Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
63


__ADS_3

" Setelah itu lo pasti tahu kelanjutan ceritanya seperti apa. " Kata Nisya, ia pun kembali mengambil putrinya kembali dan menidurkannya di atas ranjang.


Sedangkan Ruslan semakin terdiam, hatinya semakin terasa perih dan teriris. Tanpa sadar kedua tangannya terkepal dengan erat, ia tak pernah menduga bahwa wanita yang berada di depan matanya, dan sudah di anggap sebagai adik kandungnya sendiri telah mengalami hal buruk selama ini.


Apanya yang sudah di anggap seperti keluarga? dirinya bahkan masih bisa makan, minum, tidur nyenyak, bahkan tertawa tanpa beban. Padahal di sisi lain, Nisya tengah berjuang setengah mati.


Kata maaf saja bahkan tak cukup untuk menutupi luka yang berada di dalam hati wanita itu.


Di tatapnya wanita itu yang sudah tidak tampak seperti dulu. Badannya yang masih bengkak, sepintas, Ruslan merasa bahwa Nisya yang berada di depannya bukan lagi Nisya yang


" Jadi apa yang bakal lo lakukan ke depannya? " Tanya Ruslan memberanikan diri.


" Entah lah, mungkin gue bakalan cari kosan dengan harga murah, lalu mencari pekerjaan untuk menghidupi putri gue. " terangnya.


" Kalau begitu, izinkan gue buat bantu lo, meski terbilang sudah terlambat, tapi gue harap kali ini bisa bantu lo. " tawarnya sungguh-sungguh.


Nisya pun terdiam sejenak, ia menatap wajah terlelap dari putri kecilnya " Soal itu kita bicarakan besok, soalnya gue sudah lelah, begitu juga dengan putri kecil gue. "


Mulut Ruslan pun terbuka, dan menyadari perkataan dari Nisya. " Ah, sorry. Kalau begitu kalian beristirahatlah dengan cukup, nggak perlu khawatir, gue bakalan jaga kalian dari luar. " Ruslan pun berjalan keluar meninggalkan sepasang ibu dan anak itu.


Setelah di luar, Ruslan tak berhenti memukul mulutnya.


Kenapa ia bisa sebodoh itu? Tentu saja mereka pasti lelah. Sungguh bodoh sekali dirinya ini.


Namun, dari itu semua pikiran yang ada di dalam pikirannya, satu hal yang membuatnya terus berpikir.


JIka saat itu dirinya tak menyerah mencari keberadaan dari Nisya, dan berhasil menemukannya, mungkinkah kehidupan perempuan itu akan berubah?


Ruslan pun menghela nafas, Semuanya adalah salahnya. Jika saja . . . Jika saja waktu bisa di ulang kembali, dan dia menyadari rencana dari Ayahnya, apa yang akan terjadi?


Satu hal yang paling membuatnya kecewa adalah Ayahnya sendiri. Bagaimana bisa pria itu begitu tega pada keluarga yang sudah membantunya? Bukankah mereka berteman? Lantas apa alasannya berbuat jahat seperti itu? Dan bagaimana bisa dia bersikap biasa saja seolah tak terjadi apa-apa? Padahal dirinya sudah berulang kali bertanya pada sang Ayah tentang keberadaan Nisya dan keluarganya.

__ADS_1


Namun bukannya mendapat jawaban, dirinya malah mendapat amarah dari pria itu. Sekaligus melarangnya untuk mencari keberadaan dari Nisya dan keluarganya


Saat itu dirinya tak mengerti, kenapa Ayahnya sangat melarangnya, dan kini ia tahu alasannya.


Ponsel di dalam sakunya tiba-tiba bergetar, di ambilnya ponsel di dalam sakunya, terdapat puluhan panggilan tak terjawab dari ayahnya dan beberapa pesan yang masuk yang menanyakan keberadaanya, dan salah satunya dari Ruksa.


Ruslan pun menghela nafasnya, karena kejadian mendadak yang di terimanya membuatnya lupa tentang janjinya dengan Ruksa, sepertinya ia harus meminta maaf, sebab ini sudah pukul tengah malam. Ia yakin perempuan itu pasti sudah pulang ke rumah.


Jari-jari tangannya bergerak dengan cepat, mengetikkan beberapa kata, namun tiba-tiba pergerakannya terhenti. Ketika menyadari bahwa pria yang di bicarakan oleh Nisya memiliki nama belakang Wisesa. Nama belakang yang sama dengan Ruksa.


Apa mungkin, perempuan itu juga ikut terlibat?


Tapi rasanya tidak mungkin, sebab perempuan itu juga ikut dalam pencarian Nisya selama ini. Atau jangan-jangan dia sengaja menyembunyikannya? Haruskah Ruslan bertanya langsung pada perempuan itu secara langsung?


Tanpa sadar, cahaya mentari telah terbit dari timur.


Oekk~ Oek~ Oek.


Tiba-tiba tangisan bayi itu terdengar dari dalam membuat Ruslan tersadar dan sedikit kebingungan.


Mengingat kembali kejadian itu membuatnya malu.


Oek~ Oek~ Oek~


Tangis itu kembali terdengar, membuat Dahi Ruslan mengernyit. " Apa yang di lakukan oleh Nisya? Kenapa dia membiarkan anaknya terus menangis seperti itu? " gumamnya


oeek~ oeeek~ oeeeek~ Bayi itu terus menangis bahkan kali ini tangisnya terdengar sangat kesakitan.


Ruslan yang penasaran pun langsung memutuskan untuk masuk kedalam, namun di detik berikutnya ia menjadi kebingungan. Sebab tak menemukan Nisya di mana pun, yang ada di dalam ruangan itu hanyalah seorang bayi yang tengah menangis kelaparan.


Karena tak tega, Ruslan pun memangku bayi itu dan menenangkannya. Akan tetapi bayi itu terus menangis, sebab bayi itu tengah kelaparan dan membutuhkan asupan ASI sekarang juga.

__ADS_1


Tanpa sadar ia mengacak kepalanya, bingung harus berbuat apa, hingga tatapannya mendarat pada sebotol Asi yang berada berada di atas nakas.


Tanpa berpikir panjang, Ruslan pun mengambil sebotol Asi itu dan memberikannya pada bayi itu hingga membuat si bayi menjadi tenang.


Akan tetapi, tak lama kemudian ia meliah secarik kertas yang tergelak di lantai, ia pun mengambilnya dan membacanya, seketika kedua bola matanya terbelalak membaca isi surat itu.


Untuk Ruslan.


Karena waktu gue mepet jadi gue persingkat saja.


...Sama hal nya dengan gue yang harus menanggung kesalahan Ayah lo, sekarang giliran lo yang harus menanggungnya. Jaga, rawat dan besarkan putri gue dengan baik. Gue yakin, lo pasti bisa membesarkan dia dengan baik. Anggap saja ini penebusan dosa dari Ayah lo...


...Lagi pula dia adalah ponakan lo juga, jadi gue harap lo bisa membahagiakannya....


...Lo tenang aja, kepergian gue bukan untuk balas dendam sama keluarga lo kok, karena gue tahu, balas dendam itu tak akan memiliki akhir yang bahagia. Maka dari itu gue hanya bisa minta sama lo buat jagain putri gue...


...Ah dan satu hal lagi, jika bisa jangan biarkan putri gue tahu siapa kakek dia? Dan yang terpenting, jangan biarkan keluarga Wisesa mengambilnya lagi, karena gue takut, bukannya kebahagiaan yang di dapat tapi melainkan kesengsaraan....


Dari Nisya


Tangan Ruslan gemetar memegangi secarik kertas itu. Kedua matanya berkaca-kaca.


Seraya membawa bayi yang masih di tangannya, ia berlari keluar dan mencoba mencari keberadaan Nisya.


Akan tetapi, tak jauh dari tempatnya berdiri, terlihat sekelompok orang yang tengah memutari sesuatu. Awalnya Ruslan tak terlalu memperdulikannya. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti, ketika dirinya tak sengaja menangkap sosok yang terasa tak asing dengannya.


Mungkinkah?


Untuk memastikan, ia pun berjalan menghampiri dan mendekati.


Saat mendekat, kedua bola matanya terbeliak, ketika melihat jasad Nisya yang sudah terbujur kaku seraya memeluk bayi lain.

__ADS_1


Mungkin itu adalah upaya satu-satunya untuk membuat kehidupan putrinya menjadi lebih baik. Sekaligus menghapus jejaknya agar putrinya tidak menderita di masa depan.


Namun tetap saja, kenapa wanita itu harus memilih mati? Kenapa dia tak mendiskusikannya terlebih dahulu? Apa dia sangat tidak mempercayai dirinya? Atau mungkin ini adalah satu-satunya cara dia balas dendam terhadapnya.


__ADS_2