Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
27


__ADS_3

Karena kondisi ayah Dania yang tak memungkin kan untuk membuka toko. Alhasil Ruksa pun menawarkan diri untuk membuka dan menjaga toko.


Meski awalnya Ruslan melarangnya,sebab, lagi pula tak ada salahnya menutup toko untuk sementara waktu. namun wanita itu bersikeras untuk membukanya.


Karena tak bisa mencegah kekerasan kepala putrinya, Ruslan pun akhirnya membiarkan putrinya membuka toko sedangkan dirinya akan beristirahat di rumah untuk memulihkan diri.


*


Karena tak tahu tempat toko itu berada, ia pun menghubungi Dania dan memintanya untuk mengirimkan alamat toko milik ayahnya.


Dania yang tengah menjaga Aldan hanya bisa mengernyitkan dahinya tat kala mendengar pertanyaan Ruksa yang tak biasanya, untuk apa dia menanyakan hal tersebut? Padahal dia hanya perlu mengikuti ayahnya.


" Memangnya ayah kemana? "


" Dia sedang sakit. "


" Apa?! Sakit apa? Apa sakitnya parah? Sudah di bawa ke rumah sakit? ". Tanya Dania bertubi-tubi, membuat Ruksa mengerti dari mana sifat itu berasal.


" Bukan apa-apa hanya kepalanya sedikit terbentur. "


" Apa kah parah? "


" Kurang lebih seperti itu, intinya sekarang dia sedang istirahat. Selain itu cepat berikan alamatnya. Jika tidak, para ayam akan mematuk rezeki kita lebih dahulu. " ujar Ruksa.


" Baiklah akan segera aku kirimkan, tapi kak Ruksa. Tak bolehkah aku menemui ayah sekali saja? atau tidak biarkan aku melihat bayangannya saja. ". ungkap Dania.


" Maaf Dania, sampai tubuh kita kembali seperti dulu. Lo nggak boleh bertemu sama bokap lo. "


" Tapi kenapa? Lagi pula ayah tak akan tahu. "


" Kalau begitu aku tutup teleponnya. " ujar Ruksa seraya memutuskan panggilan itu secara sepihak, ia pun termenung sejenak seraya menatap layar ponselnya yang sudah mati.


Dirinya tak bermaksud memisahkan keduanya, hanya saja ia belum siap jika Dania mengetahui hubungannya dengan Ruslan.


Lagi pula ini hanya tinggal menghitung hari menuju ke kehidupan mereka kembali seperti semula.


Tanpa memikirkan yang lainnya lagi, ia pun bergegas pergi menuju ke sebuah alamat yang ia terima dari Dania.


Jaraknya cukup jauh dari rumah, tapi Ruksa tak mengeluh, ia terus mengayuhkan sepedanya.

__ADS_1


Sesampainya di sana ,ia sedikit tertegun dengan desain toko itu yang sangat mirip dengan desain yang ia buat di bangku SMA. Mungkinkah?


Ruksa pun menggelengkan kepalanya dengan keras, mungkin ini hanya kebetulan semata.


Betul, ini hanyalah kebetulan saja, mana mungkin dia menyimpan rasa? Jika iya, kenapa dia memilih menikah dengan orang lain dan bukannya gue? batin Ruksa.


Ia pun menghirup dan mengeluarkan nafasnya agar pikiran di jauhkan dari pemikiran yang tidak-tidak.


Di rasa sudah tenang, ia merogoh sakunya dan mengambil sebuah kunci yang merupakan kunci dari toko tersebut.


Belum satu jam Ruksa membuka toko, tiba-tiba segerombolan wanita yang berkisar di antara Tiga puluhan tahunan, dengan make up tebal serta pakaian minim yang mereka gunakan langsung menyerbu toko begitu saja.


Namun dalam hitungan detik segerombolan itu bubar, saat mengetahui bahwa pria yang mereka tunggu tak hadir di sana.


Salah satu alis Ruksa berkedut, kedua tangannya mengepal. Jadi alasan mereka datang ke toko bukan untuk membeli tapi melainkan menggoda Ruslan.


Wah, rasanya kepalan tangannya gatal ingin memukul wajah mereka satu persatu.


" Ekh dek Dania, tumben. Ayahnya kemana? " Tiba-tiba seorang pria paruh baya datang ke tokonya seorang diri. Jika di lihat dari gelagatnya sepertinya pria itu salah satu pelanggan tetap.


Meski tak mengenalnya, Ruksa pun sebisa mungkin memperlakukan pria itu dengan baik dan sopan. Seraya memasang wajah terbaik yang di milikinya. " Lagi sakit pak. "


" Oh kemarin habis kena begal. Dan kepalanya . ..


" Begal?!!!! "


Seketika toko itu kembali di padati pelanggan wanita yang sebelumnya datang hanya untuk menggoda.


" Ya ampun kok bisa? "


" Kepalanya kenapa? "


" Dia masih hidup kan? "


Dan banyak lagi pertanyaan yang membuat kepala Ruksa terasa ingin pecah.


Apakah Dania sering mengalaminya? Jika iya, gadis itu patut di acungi dua jempol. Jika harus memilih, ia lebih baik berhadapan dengan segerombolan musuh dari pada menghadapi segerombolan wanita bermake up tebal.


" KALIAN SEMUA BERHENTI MENYIKSA ANAK ITU. " tanpa di duga pak tua itu berteriak dengan suara lantang. Membuat semua orang yang berada di sana termasuk Ruksa terdiam.

__ADS_1


Suasana toko pun menjadi mencekam, tat kala pria tua itu memarahi mereka habis-habisan, setelah puas. Pria itu pun mengusir mereka dari toko


Para wanita itu pun lari terbirit-birit meninggalkan toko.


Ruksa pun akhirnya bisa bernafas lega, ia pun langsung merapihkan kembali tokonya yang tadinya sempat menyerupai kapal pecah.


" Terima kasih pak, kalau nggak ada bapak, saya nggak tahu bakal seperti apa jadinya nasib saya. "


Pak tua itu mengangkat kedua sudut bibirnya seraya mengatakan bahwa itu bukanlah apa-apa, lagi pula dia merasa masih berhutang budi pada Ruslan, sebab pria itu pernah menyelamatkan nyawanya.


Tanpa menanyakan bagaimana detailnya, Ruksa pun hanya tersenyum sebagai tanggapannya.


Tak lama kemudian pria tua itu memutuskan untuk pulang, tak lupa ia membeli beberapa jenis snack untuk ia bawa pulang.


Awalnya Ruksa menolak uang itu, namun pria itu memaksa, dan mengatakan bahwa dirinya masih mampu untuk membayar.


Padahal Ruksa tak bermaksud seperti itu, ia memberikannya sebagai ucapan terima kasihnya karena sudah menyelamatkannya dari segerombolan wanita ****** itu.


Tapi karena tak ingin menyakiti hati pria tua itu, Ruksa pun menerima uang tersebut, tak lupa ia kembali mengucapkan terima kasih.


Pria itu tua itu pun kembali tersenyum lalu pergi ke luar toko dengan melambaikan tangannya.


Tenyata, ada banyak orang baik yang mengelilingi pria yang disukainya itu.


Tanpa terasa, hari pun berakhir dengan begitu cepat. Meski dagangannya tak terlalu ramai, namun ia bersyukur bisa menikmati hari. Bahkan ada beberapa pelajaran yang bisa ia bisa ia petik, selain harus sabar melayani berbagai pelanggan, ia pun menyadari bahwa di tempat kecil ini dirinya bisa sebahagia ini.


" Akhirnya pulang juga. " gumamnya seraya mengunci pintu.


Namun ia dikagetkan oleh segerombolan wanita yang sebelumnya membuat kericuhan, seketika bulu kuduknya meremang.


" Ada apa kalian kemari? " tanya Ruksa dengan takut. " Eits, maju satu langkah, teriak nih. " ujarnya saat melihat salah satu dari mereka melangkah kan kakinya maju ke depan.


" Santai saja, kita ke sini, bukan mau makan kamu. Tapi kami mau minta maaf soal tadi pagi. " Ujar wanita berpakaian ketat berwarna merah, yang kemudian di ikuti oleh yang lainnya.


Tak lama kemudian, wanita itu menyerahkan sebuah bingkisan yang katanya untuk di berikan pada Ruslan.


Awalnya Ruksa menolak, namun karena melihat wajah mereka yang tulus itu, membuatnya menjadi tak tega dan mau tak mau menerima bingkisan tersebut. Akan tetapi dirinya sudah melakukan sebuah kesalahan besar.


Ia kira, bingkisan itu mewakili semua orang di sana, namun ternyata salah, setelah menerima bingkisan itu, ia pun kembali menerima bingkisan lain dari wanita lainnya.

__ADS_1


Saking banyaknya bingkisan yang ia terima, kini tubuhnya terjebak diantara bingkisan.


__ADS_2