Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
107


__ADS_3

" Mau kemana? "


Tubuh Ruksa seketika membeku, perlahan, ia membalikkan tubuhnya, seketika kedua bola matanya terbeliak, mendapati Ruslan yang tengah berdiri di belakang punggungnya dengan kedua tangan yang di lipat di depan dada. Raut wajahnya terlihat datar namun sorot matanya terlihat bahwa pria itu tengah marah


" Aku. . . Hanya . . . Ayah kenapa ada di sini? Belum tidur? Hehehe. " Tanyanya sembari mengalihkan pembicaraan, akan tetapi, sepertinya usahanya gagal, sebab pria di depannya ini tidak bergeming sedikit pun, tanpa sadar tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Ayah tanya, mau kemana kamu malam-malam begini? " tanya Ruslan kembali.


" A-a-aku. . . . hanya ingin. . . Ingin. . . ingin. . . .


" Menemui Ruksa Wisesa. " Sela Ruslan dengan raut wajah datarnya.


Seketika, tubuhnya kembali membeku kepalanya mendongkak dengan raut wajah terkejutnya, membuat Ruslan menyadari bahwa dugaannya tepat sasaran.


' Bagaimana bisa Ruslan tahu? Apa jangan-jangan, dia sudah menyadarinya sejak dulu? '' Batin Ruksa.


Kini Ruksa yang sudah tertangkap basah, terpaksa harus tertahan di ruang tengah, disebrangnya, Ruslan terduduk dengan raut wajah mengintimidasi.


Keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuh Ruksa, ia merasa seperti tengah berada di ruang interogasi.

__ADS_1


Ia hanya bisa menundukkan kepalanya sembari mengigiti bibir bawahnya, berpikir bagaimana caranya ia lolos dari pria di depannya ini?


Di balik saku bajunya, ponselnya terus bergetar berulang kali, Ruksa yakini bahwa itu adalah panggilan dari Dania.


Padahal, dirinya ada hal penting yang harus dibicarakannya dengan Dania pasal keberadaan Ayahnya, namun dirinya malah terjebak di kondisi seperti ini, terjebak diantara perasaan canggung dan hening, sepertinya dewa keberuntungan sedang tidak berpihak padanya saat ini.


" Apa kamu tak tahu jam berapa sekarang? " tanya Ruslan yang memecah keheningan.


Ruksa terdiam menunduk, memainkan ke sepuluh jarinya. Tak berani mengangkat kepalanya bahkan untuk satu milimeter saja.


" Dania, Ayah bertanya padamu?" Tanya Ruslan kembali.


Tapi di sisi lain, Ruslan yang melihat bungkamnya putrinya, menghela nafasnya dengan kasar. Kedua matanya kembali menatap gadis di depannya, ia kemudian menarik dan menghembuskan nafasnya secara perlahan dengan mata tertutup, mencoba menenangkan diri, agar amarahnya tak hilang kendali.


Di rasa sudah tenang, ia membuka kedua matanya sembari bertanya dengan lembut.


" Bukankah Ayah sudah memperingatkan mu untuk tidak menemui wanita itu . . . dan juga Rusdi. "


Kedua bola Ruksa seketika terbeliak, setelah mendengar nama Rusdi di sebut, bagaimana dia bisa tahu? pikir Ruksa.

__ADS_1


Melihat respon putrinya seperti itu membuat Ruslan terdiam sesaat.


" Kamu pikir Ayah tak tahu, bahwa kalian berdua sering menghabiskan waktu bersama, kamu bahkan menamai nomor paman mu dengan nama kucing jalanan agar Ayah tak curiga. " tambahnya.


" Soal itu aku meminta maaf, sebab dia sendiri yang minta ku untuk merahasiakannya dari Ayah, sebab dia takut jika Ayah akan mencopot kepalanya dari badannya.


Mendengar jawaban tersebut, membuat salah satu alis Ruslan berkedut, kedua tangannya mengepal, ingin rasanya ia meninju wajah adiknya itu.


Bagaimana bisa, pria itu menggambarkan dirinya sesadis itu, apa di matanya, dirinya ini adalah seorang gigolo?


" Dan kamu mempercayainya, kamu pikir Ayah mu ini tukang jagal? " timpal Ruslan tak terima.


" Bukan seperti itu hanya saja. . . .


" Lupakan tentang Rusdi, yang penting sekarang, kenapa kamu ingin menemui Ruksa? Apa yang ingin kalian bicarakan malam-malam seperti ini? Dan juga. . . Apa kamu benar-benar Dania putri ku? "


Pertanyaan Ruslan membuat Ruksa langsung tertohok, ia tak pernah menduga bahwa pria itu akan bertanya seperti itu padanya. Kepalanya kembali menunduk, mungkinkah pria itu menyadarinya?


Di dalam hati, ia mengutuk dirinya sendiri akan kebodohan yang dilakukannnya, Dirinya terlalu meremehkan pria itu karena sikapnya yang acuh gak acuh, seperti tak peduli sam sekali. Tapi ternyata, pria itu ternyata, diam-diam memperhatikan setiap gerak gerik langkahnya

__ADS_1


__ADS_2