Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
58


__ADS_3

Setiap hari Nisya akan datang meminta dan memohon pada Ruslan untuk membantunya dan setiap harinya Ruslan pun menolaknya.


Ruslan tak habis pikir, kenapa perempuan itu begitu gigih ingin menjadikannya kekasih pura-pura, padahal jika itu satu orang dirinya bisa mengatasinya.


Namun, perempuan itu menolak jalur kekerasan, selain akan menimbulkan masalah yang tidak perlu, ia juga takut jika ada oknum polisi yang akan turun tangan, sebab pria itu merupakan anak dari seorang anggota DPR.


" Terus mau lo gimana? " Tanya Ruslan. " Jika lo tetep kekeuh sama rencana lo, bagaimana kalau dia nggak percaya? " .


" Setidaknya kita harus mencobanya lebih dulu. "


" Nggak! " timpal Ruslan dengan tegas, ia pun menaiki sepeda motornya lalu. membawanya melaju dengan cepat.


Kedua kaki Nisya pun ia hentakkan di atas tanah dengan raut wajah kesalnya, kedua matanya menatap tajam pada punggung pria itu yang sudah menjauh. Hingga di detik berikutnya ia menyunggingkan senyumnya.


*


Jam sudah menunjukan pukul dua siang di mana para siswa telah menyelesaikan belajar mengajarnya. Dengan raut wajah yang berseri, seluruh siswa berjalan keluar dari dalam kelas mereka masing-masing menuju gerbang kebebasan.


Begitu pula dengan Ruksa dan juga Ruslan, keduanya berjalan seraya bersenda gurau. Keduanya tertawa terbahak-bahak.


Hingga langkah kaki Ruslan tiba-tiba terhenti ketika melihat penampakan Nisya yang sudah menunggunya di depan gerbang. Tubuhnya mematung bak sebuah boneka kayu.


Ruksa yang menyadari sikap aneh dari temannya itu, ikut terhenti juga. Ia pun mengikuti kemana arah temannya itu menatap.


Namun, belum sempat melihat apa yang di lihat oleh temannya, tiba-tiba tangan Ruksa di tarik secara paksa oleh Ruslan, hingga membuatnya meringis kesakitan.


" Sakit woi! " teriak Ruksa seraya menghempaskan tangannya dengan kasar. " Lo kenapa sih? Aneh banget, Kayak habis lihat hantu aja. " ungkapnya seraya memegang pergelangan tangannya yang memerah.


Bukannya langsung menjawab, kedua mata Ruslan malah melihat ke arah sekeliling, memastikan bahwa Nisya tak membuntutinya.


Di rasa sudah aman, ia pun menghela nafasnya dengan lega.


" Lo kenapa sih? Aneh banget tahu nggak? " Tanya Ruksa kembali.


" Bukan apa-apa " Timpal Ruslan.


Kedua alis Ruksa pun mengernyit, kedua matanya menatap Ruslan dengan tatapan menyelidik. " Lo beneran nggak lagi di kejar hantu kan? " terkanya.


Ruslan pun terdiam sejenak. " Sebenarnya sih iya, gue akhir-akhir ini lagi di ikutin sama hantu cewek sekolah. "


" Serius?! "


" Serius. " timpalnya dengan raut wajah yang meyakinkan.

__ADS_1


" Emang hantu ada? "


" Iya ada lah, masa nggak ada. "


" Terus hantunya mana? "


" Hantunya udah nggak ada sekarang. "


Kedua mata Ruksa menyipit. " Lo nggak lagi ngerjain gue kan? " tanyanya untuk memastikan.


" Mana berani, gue nggak mau maung yang ada dalam diri lo lepas. " guraunya.


" Sialan lo, memangnya gue apaan. "


Ruslan pun terkekeh geli melihat ekspresi dari Ruksa.


Namun, berbeda dengan Ruksa yang merasa sedang di permainkan, ia pun meraih leher pria itu dan menghimpitnya di antara kedua tangannya.


Pada akhirnya keduanya saling tertawa, hingga tiba-tiba tawa Ruslan terhenti.


Secara kompak, keduanya menatap seorang perempuan yang tengah ter duduk di atas sepeda motor Ruslan dengan anteng seraya memakan permen.


" Hai, " sapa Nisya dengan ramah.


"Dia. . . .


" Aku Nisya, pacarnya Ruslan.. "


" Bukan!. " pungkas Ruslan dengan rau paniknya, ia pun berjalan menghampiri seraya menarik gadis itu menjauh dari Ruksa.


" Lo ngapain sih datang ke sekolah gue?! Dan juga barusan lo kenapa berkata seperti itu? Apa lagi di sana ada Ruksa." Marah Ruslan.


Kepala Nisya pun tertunduk seraya melontarkan kata maaf.


Seketika, Ruslan pun menjadi gemas sendiri, kedua tangannya mengacak rambutnya frustasi. " Denger, gue pasti bakal bantuin lo. Tapi nggak gini caranya. Lo bisa nggak sih nggak bersikap egois?! Di dunia ini nggak cuman lo doang yang punya banyak masalah! "


Nisya pun semakin menundukkan kepalanya, tanpa sadar perempuan itu meneteskan air matanya, dan meninggalkan Ruslan dengan perasaan bersalahnya


Sejak saat itu, Ruslan menyesali perkataannya, sebab esok paginya wanita itu menghilang bersama keluarganya, bagaikan di telan bumi.


Ruslan yang merasa bersalah pun, mencoba mencari keberadaan dari Nisya, ia pun terus mencari dan terus mencari bahkan membuatnya setengah gila.


Pasalnya ia merasa bersalah karena mengatakan perkataan buruk pada temannya itu.

__ADS_1


Ia pun mencoba menggali informasi dari Bismo, namun pria itu terlihat sangat tak menyukainya bahkan enggan memberinya informasi.


Merasa sangat kesal, ia pun melayangkan tinjunya pada wajah Bismo hingga membuat wajah laki-laki itu babak belur.


Tentunya, kejadian itu mengantarkannya pada jeruji besi.


Namun, karena keluarga Ruslan juga memiliki koneksi, membuat dirinya tak perlu waktu lama untuk mendekam di sel itu.


Ruksa yang pertama kali melihat pria itu hancur membuatnya ikut sedih, ia pun mencoba membantu mencari namun hasilnya tetap nihil.


Dua bulan pun berlalu dengan sangat cepat, Baik Ruslan maupun Ruksa, keduanya tak mampu menemukan keberadaan Nisya.


Pada akhirnya, Ruslan pun pasrah seraya berharap bahwa wanita itu memiliki kehidupan yang baik.


Kini kondisinya sudah membaik dari sebelumnya, perlahan, Ruslan pun kembali ke sosoknya yang dulu.


Bulan pun terus berganti bulan, hingga pada akhirnya Ruksa dan Ruslan pun telah di nyatakan lulus dari bangku menengah.


Namun, tiba-tiba Ayah Ruslan di pindah tugaskan ke luar negeri. Dan sebagai orang tua yang bertanggung jawab, Ayah dan Ibu Ruslan pun memintanya untuk ikut dan mengambil kuliah di luar negeri.


Karena, tak bisa menolak, Ruslan pun menyetujui permintaan kedua orang tuanya, namun sebelum keberangkatannya, ia harus menyatakan cintanya terlebih dahulu.


Dengan pakaian yang super duper rapih, serta rambut yang ia sudah ia bentuk dengan susah payah.


Ruslan pun bersiap untuk menemui sang tambatan hati, ia pun membawa laju kendaraanya dengan kecepatan cukup cepat.


Saat dirinya dan kendaraan bermotornya hendak berbelok, tiba-tiba muncul seorang wanita yang baru saja keluar dari hutan, karena tak bisa menahan laju kendaraanya akhirnya Ruslan pun memilih banting stir.


Untungnya dirinya hanya mendapat luka lecet saja di beberapa bagian tubuh, tapi tetap saja dirinya merasa kesal pada wanita itu yang menyebrang jalan dengan ceroboh, dan berkat kecerobohan wanita itu membuat penampilan yang sudah susah payah ia bentuk, kini telah hancur sudah.


Ia pun berjalan menghampiri wanita itu yang tengah terduduk di atas aspal dengan memeluk seorang bayi di tangannya.


Yang tadinya ingin memarahi, tak jadi dilakukan oleh Ruslan sebab ia tak tega melihat kondisi wanita itu yang terlihat memprihatinkan, jika di selidik lagi, tampaknya perempuan itu baru saja melahirkan seorang bayi.


" Anda tidak apa-apa Nona? " Ruslan bertanya seraya mengulurkan tangannya.


Wanita itu pun terlihat ketakutan, namun di detik berikutnya ia menerima uluran tangan itu, seraya mendongakkan kepalanya.


Namun alangkah terkejut,


Kedua bola mata mereka terbeliak secara bersamaan.


" Ruslan? "

__ADS_1


" Nisya? "


__ADS_2