
Untuk pertama kalinya, Ruslan memangku seorang bayi yang baru lahir, kulitnya yang masih kenyal serta tulangnya yang masih rapuh, membuatnya harus ekstra berhati-hati.
Tanpa sadar Kedua sudut bibir Ruslan terangkat ke atas, ia tak pernah sesenang ini dan sedamai ini, padahal dirinya tengah-tengah berada di sebuah bangunan apartemen terbengkalai. Lebih tepatnya ia berada di basecamp pribadinya, tempat ini merupakan tempat paling rahasia yang sengaja ia tak beri tahu pada siapapun termasuk Ruksa dan Nisya.
Tempat itu ia gunakan sebagai merenungkan diri, meski jauh dari kata mewah, namun tempat ini mampu mendamaikan pikirannya di kala sedang rumit.
" Kalau gue boleh tahu siapa ayahnya? " Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Ruslan, dan tanpa sadar membuat wanita di sampingnya terlonjak kaget.
Nisya pun terdiam, tangannya meremas ujung pakaiannya. Kepalanya menunduk menatap kedua kakinya.
Seketika, Ruslan pun merasa bersalah, ia mengatakan bahwa Nisya tak perlu mengatakannya jika memang tak ingin. Sebagai gantinya, dia harus menceritakan alasan dari kepergiaannya yang secara tiba-tiba itu.
Tapi, bukannya membuka mulut, Nisya malah menggigit bibir bawahnya, dan tatapan menjadi gelap.
Ruslan yang melihat reaksi dari wanita di sampingnya hanya bisa menghela nafas.
" Kalau lo ngira gue ini cenayang, lo salah besar. Sebab gue nggak bisa membaca pikiran orang lain. " Ruslan berkata.
Nisya pun menoleh. " Gue juga tahu kali, cuman gue nggak tahu gimana caranya buat cerita ke lo, soalnya ini ada kaitannya sama keluarga lo. "
Kedua alis Ruslan mengerut, di detik berikutnya salah satu alisnya terangkat ke atas sebelah. " Maksud lo? "
" Sebenarnya, alasan kepergian gue ini semuanya karena Ayah lo yang meminjam uang ke bank atas nama Papi. "
" Jangan bercanda, bokap gue nggak mungkin melakukan hal itu. Gue nggak percaya. "
" Lihat? Lo bahkan nggak mempercayai omongan gue, apa gue perlu membawa surat hutang yang ada tanda tangan bokap lo agar lo percaya sama gue? "
Ruslan pun terdiam sejenak, di sisi lain dirinya sungguh tak percaya dengan apa yang di lakukan ayahnya, akan tetapi, melihat raut wajah Nisya yang serius, membuatnya menjadi ragu.
__ADS_1
" Nggak mungkin. " gumamnya.
" Percaya atau nggak, itu terserah lo. " Ucap Nisya. " Lo nggak harus tahu bagaimana gue menjalani kehidupan bagaikan di neraka setiap hari seorang diri? Perlu lo tahu bahwa Mami dan Papi sudah tidak ada. "
Kedua bola mata Ruslan terbeliak, ia begitu terkejut mendapat berita itu. " Kapan? "
" Beberapa bulan yang lalu. " timpalnya.
Kedua tangan Nisya pun mengepal dengan erat, air matanya mengalir begitu saja membasahi di kedua pipinya. Hatinya begitu sakit, ketika mengingat bagaimana kedua orang tuanya di pukuli hingga babak belur dan tak berdaya. Sedangkan kedua tangannya di cengkram dengan kuat oleh dua pria asing, ia menyaksikan kedua orang tuanya yang hampir sekarat dengan kedua matanya sendiri.
Alasan keduanya di pukuli seperti itu, karena mereka menolak kepemilikan hutang itu.
Tak kuat menahan luka yang terus di terima, mereka pun memutuskan, menodongkan pistol ke arah kepala mereka, lalu menarik pelatuk itu . ..
Dor!
Peluru itu pun menembus kepala kedua tepat di depan kedua mata Nisya.
Seakan mengiringi rasa kepedihannya, langit pun menurunkan hujan deras, Nisya pun memberontak, ia berlari ke arah tempat kedua jasad Mami dan Papinya berada.
Kedua tangannya memeluk jasad kedua orang tuanya, ia berteriak sekuat tenaga, namun suaranya di redam oleh derasnya hujan.
Selepas itu, Nisya pun di paksa bekerja untuk melunasi hutang kedua orang tuanya. Dirinya di jual ke rumah bordil, tentunya ia menolak sekuat tenaga karena tak ingin melakukan pekerjaan kotor itu.
Akibat aksi penolakannya, setiap hari, dirinya selalu menerima pukulan oleh mucikari di sana karena beberapa kali membuat para pelanggan mereka melayangkan protes dan meminta uang kembali.
Rasanya ia ingin mengakhiri hidupnya saat itu juga, ia tak ingin lagi hidup, kenapa orang tuanya begitu tega membuatnya menanggung derita yang tak seharusnya ia tanggung?
Kenapa? Kenapa?! KENAPA?! Dunia begitu kejam terhadapnya.
__ADS_1
Selama satu bulan dirinya hidup bagaikan di neraka, hingga akhirnya ia memutuskan untuk melarikan diri.
Tentunya, semua rencananya tak berjalan sesuai rencananya, namun ia tak pernah menyerah, tapi berkat usahanya melarikan diri, dirinya masih bisa mempertahankan kesuciannya hingga saat ini.
Kali ini dirinya mendapat peringatan keras dari mucikari itu, jika dirinya kali ini membuat masalah lagi, maka mereka akan mengambil semua organ yang di milikinya.
Nisya pun meneguk salivanya, namun jika harus memilih dirinya lebih baik mati dari pada bekerja kotor seperti ini.
Namu untuk sementara dirinya harus berpura-pura ketakutan.
Saat ini dirinya kebetulan menerima seorang pelanggan dari luar, dan memintanya untuk mendatanginya, Nisya yang melihat sebuah peluang pun memutuskan untuk memanfaatkan sebaik mungkin momen itu, akan tetapi, ini akan terasa sulit baginya, sebab dirinya di kawal ketat oleh beberapa bodyguard.
Tapi bukan berarti dirinya tak memiliki ide sama sekali, di balik gaunnya yang terbuka, ia menyembunyikan pisau kecil, untuk di gunakan nanti jika rencananya gagal.
Sebelum memasuki kamar tamu sang VVIP berada, Nisya terlebih dahulu meminta para pengawal itu untuk izin ke kamar mandi. Meski di beri Izin, namun kedua pria itu terus mengikutinya bahkan mengikutinya sampai masuk ke dalam WC
Nisya yang jengah pun, menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap kedua pria itu
" Kenapa? Kalian mau lihat gue pipis ?! " Tanya Nisya seraya berkacak pinggang.
Kedua body guard itu pun saling bertukar pandang, lalu akhirnya memutuskan untuk mengijinkannya masuk ke wc seorang diri.
Di dalam kamar mandi, kedua mata Nisya menyusuri setiap sudut tempat itu, berharap menemukan celah untuk melarikan diri. Namun sayangnya, ia harus menelan pil kecewa sebab di sana tak ada sama sekali, membuatnya mulai putus asa, apalagi ketika kedua body guard itu mulai memukul pintu kamar mandi yang menyuruhnya untuk segera keluar.
" Apa yang harus aku lakukan? " gumamnya yang mulai panik, kedua kakinya bergerak secara gelisah. Otaknya mulai tak bisa memikirkan cara lain, dan rencana terakhirnya adalah dirinya harus menyerang kedua body guard itu.
Dengan mantap, ia pun mengambil pisau di balik bajunya, bersiap menyerang jika kedua pria itu menerobos masuk ke dalam.
Akan tetapi, secercah cahaya mulai muncul ketika seorang wanita paruh baya keluar dari salah satu toilet, wanita tua itu mengenakan pakaian cleaning servis.
__ADS_1
Seketika Nisya pun mulai tersenyum, dirinya sangat berterima kasih pada tuhan yang masih mau menolongnya