
Setelah mengurus surat-surat kepindahannya, Aldan pun diantarkan oleh seorang guru laki-laki bernama Pak Adam. Awalnya kakeknya ingin mengantarkannya sampai ke kelas, namun ia menolaknya dengan keras. Dan mengancam lebih baik dirinya putus sekolah dari pada harus menanggung malu seumur hidup.
Aldan pun langsung berbalik, tanpa menggubris permintaan sang kakek yang tetap ingin mengantarnya sampai ke kelas.
Selama perjalanannya menuju kelas, ada puluhan pasang mata yang mengarah padanya, meski tubuhnya saat ini masih sangat kurus, namun seragam yang di lengkapi blazer itu menutupinya bobot tubuhnya dengan sempurna. Membuat tubuhnya terlihat lebih berisi.
Sesuai dengan keinginannya yang ingin berada satu kelas dengan Dania. Pak Adam pun langsung menuntunnya pada sebuah kelas yang terletak cukup jauh dari ruang kepala sekolah, namun lumayan dekat dengan kantin.
Tok! Tok! Tok!
" Maaf pak Wiro saya mengganggu waktu asnda sebentar, ini saya membawakan murid baru untuk kelas ini. " Ucap Pak Adam dengan nada lemah lembut.
Pria yang di sebut Pak Wiro pun langsung menghentikan sejenak aktivitasnya, ia pun berjalan menghampiri Pak Adam lalu menganggukkan kepalanya.
Setelah serah terima itu, Pak Adam pun undur diri untuk melanjutkan kembali aktivitasnya.
" Anak-anak, mohon waktunya sebentar, kali ini kita kedatangan anak baru di kelas kalian. " Seru Pak Wiro
Seketika seluruh siswa dan siswi yang berada di dalam kelas pun langsung menghentikan aktivitasnya, mereka menolehkan kepalanya mereka ke arah sang guru.
" Nak Aldan, ayo masuk. "
Aldan pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam, ia pun langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas mencari sosok yang di carinya. Hingga tak lama kemudian tatapan jatuh pada seorang perempuan yang duduk di pojokan paling belakang.
Keduanya saling bertukar tatapan.
Kedua sudut bibir Aldan terangkat ke atas, ia pun langsung melambaikan tangannya pada Dania, membuat seisi kelas mengikuti arah pandangnya.
Seketika semua siswi yang berada di dalam kelas itu langsung melemparkan menatap tatapan iri terhadap Dania, termasuk Laila yang notabenya telah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Aldan, di dalam hatinya ia tak berhenti mengumpat.
' Sebenarnya guna-guna apa yang di gunakan perempuan itu? Padahal wajahnya jauh dari kata cantik, tapi semua laki-laki tampan selalu berlari ke arahnya. Awas saja, kali ini aku tak akan membiarkan laki-laki itu jatuh dalam tipu muslihat perempuan itu. ' Batin Laila, tangannya menggenggam erat bolpoin hingga patah menjadi dua bagian, Queensha yang melihat tersebut langsung menyunggingkan bibirnya.
Sedangkan Ruksa yang di tatap seperti itu merasa risih, ia pun memilih memalingkan wajah dari pada di tatap seperti itu, termasuk Laila yang menatapnya seperti seekor predator yang siap menerkamnya kapan saja.
Plok! Plok! Plok!
" Anak-anak tolong perhatiannya. " seru kembali Pak Wiro. lalu menoleh pada Aldan, menyuruhnya untuk mengenalkan diri.
__ADS_1
" Halo teman-teman, perkenalkan nama ku Aldan, mohon bantuannya. " ujarnya dengan singkat.
" Sudah? " tanya Pak Wiro.
" Sudah pak. "
Pak Wiro pun mengerjapkan kedua matanya, ia tak mengira bahwa perkenalan itu akan terasa singkat.
Ternyata rumor itu benar, bahwa murid baru yang akan datang itu sangat irit berbicara. Dia bahkan menolak menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh beberapa siswi di sana.
Tak ingin membuat suasana kelasnya terjebak perasaan canggung, Pak Wiro pun langsung menyuruh Aldan duduk, tapi ia terlebih dahulu memberi tahu semua siswa dan siswi di kelas itu untuk tidak bersikap berlebihan yang bisa membuat sang murid baru kelelahan. Karena di ketahui bahwa dia masih dalam proses penyembuhan.
" Kalau begitu, kamu bisa duduk di samping Dania. " titahnya
Aldan pun menganggukkan kepalanya, lalu berjalan ke arah Dania dengan senyuman yang tak pernah luntur.
Semua siswi di sana begitu terpana dengan aura kharisma yang memancar dari dalam tubuh Aldan.
" Hai. " Sapa Aldan seraya menarik kursi.
" Lo mau ngapain ke sini? Bukannya lo masih harus di rawat yah? "
" Iya belajarlah, ngapain lagi? Siapa bilang gue harus di rawat lebih lama, merekanya saja yang terlalu berlebihan. Gue ini sudah sembuh total seratus persen. " Ungkapnya yakin.
Dahi Ruksa pun mengernyit, ia pun dengan jahil menusuk pelan perut Aldan menggunakan bolpoin di tangannya hingga membuat laki-laki itu meringis pelan.
" Katanya sembuh total. "
Salah satu alis Aldan pun berkedut. " Lo tuh yah. . .
" Apa? "
" Tolong yang di belakang harap tenang! " seru Pak Wiro. " Dania! bukankah tadi saya sudah katakan untuk tidak membuat teman kita kelelahan? "
" Maafkan saya pak " Ucap Ruksa dengan rasa menyesal.
Aldan yang melihat tersebut, terkekeh pelan.
__ADS_1
Keduanya pun kembali terdiam dan memilih fokus pada pelajaran.
Tapi nyatanya, Ruksa seorang yang tak bisa fokus pada pelajaran, ia tak henti-hentinya menatap Aldan dengan tatapan cemas, pasalnya Ruksa tahu bahwa laki-laki itu seharusnya masih di rawat inap, mengingat luka yang di deritanya cukup berat.
Bukan berati dirinya cemas pada kesehatan laki-laki itu, tapi ia tak ingin menjadi kambing hitam jika terjadi sesuatu.
" Kalau lo natap gue seperti itu terus, seisi kelas ini bakalan mengira kalau lo suka sama gue. " Aldan tiba-tiba berkata tanpa menoleh.
Tapi Ruksa tak menggubris pernyataan itu, ia malah semakin menatap laki-laki itu dengan tatapan intens.
Merasa jengah terus di tatap seperti itu, Aldan pun menghentikan aktivitas menulisnya, lalu menatap balik pada perempuan di sampingnya." Apa? Kenapa? "
" Lo nggak apa-apa? "
Aldan pun mendengus." Seharusnya gue yang nanya, lo kenapa menatap gue kayak itu? " tanya balik Aldan.
" Ya habis lo kan . .
" Dania! " teriak Pak Wiro.
Tubuh Ruksa pun tersentak. " Iya pak. "
Guru itu pun mendengus seraya menutup buku pelajaran di tangannya dengan kasar, ia kemudian melemparkan tatapan tak suka pada Ruksa.
Seketika suasana kelas pun berubah menjadi mencekam, semua para siswa dan siswi pun mengunci rapat-rapat mulut mereka.
Pak Wiro merupakan salah satu guru killer yang sangat terkenal di seluruh sekolah, pria itu tak segan-segan memberi nilai F pada salah satu muridnya, jika sang murid tak menuruti perkataannya. Tapi murid yang paling di bencinya adalah murid penerima beasiswa, sebab ia berpendapat, bahwa seorang murid beasiswa tak pantas berada di sekolah elite ini.
Sebab, baginya sekolah ini merupakan sekolah yang memiliki martabat tinggi yang seharusnya di isi oleh murid yang memiliki darah Biru.
Saat insiden yang pernah ramai kala itu, ia pun langsung meminta pihak sekolah untuk mengeluarkan Dania.
Namun, karena pihak sekolah yang harus menjaga citra mereka, langsung menolak usulan Pak Wiro.
Sejak saat itu, dirinya tak segan-segan menunjukkan sikap ketidaksukaannya pada semua murid penerima beasiswa.
Kerap kali dirinya membandingkan murid berdarah birunya untuk menekan para murid beasiswa. Alhasil banyak yang tidak kuat dan memutuskan untuk pindah sekolah
__ADS_1