
" Heh lo berhenti di sana!! " Teriak Roland dengan suara lantang. Ia terus melangkahkan kakinya dan mengejar Ruksa yang berada tak jauh dari tempatnya.
Namun, meski dirinya sudah berteriak, akan tetapi wanita yang berada tepat di depannya tak bergeming sama sekali membuatnya menjadi kesal dan pada akhirnya memutuskan untuk mempercepat langkahnya.
Grep!
" Lo denger nggak sih! " Roland berkata dengan nada kesal, setelah dirinya berhasil meraih tangan Ruksa. Dahinya mengernyit ketika mendapati wanita itu tengah memakai earphone di kedua telinganya. Pantas saja dia tak dengar sejak tadi. Tanpa sadar cengkeraman tangannya menguat.
Kedua alis Ruksa mengernyit, kedua matanya melihat ke arah tangannya yang di genggam dengan cukup kuat. ia pun melepas salah satu earphone nya. lalu mendelik tajam pada pria di depannya. " Kenapa?! " Tanyanya dengan nada ketus seraya menghempaskan tangan pria itu darinya.
Terdapat sebuah memar berbentuk jari di pergelangan tangan Ruksa akibat perbuatan Roland.
" Ayo bertanding. " timpalnya tanpa basa basi.
" Lo udah gila yah. "
" Gue nggak gila, " sanggahnya. " Okeh gue akui lo pasti masih dendam sama kejadian waktu lalu, dan gue pun sama! Gue masih nggak terima sama harga diri gue yang hancur gara-gara lo. "
Salah satu alis Ruksa terangkat sebelah, kedua tangannya terlipat di dada, ia mendengus seraya menatap pria itu dengan tatapan tak percaya.
' Bocah ini benar-benar sudah rusak otaknya, bagaimana bisa dia melampiaskan kesalahannya pada orang lain?! ' Batin Ruksa.
" Lalu? Ya itu sih urusan Lo bukan urusan gue! Lagi pula, kan lo yang salah, kenapa gue yang harus bertanggung jawab? Seharusnya lo malu sama diri sendiri, karena beraninya berurusan dengan cewek. Bukannya minta maaf malah ngajak gelut. " Tangan Ruksa pun kembali memasukkan earphone miliknya ke dalam telinganya lagi, lalu berjalan menjauh dari pria itu
Akan tetapi tangan Ruksa tiba-tiba di tarik kembali oleh Roland membuat ke dua kakinya kehilangan keseimbangan dan tubuhnya berakhir jatuh ke dalam pelukan pria itu.
" Dasar Pepakor!!! " teriak Laila dari kejauhan, kedua matanya melotot seraya mengepalkan kedua tangannya, perempuan itu berjalan setengah berlari ke arah Ruksa dan juga Roland.
Dahi Ruksa mengernyit ketika Laila meneriakinya dengan panggilan aneh.
Dia bilang gue apa?! Pap- pa- paprika?!
Plak!!
Sebuah tamparan keras mendarat di salah satu pipi Ruksa, saking kerasnya membuat kaca matanya terbang. Tak hanya itu saja, bahkan kini dirinya semakin menjadi pusat perhatian, menjadikannya sebagai bahan tontonan gratis.
" Lo ngapain deket-deket pacar gue?! Dasar Perebut Pacar Orang! " ujarnya dengan nafas yang masih memburu.
Kedua mata Ruksa mendelik tajam pada Laila, tangannya masih memegangi pipinya yang masih terasa panas.
__ADS_1
" Kenapa?! Mau mengelak?! Semua bukti sudah jelas, bahkan ada banyak saksi mata di sini bahwa lo sedang godain pacar gue!. "
Di dalam hati, Ruksa tak bisa mengutuk, ada apa dengannya hari ini? Kenapa harinya begitu sangat ingin menguji batas kesabarannya. Dan juga ia terkejut dengan sikap wanita di depannya. Bukankah dia pernah memperlakukannya dengan baik?! Lantas kemana sikap baik itu pergi?!
" Babe tenang. " Roland berkata, berusaha menenangkan sang kekasih, Ia tak ingin dirinya berakhir di skor lagi dan membuat harga dirinya semakin jatuh lagi.
Namun, bukannya semakin tenang, wanita itu malah naik pitam.
" Tenang kepala mu ketombean tenang! " teriak Laila lagi membuat para siswa yang menyaksikannya semakin menikmati drama yang sedang terjadi.
" Kamu salah paham!. " terang Roland.
" Salah paham?! Oh jadi kamu lebih milih belain dia dari pada aku gitu? "
Mendadak, kepala Roland terasa sakit, karena tak ingin membuat masalah yang tak perlu, ia pun menarik tangan sang kekasih membawanya pergi ke suatu tempat.
Ruksa yang masih terkejut atas apa yang baru saja menerimanya, hanya bisa terdiam mematung menatap kedua pasangan itu yang berjalan memunggunginya.
Kedua matanya mendelik tajam pada segerombolan orang yang masih asik menjadikannya sebagai bahan tonton gratis. " Apa yang kalian lihat?! Bubar! "
Ia pun mendecakkan lidahnya, lalu mengambil kacamatanya yang tergeletak di lantai, akan tetapi kacamata itu patah menjadi dua.
" Dania! "
Ruksa pun memutar bola matanya dengan malas.
Sekarang apa lagi?
Ia pun menolehkan kepalanya, dan mendapati Darian yang tengah berjalan ke arahnya.
" Ku dengar Roland mengajak mu berduel? "
Salah satu alis Ruksa terangkat, bagaimana bisa pria itu bisa tahu? Bukankah ini belum satu jam sejak Roland mengatakannya? Dia bukan batman 'kan?
" Dari keributan yang kalian buat, tentu aku bisa mengetahuinya dengan sangat baik, dan juga aku bukan Batman. " terangnya yang tahu apa yang sedang di pikirkan oleh wanita itu.
Kedua bola mata Ruksa terbeliak, menatapnya dengan tatapan terkejut, kedua tangannya membekap mulutnya. ' *Bagaimana bisa dia tahu jangan-jangan . .
Pletak! Darian menyentil dahi Ruksa*
__ADS_1
" Jangan berpikir yang tidak-tidak, semuanya tampak jelas di muka mu itu. " ujarnya, ia pun mempersempit jarak dengan Ruksa, menatapnya dengan tatapan netral. " Biar ku pertegas, aku ini manusia sungguhan bukan manusia super apalagi alien. " ucapnya dengan tegas.
Ruksa pun membulatkan bibirnya seraya mengangguk-anggukkan kepalanya, dan berhenti memikirkan yang tidak-tidak, takut jika pria itu membaca kembali pikirannya.
Keduanya pun saling terdiam, hingga perasaan canggung pun muncul di antara mereka.
" Ayo berbicara. " Darian berkata dengan nada serius.
Kali ini Ruksa tak menolak atau pun menghindar lagi, ia pun dengan patuh mengekori pria itu dari belakang.
Rasanya seperti nostalgia, untuk kedua kalinya Ruksa berada di dalam ruangan osis itu dengan posisi yang sama.
Keduanya saling terduduk bersebrangan, Darian terduduk dengan posisi kaki yang saling menyilang.
" Aku akan menawari mu sebuah kesepakatan yang menguntungkan kita berdua"
" Apa itu? "
" Bertandinglah dengan Roland secara resmi, jika kamu menang. Maka aku akan berhenti memaksamu lagi untuk masuk klub bela diri. Bagaimana? " tawarnya.
Jari telunjuk Ruksa mengetuk dagunya berkali, menimang-nimang, apakah ia harus menerima tawaran itu.
Tapi setelah di pikirkan kembali, tak ada salahnya menerima tawaran itu, lagi pula dirinya sudah lelah bermain petak umpet dengan pria itu.
" Ok, tapi aku menginginkan beberapa syarat lagi. "
Tiba-tiba pria itu terkekeh dan mengatakan bahwa Ruksa ternyata masih memiliki otak di balik penampilan bodohnya.
Mendengar hal tersebut, ingin rasanya Ruksa merobek mulut pedas itu. Namun ia harus menahannya untuk sementara.
" Seberapa besar pengaruh mu di sekolah ini? "
" Kenapa bertanya? "
" Tentunya untuk sebagai bahan persyaratan. "
Tanpa membuang waktu lagi, Darian pun menjelaskan bahwa dirinya mampu membuat Ruksa di keluarkan dari sekolah.
Ruksa pun menyunggingkan senyumnya, ia pun kembali bertanya, apakah dia mampu membubarkan perjudian yang selalu terjadi di sekolah itu pada malam hari.
__ADS_1
Namun pria itu malah tergelak, dan mengatakan bahwa memang dirinya sempat kecolongan. Tapi dia menyangkal keras tentang semua itu dan mengatakan bahwa Ruksa hanya sebuah omong kosong belaka