Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
87


__ADS_3

Setelah Tari pergi, toko Ruslan kembali sepi, karena memang akhir-akhir ini bisnisnya sedang tidak begitu lancar seperti sebelumnya, tentunya hal ini sebabkan oleh insiden yang menusuknya waktu lalu.


Meski kejadian itu sudah berlalu dan pos keamanan sudah meningkatkan penjagaan mereka, namun untuk beberapa pelanggan yang memiliki fobia, mereka memilih untuk menghindari daerah itu sebelum para pelaku di tangkap semuanya.


Mereka takut, jika sesuatu buruk bisa menimpanya kapan saja.


Kendati begitu, Ruslan selalu bersyukur bahwa dirinya masih bisa mendapatkan pelanggan walau pun tak sebanyak biasanya.


Dirinya termenung, lalu menolehkan Kepalanya ke arah jam dinding, dan tak terasa satu jam telah berlalu sejak kepergian Tari, tangannya merogoh saku celananya, mengambil benda pipih yang ada di dalam saku itu.


Tubuhnya kembali termenung sejenak dengan dahi yang mengernyit, meski ibu jarinya terus membuka tutup aplikasi Chatting, tapi tak ada satu pun pesan masuk dari putrinya.


Ia kemudian berdecak, dengan salah satu tangannya yang berada di pinggang, di detik berikutnya ibu jarinya mengetik beberapa huruf dan mengirimkannya pada putrinya.


Akan tetapi, pesan yang di kirimnya tidak terkirim, dahinya mengernyit, ia kemudian memutuskan untuk melakukan panggilan.


Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi, you number. . .


Ruslan pun langsung menutup panggilan itu, perasaan gelisah kembali menyelimuti perasaannya. Tapi sebisa mungkin, ia harus bersikap dengan tenang.


Ia pun kembali mencobanya memanggil nomor itu beberapa kali, tapi hasilnya nihil.


' Apa mungkin Dania lupa mengisi baterai ponselnya? ' Batin Ruslan.


Tak ingin terus bergelut dengan pikirannya, Ruslan pun memutuskan untuk menutup toko lebih awal lalu pulang ke rumah, berharap, bahwa putrinya sudah pulang ke rumah.


" Loh, Rus udah tutup? Padahal Bapak mau beli. "


" Maaf pak, saya lagi buru-buru. " Timpal Ruslan yang kemudian menaiki kendaraan roda duanya untuk bergegas pulang.


Setibanya di rumah, secara spontan, tangannya menarik rambutnya frustasi, sebab ia tak menemukan putrinya di manapun, yang artinya putrinya itu belum pulang dari pesta itu.


Di saat seperti ini, Ruslan pun menjadi bingung, harus pada siapa ia bertanya? Pasalnya ia tak memilki kontak teman Dania yang di sebut oleh Tari tadi.

__ADS_1


Haruskah ia pergi ke butik itu dan langsung menanyakannya?


Tanpa berpikir panjang lagi, Ruslan pun langsung memutuskannya, ia menghidupkan kembali kendaraannya lalu pergi menuju butik yang di maksud oleh Tari.


Setibanya di sana, ia pun langsung bertanya perihal dimana putrinya sembari menunjukan foto sang anak pada salah satu karyawan wanita yang bekerja di butik itu.


" Maaf, tapi anda siapa? " Tanya wanita itu


" Saya adalah Ayahnya, bisakah Anda memberitahu ku tempat pernikahan itu di selenggarakan? Saya hanya ingin memastikan bahwa firasat saya ini salah. "


Wanita itu pun terdiam, lalu di detik berikutnya, seorang kepala toko pun datang lalu menanyakan apa yang sedang terjadi.


Ruslan pun kembali menceritakan perihal putrinya.


Seakan mengerti, kepala toko itu pun langsung memberi tahu dimana lokasi Dania pergi bersama temannya, ia berpikir bahwa tidak apa-apa memberi tahunya, lagi pula tak ada yang menyuruhnya untuk bungkam.


Dengan senyuman di wajahnya, Ruslan pun mengucapkan terima kasih, lalu bergegas pergi dari butik itu, namun setelah keluar dari toko, raut wajahnya berubah menjadi bingung ketika sang kepala toko menyebutkan seorang anak dengan nama keluarga Wisesa.


Dengan perasaan kalut, ia kemudian menancap gas menuju lokasi yang di tunjukan oleh sang kepala toko tadi.


Akan tetapi, setibanya di tempat tujuan, kedua lututnya tiba-tiba lemas ketika melihat tempat yang tunjuk karyawan itu sudah menjadi puing-puing.


Entah apa yang terjadi? Namun Ruslan bisa menebak, bahwa telah terjadi perang di tempat ini.


Seketika dirinya teringat akan putrinya, apakah dia selamat? Dimana dia berada?


Ia kemudian mencoba bertanya pada orang-orang di sana perihal keberadaan dari putrinya, tapi tak ada satu pun dari mereka yang melihat keberadaan dari putrinya itu.


" Ruslan, tenangkan dirimu, Dania pasti baik-baik saja. " gumamnya lalu mencoba kembali bertanya pada orang yang berlalu lalang


Hingga, dirinya tak sengaja melihat sekelompok pria berjas hitam keluar dari hutan, wajah mereka terlihat tidak baik.


Tak lama kemudian, seorang pria rambut gondrong berbadan kurus tinggi, datang menghampiri mereka. Pria itu memakai setelan jas berwarna biru langit.

__ADS_1


" Apa kalian sudah menemukannya? " tanya pria itu.


Seseorang yang di yakini sebagai ketua kelompok itu pun maju, raut wajahnya terlihat sangat letih. " Belum ketua, tapi kami sudah menyusuri seluruh area hutan, namun kami tak menemukan keberadaan Nona, yang kami temukan hanyalah sepasang sepatu ini saja. " timpalnya, sembari menyerahkan sepasang sepatu high heels berwarna perak. Pria itu juga menambahkan bahwa telah terjadi penembakan di dalam hutan, dan juga mereka menemukan bercak darah yang menuntun mereka ke ujung tebing.


Pria itu belum bisa memastikan, siapa pemilik bercak darah itu.


Buk! Buk! Buk!


Tiba-tiba, pria gondrong berbadan kurus itu, memukul lalu menendang pria itu dengan bengis, hingga membuat pria itu memuntahkan darah dari mulutnya.


Tanpa ada rasa kasihan di matanya, ia menjambak rambut pria yang sudah setengah sadar itu hingga kepalanya mendongkak ke atas.


" Kalau begitu pastikan dasar berandal tak berguna, apa tuan besar menggaji mu hanya untuk memberiku kabar yang tidak pasti?! " teriak pria gondrong itu.


" Maafkan aku Ketua. " timpalnya dengan suara lirih


Walau, tindakannya di nilai bengis, namun tak ada satu pun dari kelompok pria berjas hitam itu membuka mulut, mereka hanya menundukkan kepala, membiarkan pemimpin mereka menderita seorang diri.


Setelah puas melampiaskan amarahnya, pria gondrong itu pun melepas cengkramannya. " Pokoknya, segera temukan Nona Ruksa, tak peduli dia masih hidup atau berupa jasadnya, kalian mengerti?!


" Lalu bagaimana dengan nona kecil yang bersama dengan Nona Ruksa? " tanya salah satu pria.


" KALIAN PIKIR AKU PEDULI?! Misi utama kita adalah menemukan Nona Ruksa,.bukan yang lain. KALIAN PAHAM?! "


" Paham ketua!! "


" Kalau begitu cepat pergi! " pekiknya. " Jika besok aku belum menerima kabar tentang Nona Ruksa, lebih baik kalian jangan menampakkan wajah kalian di hadapanku, jika hal itu terjadi, maka jangan salahkan aku jika dewa kematian akan menjemput kalian lebih awal. " tambahnya sembari menekankan.


Mendengar ancaman dari Sang ketua, sekelompok pria berjas hitam itu langsung lari terbirit-birit memasuki hutan meninggalkan pemimpin mereka yang terkulai lemas tak berdaya.


Dari kejauhan, Ruslan yang mendengar percakapan itu, langsung memutar otaknya, mungkinkah nona kecil yang di maksud oleh mereka adalah putrinya?


Mendadak, rona di wajahnya memucat, dirinya bertekad untuk menemukan anaknya sebelum mereka.

__ADS_1


__ADS_2