
Hari berganti hari, bulan pun terus berlalu, Dania pun perlahan tumbuh menjadi anak yang manis dan tidak rewel. Bibi May juga mengatakan bahwa gadis kecilnya itu tak pilih pilih makanan, bahkan tidak usil pada teman sebayanya, hanya saja dia sedikit pemalu dan pendiam.
Setiap kali Ruslan pulang, gadis kecilnya itu selalu berlari kearahnya, memeluknya seraya memanggilnya Yah. atau mungkin maksudnya adalah Ayah.
Kata itu, pertama kali ia dengar ketika Dania baru berusia satu satun dan kini sudah menginjak usia dua tahun.
Awalnya dirinya menangis ketika kata pertama yang di katakan oleh gadis kecilnya itu adalah kata Ayah dan itu diucapkan langsung padanya saat itu juga.
Lambat, laun dirinya mulai terbiasa dengan panggilan itu, entah kenapa ia merasa bangga sendiri, setiap kali kata itu terucap.
Deretan giginya yang mulai terlihat membuat Ruslan gemas sendiri. Ingin rasanya kedua tangannya mencubit kedua pipi itu dan lalu menggigitnya dengan gemas.
Padahal, dulu dirinya sangat tak menyukai anak kecil, bahkan kepada adiknya sendiri yaitu Rusdi yang terpaut usia cukup jauh yaitu 10 tahun, baginya anak kecil itu sangat berisik dan menyebalkan.
Namun anehnya, semua pemikiran itu menghilang begitu saja setelah dirinya bertemu, mengasuh, dan menemani Dania tumbuh hingga sekarang yang sudah tumbuh dewasa.
Andaikan Nisya masih hidup, mungkin dia akan bahagia melihat putrinya tumbuh dengan baik, bahkan kini dia bersekolah di mana sekolah itu merupakan tempat sekolah wanita itu dulu.
Entah itu baik atau buruk, namun Ruslan bersyukur karena bayi kecilnya sudah tumbuh menjadi gadis yang berprestasi sama hal nya dengan ibunya dulu. Hanya saja wanita itu tak ingin terlihat menonjol, dia lebih memilih jadi terlihat bodoh dari pada menjadi pusat perhatian.
Akan tetapi, rasa bangga itu tak berlangsung lama, ketika dirinya menyadari bahwa putrinya ternyata telah selama ini menderita. Dirinya yang menganggap dirinya sebagai seorang Ayah merasa telah gagal.
Rasa bersalah pun kembali tumbuh dalam hatinya, apalagi hal itu terus berulang hingga masuk ke rumah sakit dan harus di rawat inap.
Jika Nisya masih hidup, Ruslan tak pernah membayangkan betapa murkanya wanita itu terhadapnya.
Terkadang, di saat dirinya berada di posisi seperti ini, membuatnya selalu merindukan sosok dari Ibunya, sudah sangat lama tak terdengar kabarnya.
Apakah dia baik-baik saja? '
Seakan do'anya terkabul, adik yang selalu tak ia gubris keberadaanya, tiba-tiba menelponnya dan mengatakan bahwa ibu mereka ingin bertemu dengannya.
Awalnya Ruslan merasa bahagia mendengar kabar tersebut, namun ia tiba-tiba merasa ragu, takut jika Ayahnya pasti tak akan mengizinkannya. Akan tetapi, Rusdi meyakinkan bahwa Ayah mereka tak akan tahu, sebab dia sekarang sedang sibuk sekali karena tengah melakukan proyek besar-besaran di luar negeri, jadi mereka tak perlu khawatir jika ketahuan.
Mendengar hal tersebut, Ruslan pun langsung menyetujui permintaan sang adik untuk pertama kalinya, ia pun berangkat pada pagi buta untuk menemui sang Ibu. Tak lupa dirinya meninggalkan catatan untuk putrinya.
__ADS_1
Dengan pakaian super rapih, ia menunggu seorang diri di bandara.
" Ruslan, apa itu kamu? "
Ruslan pun berbalik, kedua matanya terbeliak ketika melihat sosok ibu yang sudah amat di rindukannya,
Padahal dirinya dan sang ibu telah terpisah belasan tahun lamanya, namun wanita yang sudah memiliki kerutan di wajahnya itu ternyata masih mengenalinya.
Di depan para pengunjung bandara, pasangan ibu dan anak itu saling meluapkan rasa rindu yang terpendam dengan saling berpelukan erat satu sama lain.
" Kenapa kamu kurus sekali? Apa kamu makan dengan cukup? Bagaimana dengan tempat tinggal mu? Apakah nyaman? " Tanya sang ibu secara beruntun.
Ruslan pun menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.
Melihat ibu dan kakaknya saling berpelukan Membuat Rusdi yang merasa terasingkan langsung berdeham dengan keras, hingga menyadarkan pasangan ibu dan anak itu.
" Dia siapa? " tanya Ruslan bingung.
" Lo kok tega banget sih sama adek sendiri. Masa nggak ngenalin sama sekali. " Ucap Rusdi seraya berkacak pinggang, berdecak lalu membuang wajahnya.
Ia tak pernah menyangka bahwa adiknya yang pendek dan gendut itu bisa berubah menjadi pria tinggi, tampan dan berkharisma, meski semuanya masih di bawah levelnya.
Namu tetap saja, dirinya masih terkejut
" Iya, sorry, soalnya gue pangling sama perubahan drastis lo. " Ungkap Ruslan.
" Kenapa? Gue makin gantengnya. " Ungkapnya dengan penuh percaya diri seraya menaik turunkan kedua alisnya secara bersamaan.
Namun, Ruslan tak peduli sama sekali, ia pun membawa ibunya berjalan meninggalkan bandara, mengabaikan adiknya Rusdi yang sedang berceloteh panjang lebar.
" Hei tunggu! Kalian kok jahat. "
Karena ketiganya belum memakan apapun, mereka pun memutuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu.
Ruslan pun membawa ibunya kesebuah restoran favoritnya bersama Dania. yaitu sebuah restoran cepat saja, di mana mereka menyediakan berbagai olahan ayam goreng.
__ADS_1
" Oh iya kak, kenapa lo mendadak batal pergi? " Tanya Rusdi tiba-tiba setelah sang ibu pergi izin ke toilet.
Ruslan yang tak ingin membahasnya pun hanya terdiam. seraya memainkan minuman soda di tangannya.
"Mendapat perlakukan seperti itu dari kakaknya membuat hati Rusdi tersakiti dan juga bertanya-tanya apa salahnya
" Salah lo banyak, salah satunya karena lo udah ngerusakin mainan T-rex gue , Padahal itu mainan adalah hasil dari uang yang gue tabung dengan susah payah. " terang Ruslan.
" Ya elah, masih dendam ternyata, ya udah sini gue gantiin deh, berapa puluh juta sih harganya. " tantang Rusdi
Salah satu alis Ruslan terangkat ke atas, sebenarnya harga mainannya tak seberapa, namun karena dirinya harus menunggu cukup lama jadi dirinya sangat menyayangkan mainan itu harus berakhir di pembakaran., ia pun menyunggingkan senyumnya
" Satu miliar. " gamblangnya.
Uhuk! Uhuk! Uhuk! Rusdi tiba-tiba terbatuk udara.
" Lo gila yah, mana ada mainan semahal itu. " tukas Rusdi.
" Bukannya lo yang minta. "
" Ya nggak gitu juga, yang realistis dong kalau minta, gue kan baru lulus kuliah. "
" Tenang, bisa di cicil kok, lo tinggal pilih, berapa bulan yang mau lo ambil. ". timpal Ruslan
" Ini gue lagi ganti rugi mainan kan, bukan nyicil rumah? "
" Makanya kalau mau rusak barang tuh mikir dulu, jangan main embat aja. "
" Ya lo juga salah dong, naro mainan sembarangan Jadinya kan . .
" Kenapa kalian sangat ribut? Bukankah kalian baru saja saling bertemu? " sela ibu mereka yang baru datang dari kamar mandi.
" Dia duluan Bunda. "
" Dasar tukang ngadu. "
__ADS_1
Keduanya pun saling tak ingin mengalah, hingga akhirnya, sang ibu langsung turun tangan untuk melerai kedua putranya