Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
29


__ADS_3

Mikael pov


Saat ini Mikael tak mengerti dengan dirinya yang sekarang, rasanya ia tak mengenali jati dirinya yang sekarang. menatap bayangan wajahnya yang masih memerah akibat perkataan Dania tadi. Bahkan jantungnya masih berdegup kencang.


Apa yang salah dengan dirinya? Kenapa jantungnya selalu berdegup kencang setiap kali dirinya berada di sisi Dania. Tak hanya itu, terkadang ia teringat akan wajahnya.


Perkataan Dania tentang tubuhnya masih terngiang-ngiang jelas di dalam kepalanya.


Apa dia sengaja melakukannya?


Bukankah tak adil membuatnya terus-terusan seperti ini?


Padahal penampilannya biasa saja, jika di bandingkan dengan mantannya. Perempuan itu sangat lah berbanding jauh.


Meski ia tak bisa di pungkiri bahwa Dania memiliki porsi tubuh yang bagus di bandingkan tubuh Queensha yang terbilang sangat kurus tak berisi.


Plak! EL menampar wajahnya sendiri, mengembalikannya dari pikiran kotor.


" EL, ada dengan mu, tolong sadarkan dirimu. " gumamnya.


Ini semua berasal dari kejadian malam itu, kejadian yang akhirnya membuatnya menjadi kacau seperti ini, sudah ada empat rapat penting yang sudah dikacaukan oleh perbuatannya.


Aneh? Padahal saat berpacaran dengan Queensha, ia tak pernah merasakan yang kacau seperti ini.


Apa mungkin karena saat itu dirinya memang tak pernah menaruh hati pada Queensha?


Ia pun mengingat kembali kejadian bagaimana dirinya bisa menjalin hubungan dengan Queensha,


Pada waktu Itu Queensha yang gigih mengejarnya tiba-tiba mengalami kecelakaan karena berusaha memberikannya sebotol air setelah pertandingan basketnya baru saja usai.


Kedua lutut perempuan itu berdarah, EL yang merasa kasihan dan tak tega memutuskan untuk menerimanya.


Namun ia menyesali keputusannya waktu itu, sebab, lama kelamaan, sikap Queensha terhadapnya membuatnya tak nyaman dan juga risih. Apalagi sikap posesifnya yang selalu menaruh curiga dengan semua aktivitas yang di dalamnya ada perempuan lain.


Bahkan Queensha pernah menampar seorang perempuan yang merupakan atlit senior yang sangat di kagumi oleh Mikael.


Karena perbuatannya itu membuatnya harus menanggung malu dan akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan itu.


Kendati begitu, perempuan itu masih terus mengejarnya tanpa henti.


Jika di pikir kembali, dirinya seharusnya berterima kasih pada Dania, karena berkat video itu, akhirnya ia tak perlu bertemu atau pun menghindar tat kala berpapasan dengan Queensha.


Saat mengetahui berita itu, dirinya tak heran lagi. Tapi ia tak pernah menyangka bahwa dia akan sejahat itu. Untung saja dirinya saat itu membuat keputusan yang tepat dengan memutuskan hubungannya dengan Queensha.


Jika tidak? Ia tak tahu hal menakutkan apa yang akan menimpanya.

__ADS_1


Ia pun kembali menatap bayangannya di dalam cermin dan mengingat kembali kejadian di dalam kamar mandi tadi, saat tubuh telanjangnya yang masih basah saling menempel dengan tubuh Dania yang masih mengenakan seragam.


Keduanya saling berhimpitan di ruangan kecil itu, aroma keringat menusuk indra penciumannya, namun anehnya aroma itu tak membuat EL merasa jijik melainkan ia merasakan sesuatu yang mendesak di bawah sana.


Rona merah pun kembali menjalar ke kedua pipinya dengan suhu tubuh yang memulai memanas.


EL pun berusaha menenangkan diri dengan menarik dan menghembuskan nafasnya berulang kali, berharap bisa membantu menenangkan syaraf-syarafnya yang menegang.


Tring! Tring! Tring!


Tiba-tiba ponselnya terus berbunyi, menandakan bahwa beberapa pesan teks terus masuk ke dalam ponselnya


EL pun meraih benda pipih itu, dan melihat siapa orang iseng yang mengiriminya banyak pesan teks.


Seketika ia mengernyitkan dahinya ketika mengetahui siapa orang di balik pesan teks itu.


^^^Hai^^^


^^^Ini Aku, Queensha.^^^


^^^Lagi apa?^^^


^^^Sibuk yah.^^^


^^^Ketemu yuk? Kita ngedate^^^


Seketika suasana hati EL berubah menjadi buruk, ia pun membanting ponselnya sembarangan. Tangannya mengusap kepalanya dengan gusar.


Bagaimana bisa perempuan itu selalu mendapatkan no teleponnya yang baru?


Apa dia menyimpan seorang mata-mata di dalam osis untuk memata-matai?


Sampai kapan perempuan itu akan mengganggunya terus menerus seperti ini?


Apa dia tidak pernah tahu apa itu kata putus?


Bukankah dirinya waktu itu sudah menjelaskan bahwa hubungan mereka telah berakhir? Tapi Kenapa perempuan ini masih terus mengejarnya?


EL pun mengusak rambut kepalanya dengan frustasi.


Queensha pov


Di sisi lain, Queensha terus berjalan mondar mandir dengan perasaan gelisah, menunggu balasan pesan teks dari pria yang di sukainya.


Namun sudah satu jam ia menunggu balasan dari laki-laki itu, tapi balasan itu tak kunjung datang.

__ADS_1


" Apa dia mengabaikan ku lagi? " gumamnya. " Argh semua ini gara-gara cewek cupu sialan itu, jika bukan karena dia, hubungan gue dan EL pasti nggak bakalan berakhir seperti ini. Apalagi semakin hari sikapnya semakin dingin sama gue. "


Tangannya menggenggam dengan erat ponsel itu lalu membanting ponselnya, ia berteriak frustasi seraya menarik rambutnya dengan kasar.


Nafasnya memburu dengan kedua mata yang memerah.


Ia pun mengambil ponsel baru di laci dan menghubungi ayahnya untuk memasukkannya kembali ke sekolah. Lagi pula gosip itu sudah mereda dan di gantikan dengan kasus pembunuhan berantai, jadi ia bisa memulai kembali aktivitas sekolahnya seperti dulu.


Queensha pun menyunggingkan bibirnya. " Besok, kita akan bertemu lagi Dania. "


Ruksa pov


Hatcim!! Tiba-tiba hidung Ruksa terasa sangat gatal, puncak hidungnya berubah jadi merah


" Ada apa? "


" Bukan apa-apa mungkin hawanya sedang dingin. "


" Dingin? " wanita itu menengadahkan kepalanya, melihat langit yang biru cerah, dengan sinar matahari yang begitu terik, ia menolehkan kepalanya dan melihat orang-orang yang hampir semua memakai baju terbuka termasuk dirinya.


wanita itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Kenapa? Apa ada sesuatu? " tanya Ruksa.


Wanita itu terdiam, terlihat seperti tengah merangkai kata-kata yang pas untuk di ucapkan. Ruksa pun hanya sabar menunggu jawaban dari wanita itu.


Hingga tak lama kemudian ia pun akhirnya berbicara dan menyuarakan protes tentang hawa dingin yang di bicarakan oleh Ruksa.


Ruksa pun hanya memutar bola matanya dengan malas, jika bukan karena kemampuannya dalam mencari seseorang. Dirinya mungkin sudah melempar gelas itu ke wajahnya


" Bisakah kita tak membahas itu, aku sedang buru-buru. "


Brak!!


" Kamu pikir aku tidak sibuk? Jika bukan karena Ismail yang meminta ku untuk membantumu aku tak akan sudi berada di sini dengan mu, dan kamu mengatakan seperti itu seakan-akan aku yang telah membuang waktu. "


" Maaf, gu- aku tak bermaksud, Mau permen? " tawarnya.


Wanita berkucir dua itu mendengus seraya mengatakan bahwa dirinya tak semudah itu mendapatkan sogokan. Meski begitu wanita itu tetap mengambil permen di tangan Ruksa dan langsung memakannya.


" Aku sarankan untuk tidak berhubungan dengan mereka. " Ujarnya tiba-tiba.


" Kenapa? "


" Kamu ini masih anak sekolah, lebih baik gunakan waktu mu untuk belajar dari pada menyia-nyiakan waktumu. "

__ADS_1


__ADS_2