melakukan CPR pada putrinya yang tampak tidak bernafas lagi.
Seketika Rusdi pun menoleh dengan kedua matanya yang berkaca-kaca. Kepalanya menunduk serta mengucapkan kata maaf, menyesal karena tak bisa menjaga keponakannya dengan baik. Ia kemudian menceritakan apa yang telah menimpa mereka.
Saat itu, setelah Arga melepaskan tembakan. Awalnya Rusdi berniat memukul wajah pria itu dengan tinjunya karena berani mencoba menyakiti keponakan tercintanya, namun Bagaskara mendahuluinya, pria tya itu langsung menghajar Arga habis-habisan hingga sekarat.
__ADS_1
Pria tua itu berkata bahwa dirinya sangat membenci pria yang hanya berani menyerang wanita terlebih lagi seorang gadis muda, maka dari itu ia tanpa ampun memukul Arga dengan tangan kosong.
Di puncak pelampiasan kemarahannya. Bagaskara mengambil sebuah senjata yang tergeletak di lantai, ia menodongkan senjata itu tepat di kepala pria Arga.
Saat Bagaskara hendak menarik pelatuk, Arga tiba-tiba tertawa, dia berkata jika dirinya tak bisa mendapatkan kekuasaan Wisesa maka siapapun tak boleh mendapatkannya tanpa terkecuali.
Setelah itu, ia pun menekan sebuah remote bom yang telah ia sembunyikan di balik baku yang tengah dikenakannya. Dan terjadi lah sebuah ledakan yang menghancurkan seluruh ruangan di lantai tersebut.
Beruntung, Rusdi menyadari rencana Arga sebelum bom itu meledak, akan tetapi meski tidak kena ledakan itu secara langsung namun dampak dari ledakan itu cukup kuat hingga membuat tubuh Rusdi ikut terhempas cukup jauh dan kepalanya membentur sebuah dinding, tapi beruntung dirinya masih bisa selamat dan masih bisa sadar diri, akan tetapi berbeda dengan keponakannya, Meski tak ada luka atau pun pendarahan yang hebat, namun sepertinya kepala sang keponakan menghantam sesuatu benda tumpul dengan cukup keras hingga membuatnya tak sadarkan diri. Karen panik ia melakukan CPR namun semuanya sia-sia karena gadis itu tal kunjung sadar
Setelah mendengar penjelasan dari sang adik, Ruslan kemudian mengerti dan langsung membopong tubuh putrinya dan membawanya ke rumah sakit, tak lupa ia menyuruh Rusdi untuk membawa tubuh Ruksa yang ia sudah amankan sebelumnya
Sesampainya di rumah sakit, keduanya langsung di bawa ke UGD untuk melakukan perawatan. Selama perawatan berlangsung, Ruslan tak bisa tenang, ia terus berjalan mondar mandir dengan menyeret salah satu kakinya yang pincang.
__ADS_1
Sebagai seorang adik, tentunya Rusdi merasa tak tega, ia kemudian memaksa sang kakak untuk segera mendapat perawatan, namun pria itu bersikeras menunggu, dia bahkan berkata sebelum dirinya tahu bagaimana kondisi putrinya ia tak akan pergi dari sana.