
Bagaskara pov.
Setelah berhasil membuat Alexa menjadi istri resminya, membuat hati Bagaskara pun menjadi sangat bahagia dan juga lega. Dirinya merasa bahwa Dewa peruntungan sedang memihak padanya, selain mendapat istri yang cantik dan muda, dia juga akan di karuniai seorang putra yang akan lahir enam bulan lagi.
Meski dirinya tengah di landa bahagia, namun, rasa bahagia itu tak sepenuhnya datang kepadanya, sebab, putrinya malah berbalik menjauh dan mengabaikannya, bersikap seolah-olah bahwa dia hanyalah bagian dari tamu
Dari pada ikut mendampinginya untuk menyambut para tamu penting, putrinya itu malah menghabiskan waktu dengan segerombolan anak remaja yang usianya terpaut cukup jauh dengannya.
Anak ini, apa dia tak malu pada umurnya sendiri? Bagaimana bisa dia bersikap bahwa dirinya masih di usia remaja?
Karena rasa kekesalannya, Bagaskara pun hendak menegur putrinya dan membuatnya berhenti untuk bersikap kekanak-kanakan.
Namun, hal itu di cegah oleh Alexa, wanita itu menahan tangannya dengan raut wajah cemas yang tersirat jelas di wajahnya.
Seakan mengerti, Bagaskara pun menepuk punggung tangan kecil istrinya, mengecupnya dengan lembut, lalu berkata bahwa dirinya berjanji tak akan ada teriakan apalagi kekerasan, dirinya hanya ingin mengingatkan pada putrinya bahwa dia sudah bukan anak kecil lagi dan memintanya untuk menerima pernikahan ini.
" Berjanjilah untuk tidak memarahinya secara berlebihan, meski dia lebih tua dari ku, tapi aku bisa merasakannya, bahwa dia masih memerlukan perhatian dan kasih sayang mu, jangan biarkan pernikahan kita, membuatnya semakin menjauh. "
Mendengar hal itu Bagaskara merasa tersentuh, ia tersenyum, lalu menarik tubuh Alexa ke dalam pelukannya, sembari mengucapkan terima kasih karena sudah mau menerima dirinya apa adanya.
" Apa kamu lelah? Jika lelah, pergilah beristirahat. Biar Gantari yang mengantar mu. "
Alexa pun menganggukkan kepalanya dengan pelan, mungkin karena usia kandungannya masih muda, membuatnya terus merasa mual dan cepat lelah.
" Kalau begitu, pergilah beristirahat, biar Gantari yang mengantar mu, sisanya biar aku yang urus. " ucapnya lalu memanggil assiten kepercayaannya.
Setelah selesai dengan Alexa, ia pun beralih pada tujuan utamanya, namun, dahinya mengernyit ketika putrinya itu sudah tak lagi duduk di kursi itu.
__ADS_1
Kemana perginya anak itu? Batinnya
Ia pun berdecak kesal, lalu memanggil bawahannya yang lain untuk mencari keberadaan dari putrinya.
Akan tetapi, baru saja Gantari melangkahkan kedua kakinya dua langkah, tiba-tiba terdengar sebuah jeritan dari arah pintu masuk Gereja yang kemudian di susul dengan suara rentetan tembakan.
Tembakan itu membuat pestanya berubah menjadi medan perang.
" Sayang! Apa yang terjadi?! " tanya Alexa yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Bagaskara. Membuat kedua bola matanya terbeliak lalu memarahinya karena sudah bertindak bodoh.
Ia pun meminta Gantari untuk membawanya ke tempat yang paling aman, jangan biarkan siapapun melukai mereka, jika sampai dirinya menemukan goresan luka di tubuh istrinya, tak peduli sebesar apa luka tersebut, meski pun itu hanya satu mili, ia tak akan memberikan toleransi
" Tunggu kamu mau kemana? Kamu tak akan meninggalkan aku bukan? Aku tak ingin menjadi janda. " ujar Alexa sembari menahan tangan suaminya yang hendak pergi.
Meski terdengar sangat lucu dan menggemaskan, namun ini bukan saatnya, tanpa menjelaskan apapun, Bagaskara pun langsung meminta Gantari untuk segera membawa Alexa pergi secepatnya.
Pria itu pun menganggukkan kepalanya, lalu membawa Alexa pergi, meski sempat meronta, namun pada akhirnya wanita itu hanya bisa menuruti semua keinginan sang suami.
Raut wajahnya seketika berubah menjadi gelap dengan tatapan
membunuh.
Ia berjanji pada dirinya sendiri, akan menangkap dalang yang telah menghancurkan acara pernikahannya, lalu membuat orang itu merasakan sakit yang luar biasa bagaikan hidup di dalam neraka.
Bersama dengan Chandra dan bawahannya, mereka mulai menembaki para para musuh.
Baku tembak pun menjadi tak terelakkan, korban pun terus berjatuhan.
__ADS_1
Bagaskara pun terus menembaki para musuh, hingga sebuah ledakan terjadi tepat di belakang tubuhnya hingga membuat tubuhnya terpental cukup jauh. Kepalanya terbentur mengenai tanah dengan cukup keras hingga membuat telinganya berdenging.
Dengan penglihatan yang terlihat samar, ia bisa mendengar Alexa berteriak histeris menghampirinya, di belakang punggung wanita itu, Gantari bersama rekannya menembaki sisa musuh.
Namun, di detik berikutnya, ledakan bom pun kembali terjadi lagi, dan setelah itu, Bagaskara pun tak bisa mengingat apa yang terjadi selanjutnya.
Di sisi lain, Ruslan yang tengah melayani pelanggan, tiba-tiba merasa tak enak hati, dirinya kemudian tiba-tiba teringat pada Dania yang katanya menghadiri pesta pernikahan sejak pagi tadi.
Kepalanya menoleh, dan melihat ke arah jam dinding yang menunjukan pukul 11 siang waktu setempat.
' Kenapa perasaan ku jadi tidak enak? Apa Dania baik-baik saja? ' batinnya.
" Ada apa Kang Rus? Kenapa melamun? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran Akang? " Tanya Tari seorang mahasiswa swasta yang merupakan seorang pelanggan tetap di toko milik Ruslan.
Tubuh Ruslan pun tersentak, ia menolehkan kepalanya ke arah Tari lalu tersenyum sembari meminta maaf, ia berkata bahwa dirinya tiba-tiba merasa cemas pada putrinya yang tengah menghadiri sebuah acara pernikahan orang tua temannya.
" Mungkin, itu karena, ini pertama kalinya Dania datang ke acara keluarga temannya, jadi Kang Rus merasa tak terbiasa, mengingat kan Dania pernah jadi korban kekerasan, jadi patut di maklumi kalau Akang merasa cemas dan gelisah kayak gini. " Terang Tari.
" Kamu, benar, mungkin saya belum terbiasa, jadinya saya merasa gelisah seperti ini, takutnya dia mendapat teman yang tidak baik seperti sebelumnya. " Timpal Ruslan membenarkan.
" Akang tenang saja, saya yakin, teman Dania yang sekarang pasti baik, buktinya tadi saya lihat dia di belikan pakaian yang mahal. "
" Loh, kamu tahu dari mana? " tanya Ruslan penasaran.
Tari pun langsung tersenyum penuh arti, ia menceritakan bahwa dirinya tak sengaja melihat Dania dan teman prianya memasuki sebuah butik ternama.
Waktu itu dirinya sedang di kejar deadline, jadi ia tak sempat bertanya siapa laki-laki yang bersama dengan Dania, tapi ia bisa memastikan bahwa pria itu terlihat sangat baik, karena laki-laki itu memperlakukan Dania bak seorang putri.
__ADS_1
Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya merasa iri terhadap Dania, karena memiliki seorang laki-laki yang begitu baik dan juga tampan, terlebih lagi wajah mereka terlihat sama, menurut primbon, katanya, jika wanita dan laki-laki memiliki wajah yang sama, itu tandanya jodoh.
Tari pun tiba-tiba kegirangan sendiri, lalu menggoda Ruslan dengan mengatakan, bahwa pria itu sebentar lagi akan memiliki menantu yang tampan dan juga kaya raya.