Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
48


__ADS_3

Dania pov.


Meski isi kepalanya sekarang sedang kalut, namun Dania harus mengindahkan pemikiran itu.


Karena untuk sekarang, dirinya harus mengutamakan menyelamatkan nyawa ayahnya terlebih dahulu.


Ia pun perlahan mengambil dan menghembuskan nafasnya secara berulang supaya dirinya bisa menjadi lebih tenang lagi.


Di rasa sudah tenang, ia pun berjalan mengikuti dokter muda itu dari belakang.


Setelah proses pengambilan darahnya telah selesai, dokter muda itu pun menyuruh Dania untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Meski tubuhnya memang terasa letih, akan tetapi rasa kantuk itu tak kunjung datang, membuatnya semakin frustasi.


Akan tetapi, hal itu ternyata di sadari oleh Ruksa yang baru saja masuk.


Saat hendak beranjak turun dari ranjangnya, tiba-tiba tangan Ruksa menahan kepalanya hingga membuatnya kembali ke posisi tertidur.


" Inget, ini bukan tubuh lo, jadi jangan macam-macam. " Ruksa berkata dengan nada ketus


" Tapi, kakak kan juga . . .


" Sssstt, tidur nggak?! "


" Tapi . . .


" Mau gue bogem? " ujarnya seraya memperlihatkan kepalan tangannya di tambah tatapan maut yang di lontarkannya.


Seketika nyali Dania pun menciut, ia pun dengan terpaksa memejamkan kedua kelopak matanya, berharap bahwa dirinya bisa tertidur


Tapi semuanya sia-sia, ingin bangun pun percuma karena Dania menyadari bahwa Ruksa sedang memperhatikannya.


" Gue tahu, lo pasti shock. Sama kayak gue, " Ujar Ruksa tiba-tiba. " Tapi gue yakin dia punya alasan tersendiri, jadi gue harap, jangan membencinya. "


Dania pun terdiam, mendengarkan semua perkataan Ruksa dengan kedua mata yang masih terpejam.


Sesungguhnya ia tak benci atau pun marah pada ayahnya itu, hanya saja dirinya sedikit kecewa, bahwasannya pria itu bukan ayah kandungnya.


Lantas dirinya anak siapa sebenarnya?


Setelah di ingat kembali, Dania bari menyadari bahwasannya, Sejak kecil, ia tak pernah bertemu ataupun mengenal dengan sosok ibunya. Karena ayahnya mengatakan bahwa ibunya meninggal setelah melahirkan dirinya.


Hanya melalui selembar photo, dirinya mengenal wajah sang ibu.

__ADS_1


Meski dirinya penasaran, Namun, pada siapa dirinya bertanya? Sebab, tam ada satupun di lingkungannya yang mengenal sosok ibunya, termasuk bibi May sendiri, yang merupakan saudara terdekat ayahnya yang di kenal oleh Dania.


Mungkinkah, wanita itu juga tak memiliki hubungan darah dengan dirinya?


Sejak kecil dirinya tak pernah sekali pun bertemu dengan nenek atau pun kakek dari pihak ibu maupun dari pihak ayah.


Setiap kali bertanya, ayahnya selalu mengalihkan topik pembicaraan, dengan membicarakan sesuatu yang lain.


Tanpa sadar, hal itu membuat kantuk itu akhirnya datang menghampirinya dan membuatnya tertidur pulas.


Saat terbangun, dirinya tak mendapati siapa pun di sana.


Ia pun beranjak bangun lalu turun dari ranjang, namun lagi-lagi Ruksa datang dengan membawa sekantong kresek berisikan makanan.


Dania pun mendongakkan kepalanya seraya bertanya. " Bagaimana dengan kondisi ayah? "


" Dia sudah baik-baik saja, lo nggak perlu khawatir. " ujar Ruksa.


Secara spontan, Dania pun menghela nafasnya dengan lega. Ia kemudian meraih semangkuk bubur yang di bawa oleh Ruksa lalu memakannya dengan lahap.


Setelah menghabiskan semangkuk bubur itu, Dania pun meminta izin pada Ruksa untuk pergi mengintip saja, dirinya bahkan bersumpah agar wanita itu percaya akan perkataannya.


" Nggak perlu mengintip, lagi pula dia pasti masih tertidur, jadi lo bisa lihat dia sepenuhnya. " ungkap Ruksa.


Seketika wajah Dania berubah jadi cerah, ia pun bergegas turun dari atas ranjang, lalu berjalan menuju ke salah satu kamar pasien, tempat di mana ayahnya di rawat.


Dan benar saja, pria itu masih memejamkan kedua matanya, layaknya seperti orang tengah tertidur pulas.


Dania yang sudah lama tak melihat sosok ayahnya itu, membuatnya tak bisa menahan perasaannya, dari kedua matanya, air mata mengalir begitu saja hingga membasahi kedua pipinya.


Ia pun berjalan setengah berlari, lalu membenamkan kepalanya seraya memeluk telapak tangan pria itu. Merasakan kehangatan yang mengalir dari tubuh pria itu.


" Ayah, Dania sangat merindukanmu. Tapi ayah tenang saja, besok, aku akan kembali seperti semula dan . .


" Emmm, sorry kalau gue ganggu, tapi kayaknya lo harus bersabar selama seratus hari lagi. " Sela Ruksa.


Seketika dahi Dania mengernyit, setelah mendengar penuturan yang keluar dari mulut Ruksa ,ia pun berbalik, menatap Ruksa dengan tatapan penasaran " Apa maksud kakak? " tanyanya.


" Soal itu, lebih baik kita mencari tempat yang lebih privat lagi untuk membicarakannya. "


Dahi Dania kembali mengernyit, namun di detik berikutnya ia menyetujui hal itu.


Keduanya pun memilih atap rumah sakit sebagai tempat terbaik untuk membicarakan perkara itu.

__ADS_1


Tanpa basa basi, Ruksa pun menceritakan kejadian tadi pagi yang seharusnya ia katakan tadi saat berada di kafe.


Namun karena adanya insiden yang tak terduga membuatnya lupa untuk mengatakan itu.


Setelah mendengar penuturan itu membuat Kedua lutut kaki Dania tiba-tiba menjadi terasa lemas, tak lama kemudian tubuhnya ambruk karena kedua kakinya sudah tak mampu menahan berat badannya.


Kenapa? Kenapa semua ini terjadi padanya? Dosa apa yang dimilikinya hingga harus menerima hukuman seperti itu?


Padahal, dirinya sudah bisa bernafas lega karena berhasil melewati kehidupan yang mempertaruhkan nyawanya itu akan berakhir besok.


Namun nyatanya, ia harus kembali menderita, dan menjalani kehidupan itu.


Jika seperti ini, dirinya lebih baik mati saja, dari pada hidup di dalam tubuh Ruksa.


Sungguh, hidup sebagai Ruksa itu bagaikan sebuah neraka, awalnya dirinya sangat menikmati kehidupan mewah seperti yang terlihat di drama itu yang di lengkapi tubuh indah serta wajah cantik.


Akan tetapi, di balik keindahan dan kemewahan itu, tersembunyi sebuah kegelapan yang siap menelannya kapan saja.


Sama hal nya Bismo yang masih gigih mengejarnya. Tak peduli kemana ia pergi, pria itu pasti akan tahu tentang kabarnya, ditambah orang-orang asing yang sangat menginginkan pemilik tubuh ini mati.


Akankah dirinya sanggup melewati lagi kehidupan itu selama seratus hari lagi?


Setelah pembicaraan itu selesai, keduanya memutuskan untuk kembali ke kamar Ruslan.


Di sepanjang jalan, langkah kaki Dania terlihat gontai dengan aura suram yang meliputinya


Sedangkan Ruksa yang berasa di belakangnya hanya bisa terdiam menatap punggung itu.


Ketika pintu di geser, keduanya di kejutkan oleh kehadiran Bibi May yang tengah menata makanan di atas meja.


" Kalian berdua makanlah. " Bibi May berkata.


Keduanya pun dengan patuh berjalan menghampiri wanita paruh baya itu, lalu memakan semuanya dengan lahap


" Wah, masakan Bibi May memang yang terbaik. Aku sungguh merindukannya. "


" Benarkah? Tapi bukankah ini adalah pertama kalinya, nona cantik ini memakan masakan saya? "


Seketika, keduanya terdiam.


" O-oh maksudnya, masakan bibi sama seperti masakan ibunya yang sudah meninggal, begitu maksudnya. " Terang Ruksa seraya menendang kaki Dania " Benar kan Dania? "


" I-iya.

__ADS_1


" Oh begitu, yah, maafkan saya. "


" Tidak perlu. "


__ADS_2