
Setelah kejadian beberapa waktu yang lalu, Kedua mata Lingga tak lepas dari sosok Ruksa dan juga Mikael, pria itu terus memperhatikan setiap gerak gerik keduanya, memastikan bahwa tidak ada hal yang mencurigakan diantara mereka.
Tentunya, hal itu di sadari oleh Mikael, ia pun meletakkan sendok makannya, meletakkan kedua tangannya di atas meja, sembari menatap balik Lingga dengan tatapan tajamnya.
" Apa mata lo nggak sakit? Kenapa dari tadi lo terus mandangin gue? Jangan sampai lo bilang kalau lo suka sama gue, karena gue masih lurus. " ucapnya tiba-tiba.
Lingga yang mendengar hal tersebut mendengus sembari membanting sendok makan dengan cukup keras hingga mengeluarkan suara yang cukup nyaring.
" Dih, jangan ge'er, gue juga masih lurus kok, benda gue masih bisa berdiri kalau lihat cewek seksi. " belanya. " Gue tuh hanya merasa aneh aja, kenapa kalian begitu dekat padahal baru pagi ini kalian bertemu. "
" Memangnya kenapa? Kalau kami dekat, itu bukan urusan lo. " timpal El yang tak mau kalah.
" Iya jelas, ini urusan gue juga, sebab tugas gue adalah mengatur kalian supaya kejadian Roland tidak terulang kembali, lo pasti tahu kan? Siapa penyebab semua itu? ITU SEMUA GARA-GARA LO KARENA NGGAK BECUS MENGURUS ANAK BUAH LO SENDIRI. " terang Lingga yang mulai meninggikan intonasi nada bicaranya.
Kedua telapak tangan Mikael pun mengepal dengan erat
Di sisi lain, Ruksa hanya menonton adu mulut yang terjadi di depannya, berbeda dengan yang lainnya, mereka seperti tidak tak peduli sama sekali seakan-akan pertikaian antara Lingga dan Mikael sudah biasa terjadi.
__ADS_1
" Iya, gue akui itu, lantas apa? Gue emang nggak becus mengatur anak buah gue, tapi bukan berarti, lo berhak mengatur hidup gue, sebab lo bukan siapa-siapa gue. " Mikael yang merasa kesal, memutuskan untuk pergi meninggalkan meja makan serta sisa makanan yang masih tersisa banyak.
" El! Balik sini, atau gue laporin lo sama Ibu." teriak Lingga yang mulai naik pitam.
Akan tetapi, seakan telinganya menjadi tuli, El mengabaikan seruan Lingga, pria itu terus berjalan, tanpa menolehkan kepalanya sedikit pun.
Merasa di abaikan, Lingga pun memutuskan mengejar Mikael, akan tetapi, Veda langsung menghentikannya dan menyuruh Ruksa untuk mengejar EL.
Ruksa yang di mintai hal tersebut, langsung bangkit dari posisi duduknya, lalu mengejar Mikael yang sudah menjauh.
Namun, karena kakinya yang pendek, membuat Ruksa kesulitan untuk mengejar langkah pria itu dan pada akhirnya ia kehilangan jejak Mikael.
Jika saja di tempat itu ada sinyal, mungkin ia bisa menghubungi Ismail, dan memintanya untuk menemukan tempat itu, tapi sepertinya, tempat itu sengaja mematikan jaringan, agar para penyusup sepertinya tidak bisa memberi kabar ke orang luar.
Di saat dirinya tengah menyusuri tempat itu, ia tak sengaja malah menemukan Mikael yang tengah terduduk di sebuah Ayunan di taman.
Awalnya Ruksa tak peduli, sebab, misinya ini lebih penting dari pada apapun, akan tetapi . . . Hati kecilnya tergerak, merasa tak tega melihat El yang seperti itu. Pada akhirnya, ia pun memutuskan untuk menghampiri pria itu.
__ADS_1
" Gue pikir, seorang Mikael Lewis tidak pernah mengenal kata marah, jujur gue cukup kaget ternyata siswa teladan ini bisa berkata kasar seperti itu. " ucap Ruksa sembari mendudukkan pantatnya di kursi ayunan yang berada di samping kursi ayunan Mikael.
Pria itu pun menoleh." Aku juga manusia yang punya amarah seperti manusia lainnya. " ungkapnya.
" Gue pikir bukan, soalnya, di sekolah, lo tuh di kenal sebagai sosok yang sempurna, tampan, pintar, baik dan mampu merangkul orang lain. Berbeda dengan yang gue lihat barusan. "
" Apa kamu kecewa karena aku tak sesuai dengan ekspektasi mu? " tanya Mikael.
Ruksa pun mendengus tersenyum geli, ia kemudian memainkan ayunan itu sembari berkata bahwa dirinya lebih menyukai sosok Mikael yang tadi, karena dia terasa asli dari pada sosok Mikael sang ketua osis yang terasa palsu.
" Gue nggak pernah kecewa, malah gue salut sama lo karena mampu meranin sosok Mikael yang sempurna, karena, untuk menjadi sosok orang lain itu tidaklah mudah. "
" Apa maksud mu, seperti dirimu sekarang? "
Spontan, Ruksa pun menghentikan ayunannya, kedua matanya menatap Mikael. " Maksud lo? "
" Sebenarnya aku nggak yakin sih, hanya saja aku merasa kalau kamu bukan Dania yang asli, rasanya kamu seperti orang lain yang terperangkap di tubuh itu. "
__ADS_1
" Dari mana lo tahu kalau gue ini Dania palsu? Bukankah kita baru saja saling mengenal? Jangan bilang, kalau lo sebenarnya sudah memperhatikan gue sejak dulu. "
" Kalau iya, kenapa? "