Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
54


__ADS_3

" Sudah bangun? " Ruksa bertanya dengan antusias, ia pun bangkit dari posisi duduknya, tangannya menekan bel darurat yang berada di samping ranjang untuk memanggil dokter.


Tak lama kemudian, seorang dokter muda pun datang bersama dengan seorang suster.


Dengan sigap sang suster memeriksa dan mengganti tabung infus. Sedangkan sang dokter langsung memeriksa kondisi Ruslan.


Setelah di periksa secara keseluruhan, dokter muda itu pun melepas stetoskop di telinganya lalu mengatakan bahwa tak ada yang salah dengan Ruslan.


Tapi untuk sementara waktu, pria itu harus tetap menjalani perawatan intensive setidaknya selama tiga hari, setelah itu pihak dokter bisa mengijinkannya untuk pulang ke rumah.


Dengan tampang serius, Ruksa pun mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut dokter itu seraya mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.


Dokter muda itu juga berpesan untuk lebih berhati-hati agar luka jahitan itu tidak terbuka kembali.


Ruksa pun kembali menganggukkan kepalanya, ia pun menatap sang dokter. " Apa ada lagi dok? " tanyanya. " Bagaimana dengan makanan? Jenis makanan apa saja yang boleh dan tak boleh di makan oleh ayah saya dok? " tambahnya.


Kedua sudut bibir Dokter muda itu terangkat ke atas membentuk sebuah senyuman manis. Pria itu merasa gemas sendiri melihat sikap protektif dari seorang gadis pada sang Ayah yang berada di depannya.


Pria itu pun terdiam sejenak, lalu menatap kembali gadis di depannya. " Kalau soal makanan, Usahakan jangan makan yang berat-berat, seperti yang berlemak, pedas, hindari makanan bertekstur keras, usahakan memakan yang bertekstur lembut untuk sementara waktu, " terangnya, melirik pada Ruslan . " Anda sangat beruntung memiliki putri seperti dia, kalau begitu saya pamit. "


Sang Dokter muda bersama suster tersebut pun pamit undur diri. Meninggalkan kedua anak dan ayah itu.


" Lapar nggak? Mau bubur?" tawar Ruksa.


" Tentu saja lapar, bisa nggak request ketoprak? " Canda Ruslan.


Pletak.


Seakan kebiasaan lama telah muncul, tanpa sadar, Ruksa memukul tubuh Ruslan bagian bahu dengan cukup keras, sehingga membuat pria itu meringis kesakitan.


Ruksa yang baru menyadari hal tersebut, menjadi panik. Ia pun menjadi kelimpungan dan berusaha memanggil dokter kembali.


Namun di detik berikutnya, pria itu malah terkekeh geli.


Sadar tengah di permainkan, Ruksa pun kembali memukuli pria itu, tentunya dengan pelan-pelan, karena ia takut akan melukai pria itu.


" Sumpah, muka lo lucu banget. " Ruslan berkata seraya menahan nyeri di perutnya.


" Lo? "

__ADS_1


" Eh. "


" Hah? "


" Dania? "


" Iya, kenapa? "


Keduanya saling terdiam dengan kedua mata yang saling bertatapan dengan tatapan kebingungan.


Brak!!


Tiba-tiba keduanya di kejutkan oleh pintu yang di buka secara paksa, yang kemudian di susul oleh kemunculan seorang pria bertubuh besar dengan warna kulit sawo matang.


Penampilannya terlihat sangat acak-acak, dengan rambut acak-acakan, raut wajahnya terlihat sangat khawatir nan kusut.


Pria itu langsung berlari berhamburan ke dalam memeluk salah satu pasien yang merupakan seorang wanita muda dengan rambut panjang hitam legamnya.


" Kamu baik-baik saja? Bagian mana yang terasa sakit? Apa perlu kita melakukan operasi? " Tanya pria itu secara bertubi-tubi.


Wanita itu memutar bola matanya dengan malas, dirinya menjauhkan diri dari pria itu seraya mengatakan, bahwa dirinya baik-baik saja. Lagi pula dirinya hanya menerima luka lecet di bagian salah satu sikunya, dan itu bukan masalah besar.


Ia pun meminta sang istri untuk melakukan X-ray pada tangannya, Namun wanita itu menolak dengan keras.


" Tapi dokter mengatakan bahwa tangan mu terkilir. " ucap pria


" Iya, tangan ku hanya terkilir bukan patah atau remuk. " timpal sang istri yang tak mau kalah.


Seakan tak mau kalah, sang suami pun mengatakan bahwa jika tidak di lakukan x-ray, takutnya ada sesuatu yang tak di inginkan.


Namun, sang istri tetap kekeh dengan keyakinannya, bahwa dia tak ingin di X-ray, dan malah meminta pada suami untuk segera membawanya pulang. Karena ia merasa bahwa dirinya baik-baik saja.


Karena tak ada yang mau mengalah, akhirnya keduanya pun terus beradu argumen, hingga menjadi pusat perhatian para pasien termasuk Ruslan dan putrinya.


Seakan tak ingin melepaskan kesempatan, Ruslan yang ingin mengganti topik pembicaraan, meminta putrinya untuk membawakannya semangkuk bubur.


Ruksa yang lupa pun, langsung menurut saja, ia pun membawa kedua langkah kakinya keluar ruangan pasien, meninggalkan sepasang suami istri yang masih beradu argumen.


Hingga tak lama kemudian, beberapa perawat beserta dengan seorang dari keamanan datang untuk melerai keduanya.

__ADS_1


Setelah cukup lama bernegosiasi, akhirnya kedua pasangan itu pun kembali akur, dengan sang istri yang memilih mengalah dan menuruti permintaan sang suami untuk melakukan X-ray pada tangannya itu.


Ruangan itu pun tenang kembali, dan hubungan kedua pasangan itu menghangat kembali. Bahkan keduanya terlihat romantis dengan sang suami yang menyuapi sang istri.


Berbeda dengan Ruslan yang langsung membenamkan wajahnya ke kedua telapak tangannya setelah kepergian dari putrinya. Dirinya merasa ada yang aneh dengan otaknya.


Sepintas, baru saja dirinya melihat dan merasa bahwa putrinya tampak seperti Ruksa yang merupakan teman lamanya.


Apa yang salah dengan dirinya? Tak mungkin kan luka tusukan di tubuhnya bisa mempengaruhi isi kepalanya?


Ia pun memalingkan wajahnya ke samping, menatap pemandangan dari luar, tangannya memegangi luka tusukan yang berada di perutnya.


Tak lama kemudian, pintu itu pun kembali terbuka, menampakkan wajah putrinya dengan membawa nampan dengan sebuah mangkuk di tangannya.


" Ini dia buburnya sudah datang~ " ujar Ruksa dengan raut wajahnya yang cerah


Ruslan pun menolehkan kepalanya, dan lagi-lagi dirinya melihat teman masa kecilnya itu di dalam putrinya.


" Ada apa? " tanya Ruksa.


" Bukan apa-apa. " timpalnya


Ruksa pun memicingkan kedua matanya, menatap pria itu dengan tatapan curiga.


Tahu tengah di curigai, Ruslan malah menatapnya dengan penuh tanda tanya.


Keduanya saling bertukar pandang, hingga Ruksa pun berdecak, ia pun memilih melupakan hal tersebut dengan menyodokkan sendok di tangannya ke dalam mangkuk bubur.


Meski rasanya hambar, namun Ruslan memaksakan untuk memakannya.


" Oh iya, bagaimana ayah bisa di tusuk? " tanya Ruksa.


Ruslan pun terhenti sejenak, menatap putrinya yang berada di depannya.


Sebenarnya ia tak tahu alasan dari penusukan itu? Dan siapa pelakunya? Yang ia ingat hanya lah, saat ingin membuka toko. Tiba-tiba segerombolan anak muda menghampirinya dengan sepeda motornya, lalu salah satu dari mereka menusuknya begitu saja lalu pergi meninggalkannya.


" Ada tidak ciri-ciri khusus? Setidaknya ada yang membuat mereka berbeda dengan yang lainnya."


Ruslan pun menundukkan kepalanya, mengingat kembali kejadian itu. Namun seberapa keras mengingat, ia tak bisa mengingatnya dengan baik.

__ADS_1


Sebab, mereka semua memakai helm dan masker, membuatnya sulit di kenali, namun dari bentuk dan tinggi mereka, dirinya tahu bahwa mereka adalah segerombolan anak muda.


__ADS_2