Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
126


__ADS_3

Di saat Rusdi mencoba mengulur waktu, Ruksa dan Ruslan pergi untuk menolong Ismail terlebih dahulu karena bagi Ruksa, Ismail sudah seperti kakaknya sendiri, maka dari itu ia tak bisa melepaskan pria itu begitu saja. Sedangkan Dania dan Amar, pergi untuk menyerbu perusahaan bersama seratus pengikut setia Bagaskara.


Dengan mengumpulkan semua informasi yang di dapat melalui cctv, Ruksa akhirnya menemukan keberadaan Ismail, tentunya dengan rencana yang dimilikinya, mereka berhasil masuk ke dalam pabrik terbengkalai dimana Ismail dan puluhan pengikutnya di sekap.


" Lo- Maksud aku, paman baik-baik saja? " tanya Ruksa yang berusaha melepaskan ikatan di tangan Ismail. Pria itu cukup terkejut, dengan kedatangan Ruksa dan juga Ruslan.


" Bagaimana kalian. . .Bagaimana dengan Nona ku, apa dia baik-baik saja? "


" Dia sangat baik-baik saja jika kita tidak terlambat untuk menolongnya. "


Seakan mengerti apa yang di maksudkan, Ismail hanya menganggukkan kepalanya, ia kemudian membantu melepaskan tali yang mengekang tubuh dan tangan bawahannya.


" Ayo pergi. " kata Ruslan.


" Wow! Wow! Wow! mau kemana kalian? " Seorang remaja laki-laki tiba-tiba muncul dengan sebuah tongkat kayu di tangannya yang kemudian di ikuti dengan segerombolan anak lainnya. " Kalian pikir, kalian bisa keluar dari tempat ini? Aku Bara sang ketua Taurus, tak akan membiarkan kalian pergi dan membuat rencana ibu ku gagal. " ucapnya kemudian menyuruh orang-orang yang berada di belakang punggungnya untuk menyerang Ruksa dengan yang lainnya.

__ADS_1


Meski ia sudah menebak, bahwa baku hantam tak akan terelakkan, tapi jauh di dalam hati terdalam Ruksa, ia tak ingin pertempuran itu terjadi karena baginya hal itu terlalu membuang waktu.


" Dania, pergilah ke tempat paman Rusdi, biar Ayah dan Paman Rusdi yang menyelesaikannya. "


" Tapi.. .


" Tolong, dengarkan perkataan Ayah, sekali ini. "


" Benar, gadis lemah seperti mu tak perlu ikut campur dengan masalah pria. Lebih baik kamu tunggu saja di luar, tenang saja, aku akan membiarkan anggota tubuh Ayah mu lengkap saat pemakaman nanti. " Sela Bara sembari mengejek.


Bara yang mendapat pukulan tak terduga membuatnya hampir tersungkur ke tanah, namun ia tak merasa kesal sama sekali, melainkan, ia merasa sangat senang dan menjadi bersemangat. " Boleh juga pukulan mu paman. Ayo kita berkelahi sampai mati. " Ajaknya kemudian mengayunkan balok kayu di tangannya.


" Kalian seharusnya belajar, bukannya berkelahi seperti ini, apalagi memukuli orang tua seperti ku. Apa begini cara mu memperlakukan orang yang lebih tua dari mu? " ujar Ruslan yang berhasil menangkis serangan dari Bara. Meski sudah lama tidak berkelahi, namun kemampuannya untuk menangkis serangan ternyata masih sangat bagus.


" Setidaknya aku tidak membangkang seperti putrimu yang ada di sana. " Bara menimpali sembari melayangkan kembali balok kayu di tangannya ke arah Ruslan sambil menunjuk ke arah Ruksa yang ternyata malah ikut dalam baku hantam itu.

__ADS_1


Bugh!!


Hantaman kuat balok kayu itu mengenai tepat di kepala Ruslan, darah pun mengalir melalui dahinya.


" Ku kira paman kuat, ternyata aku salah menilai tentang mu, kamu hanyalah orang tua biasa. "


Brak!!!


Tiba-tiba sebuah hantaman kuat mengenai kepala Bara hingga membuat remaja itu berjalan sempoyongan sembari memegangi kepalanya yang berdarah, kepalanya mendongkak dan mendapati Dania yang memegang balok kayu yang hanya tinggal separuh lagi.


" Wanita J***ng sial*n! Mati sana! Hiyyaaaaaaattttt!!!! "


Buk!


Pukulan Ruslan mengenai tepat di wajah Bara hingga membuat remaja lelaki itu akhirnya jatuh pingsan.

__ADS_1


" Jangan mengatai putri ku dengan bibir kotor mu dasar bocah tengik. "


__ADS_2