
" Bisakah anda berhenti mengikuti ku?! " Dania berkata seraya terus berjalan menghindari pria yang baru saja ditemuinya, tapi laki-laki itu ternyata memiliki kepala batu, dia tetap mengikutinya walaupun dirinya sudah berkata kasar.
Di dalam hati, Dania tak bisa berpikir jernih, bagaimana bisa pria itu mengetahui Ruksa, seingatnya wanita itu tak pernah menceritakan perihal apapun tentang pria ini.
" Tidak, sebelum aku memastikan bahwa kamu sungguh tak mengingatku. " timpal pria itu yang tak mau kalah sembari mengikuti Dania pergi.
Jika di ikuti seperti ini, Dania tak akan bisa membututi Alexa, satu-satunya harapannya adalah Ismail, namun sudah beberapa menit berlalu, tapi pria itu tak kunjung datang juga.
Merasa sudah jengah, Dania pun menghentikan langkahnya, ia berbalik lalu menatap pria itu dengan tatapan tak suka. "
" Bukan kah aku sudah mengatakannya puluhan kali bahwa aku tidak mengenal mu sama sekali, tak bisakah kamu berhenti untuk menjadi keras kepala, perlu aku ingatkan, lebih baik kamu pergi sebelum body guard ku datang dan menghajarmu habis-habisan. " Dania pun melenggang pergi meninggalkan pria itu. Namun langkahnya kembali terhenti ketika dirinya tak sengaja melihat sosok Ayah Ruksa tengah bersama dengan Alexa. Keduanya tangan mereka saling bertaut layaknya pasangan muda.
Tubuh Dania pun tertegun sejenak, Dahinya mengernyit heran, karena ia yakin bahwa laki-laki yang di lihat sebelumnya bukanlah Ayah Ruksa melainkan orang lain, karena di lihat dari gaya dan bentuk tubuhnya, ia menebak bahwa pria itu masih di umur dua puluhan. Tapi bagaimana bisa pria itu berubah menjadi Ayah Ruksa? Apa dirinya tadi salah lihat?
Tapi di detik berikutnya, Dania pun mendelik tajam pada pria di sampingnya, jika bukan karena keberadaannya yang muncul tiba-tiba, mungkin dirinya sudah mendapatkan bukti yang kuat.
" Kenapa kamu ada di sini? " tanya Bagaskara pada Dania.
" A-aku . . .
" Hai paman, lama kita tak berjumpa. " sela pria itu tiba-tiba seraya mengulurkan tangannya ke depan.
Bagaskara terdiam sejenak, kedua matanya menatap pria di depannya dari atas sampai bawah. " Kamu . .
" Daniel, masa paman lupa sih. " sela pria itu kembali seraya memperkenalkan diri.
" Ah, Daniel~ lama tak jumpa bagaimana kabar keluarga mu di sana? Apa mereka baik-baik saja? " Bagaskara pun langsung menerima uluran tangan Daniel. " Kapan kamu pulang ke sini? Kenapa tidak memberitahu paman, bahwa kamu akan ke sini? Setidaknya paman akan menyambut mu dengan meriah. " tambahnya
Daniel pun tersenyum, kemudian ia mengatakan bahwa keluarga baik-baik saja dan dirinya baru saja sampai, dan sekarang sedang memilih kamar untuk ditinggalinya untuk sementara waktu.
__ADS_1
Mendengar hal tersebut, Bagaskara pun menawarinya untuk tinggal di salah satu vila yang belum di tempati.
Namun, Daniel menolak dengan sopan. Ia mengatakan bahwa dirinya sebenarnya sedang mengurus kepindahannya, namun untuk sementara waktu dirinya ingin tinggal di hotel saja.
Tak ingin memaksa keputusan Daniel, Bagaskara pun hanya tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.
" Mau minum kopi? Jangan khawatir, paman akan mentraktir kalian berdua. " ucapnya seraya melemparkan tatapannya pada putrinya yang sejak tadi membuang wajahnya dan mengabaikan dirinya.
" Tentu. "
Ke empatnya pun pergi ke sebuah cafe yang terletak di dalam hotel. Padahal di dalam hati Dania, dirinya tak ingin berlama-lama dengan mereka.
" Ruksa kenapa kamu tidak bilang pada Ayah kalau Daniel sudah pulang? kamu tahu kan bahwa Ayah sangat ingin bertemu dengannya. " ujar Bagaskara, ia kemudian menoleh pada putrinya lalu menatap Daniel. " Oh iya kapan kamu akan melamar Ruksa? Kebetulan dia sudah putus dengan Bismo. "
Dania pun terlonjak kaget, ia tertegun sejenak, " tunggu? Apa maksudnya? Aku bahkan tak mengenalinya sama sekali. " Dania berkata.
Ia kemudian menoleh dan menjelaskan pada Daniel, bahwa putrinya beberapa bulan yang lalu mengalami kecelakaan dan mengalami amnesia, jadi dirinya meminta pada pria itu untuk memaklumi sifat dari putrinya itu.
Daniel yang baru mengetahui hal tersebut, tak bisa menghilangkan rasa keterkejutannya, " Pantas aja Paman, ku pikir dia hanya bercanda. " timpalnya seraya sesekali melirik Dania yang masih enggan membuka mulutnya.
" Tapi Daniel, Paman juga terkejut dengan penampilan mu yang sekarang, bahkan tadi paman tak mengenali mu sama sekali, jika kamu tak mengatakannya, mungkin kita tak akan berkumpul seperti ini dalam satu meja. " ungkapnya. " Jujur saja, kamu semakin tampan saja. " pujinya menambahkan.
Daniel yang tersipu pun langsung menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. " Paman bisa saja, oh iya sejak tadi aku penasaran dia ini siapa? " Tanya nya seraya menunjuk ke arah Alexa.
" Oh, ini kekasih paman. Alexa, dan sebentar lagi kami akan menikah, paman harap kamu bisa memberi restu pada kami. "
Alexa pun tersenyum, kemudian mengulurkan tangannya, namun . . .
" Bwahahaha. " Tiba-tiba Daniel tergelak setelah mendengar penuturan dari pria di depannya, ia bahkan hampir tersedak oleh minuman yang di minumnya. " Apa paman sedang bercanda? Bagaimana bisa dia jadi istri paman? Bukankah dia lebih pantas menjadi anak paman ketimbang jadi istri? Benar nggak Ca? " sembari menoleh pada wanita di sampingnya.
__ADS_1
Namun, Dania memilih diam.
Daniel yang merasa ada yang salah dengan ucapannya hanya bisa menjadi salah tingkah, tangannya meraih secangkir kopi latte yang di pesannya, meminumnya hingga tandas. " Jadi paman serius? "
Kedua alis Bagaskara pun terangkat ke atas, ia mengerti akan sikap Daniel yang menertawakannya, jika di pikirkan kembali memang aneh dirinya akan menikahi yang usianya hampir dari setengahnya, dan dia memang lebih cocok menjadi adik tiri putrinya dari pada menjadi ibu.
Tapi apa boleh buat, jika hatinya sudah berkata, maka ia hanya bisa menerima ejekan dari semua orang
" Maaf paman, aku tidak bermaksud, hanya saja aku . .
" Hey, kenapa merasa bersalah seperti itu? Jika paman ada di posisi mu, maka paman pun akan melakukan hal yang sama. "
Suasana pun menjadi canggung.
" Sebagai permintaan maaf ku, akan ku bawakan hadiah yang paling spesial untuk kalian berdua, dan juga kalian tak perlu khawatir, bahwa aku dan Ruksa akan mendukung kalian benar kan Ca? " Daniel pun kembali menoleh, dan Dania pun masih terdiam dengan tatapan kosongng.
Tiba-tiba suasana menjadi semakin canggung, Daniel yang merasa terjebak dalam suasana itu pun hanya bisa tertawa canggung, tangannya mengambil gelas minuman miliknya, tapi sayangnya ia baru ingat bahwa minumannya sudah habis.
" Ambil saja punya ku. " Dania pun beranjak pergi dari tempat itu, ia tak bisa berlama-lama terjebak dengan kondisi itu, dirinya takut akan menimbulkan beberapa kecurigaan pada mereka.
" Maaf kan sikap dia, dia memang akhir-akhir ini sedang menjadi bereda., "
" Paman tak perlu meminta maaf. "
" Jika kamu berkenan, mampirlah ke vila, untuk sekedar makan malam sekaligus menyambut kedatangan mu. Bagaimana? "
" Tak perlu repot-repot, lagi pula aku yakin paman pasti sangat sibuk. Jadi ku pikir lain kali saja, oh iya, apa Ruksa tak merestui kalian? "
Bagaskara pun menghela nafas, ia pun menyandarkan tubuhnya kebelakang, dirinya mengatakan bahwa putrinya sangat menentang keras rencana pernikahannya, tapi dirinya juga tidak bisa mundur, selain dirinya sudah jatuh cinta pada calon istrinya, mereka juga akan segera di karuniai seorang buah hati, maka dari itu dirinya tak bisa mundur dan berharap ada sebuah keajaiban yang meluluhkan hati batu putrinya.
__ADS_1