
Selama pendakian, Rusdi dan Amar saling beradu mulut dengan saling melemparkan sindiran pedas. Meski terbilang berisik dan mengganggu, namun, Ruslan, Zaiden dan jiga Rajendra memilih mengabaikan mereka dengan menganggap keberadaan mereka tak ada di sana.
Tapi berkat pertengkaran anta Rusdi dan Amar, membuat hubungan Ruslan dan Zaiden, membaik dari sebelumnya, keduanya saling memikirkan strategi apa yang akan mereka gunakan.
Menyadari bahwa keberadaan mereka tidak di anggap, Rusdi dan Amar pun pada akhirnya diam dengan sendirinya.
Selang beberapa jam kemudian, mereka akhirnya menemukan sebuah rumah besar yang terletak di tengah-tengah hutan.
Zaiden, mengungkapkan bahwa rumah itu, adalah tempat yang mereka cari.
Tanpa membuang waktu, mereka berlima pun langsunng berpencar untuk menjalankan tugas mereka masing-masing.
Di tempat lain, di sebuah penjara bawah tanah, Dania menundukkan kepalanya sembari memainkan kuku jarinya, sejak mengetahui bahwa dirinya adalah adik dari Aldan. Seketika nafsu makannya menjadi hilang entah pergi kemana.
Pasalnya ia masih tak percaya dengan apa yang di dengarnya, rasanya terlalu mustahil untuk jadi kenyataan. Begitu pula dengan Ruksa, ia memang sudah tahu bahwa Dania memiliki darah Wisesa, tapi ia tak pernah menduga bahwa darah itu adalah darah dari Arga, anaknya paman Chandra.Yang katanya seorang gay. Tapi nyatanya tidak, meski dirinya belum memegang bukti yang kuat, tapi Ruksa percaya bahwa pria itu sebenarnya normal.
Entah siapa yang membohonginya, tapi Ruksa merasa sangat kecewa dengan pamannya itu, pantas saja, dia tak pernah mengungkapkan siapa ibu Aldan pada anggota keluarga Wisesa, dengan alasan, bahwa semua photonya telah rusak
Tapi, Ruksa akhirnya mengerti, alasan dari Ruslan yang melarang putrinya untuk mendekati keluarga Wisesa. Jika dirinya berada di posisi pria itu, ia pasti akan melakukan hal yang serupa dengannya.
Rasa bersalah pun, semakin menghantui perasaannya.
__ADS_1
Keduanya saling terdiam, tanpa berbicara sedikit pun, hingga keduanya dikagetkan dengan suara gaduh yang terdengar dari luar.
" Dania! "
" Ayah? Ruslan? " ucap keduanya dengan kompak.
Seketika, Raut bahagia pun terpancar dari wajah keduanya.
" Ayah! Aku di sini. " Teriak Dania dengan semangat.
Ruslan yang mendengar suara itu pun langsung berlari menuju sumber suara itu berasal.
Tubuh Ruslan pun mundur beberapa langkah. Kepalanya mendongkak, menatap kedua wanita kembar itu dengan tatapan dingin.
" Hey, paman, ini area terlarang. Jangan masuk sembarangan tanpa izin, " ujar Nagisa.
" Benar, tapi karena wajah paman adalah tipe kami, maka pergilah selagi kami berubah pikiran. Aku tak ingin merusak wajah paman. " tambah Nagira yang terpesona dengan wajah Ruslan.
" Hei J****g singkirkan tangan mu dari wajahnya. " kata Ruksa.
" Memangnya kenapa? Lagi pula paman ini tidak protes sam sekali. Benar kan paman? '
__ADS_1
" Menyingkir. " Ruslan berkata dengan raut wajah yang semakin dingin, setelah melihat kondisi putrinya
" Paman, jangan terlalu galak, kami hanya.
Buk! Buk! Buk!
Dalam gerakan kilat, Ruslan membuat gadis itu jatuh pingsan
Tanpa membuang waktu, Ia kemudian berlari menghampiri putrinya. Lalu membebaskannya, tak lupa ia membuka sela dimana Ruksa berada.
" Kalian baik-baik saja?. "
keduanya mengangguk dengan cepat.
" Apa kalian tahu dimana Bagaskara berada? "
" Ada apa memangnya? " tanya Euksa.
Bukannya menjawab, pria itu malah mengatakan , bahwa sebentar lagi, polisi akan datang. Akan tetapi.
" Ayah awas! " Teriak Dania keceplosan,
__ADS_1