
" Sampai kapan aku tidak diperbolehkan kesana? Sampai kapan?" Merajuk, marah.
" Bisakah kita bersama lebih lama lagi, bisakah melupakan sejenak main kesana?" Bujuk Ash
" Dengar Ash, Dira mungkin saja sedang dalam masa sulit," itu terpikir begitu saja
" Ada apa disana, apa kamu sedang dalam bahaya?" Khawatir
" Sihirku berfungsi, meski sedikit, bahkan main disana baru saja dimulai, sulit apa? Aku saja sedang mencari masalah, tapi toh masalah kecil tuh gak bisa menggerakkan hatiku, mereka terlalu mudah untuk tidak dihiraukan"
" Tolong ceritakan detail nya putri Olivia!" Tegas
" Begini (menceritakan keseluruhan)"
" Tolong jauhi mereka! Bagaimanapun pria disana tak tahu jelas," sedang cemburu
" Berarti aku bisa kesana? sekarang?"
" Err itu..." Bingung
" Hmmm bagaimana jika begini, Ash aku akan mengabulkan satu permintaan saja, tapi jangan berhubungan dengan perasaanmu itu, jangan membuat permintaan yang mustahil, ok?" Hanya ini yang bisa Olivia tawarkan
" Mmm..." Memikirkan
" Benar nih?" Tanya Ash memastikan
"Iya," jawab singkat
" Kalo begitu ayo kita ke kamar putri," menggaet tangan, semangat.
" Tunggu, aku aku aku tidak bisaaa!" Muka merah
"?" Ash keheranan
" Ini permintaan ku putri, ini sangat aman," tersenyum lembut
" Baiklah," menurut. setelah tiba.
" Lalu?" Tanya Olivia
" Permintaan ku adalah... melihat dirimu seusiaku,"
" Ash apa maksudmu?"
" Aku hanya ingin melihat dirimu yang dewasa seusiaku sekarang," tersenyum
" Bagaimana bisa?" Aku tidak tumbuh cepat begitu dasar bodoh, gerutu dalam hati
__ADS_1
" Aku bisa," membelakangi, takk!! Menjentikkan jari, seketika asap berhamburan, Olivia menjadi dewasa seperti yang diinginkan Ash.
" Bagaimana?" Mata tertutup, lalu tertawa, merasa bangga, dan masih membelakangi.
" Ash jangan lihat aku," teriak Olivia
" Eh? Kenapa? wah suaramu berubah...hebat"
" Jangan lihat aku!"
" Kenapa? Kamu berubah jadi hewan? jadi jelek? Apa sihir ku gagal?" Cemas, menggigit jari, berat untuk melihat.
" Anu...itu, pakaian kecil ku robek, aku sekarang sedang tidak pakai apa-apa, bisakah kamu berikan aku pakaian?" Malu-malu
" E?eh?eehhhhh??? Kamu tidak pakai..." Muka merah
" Sekarang be berikan cepat!!" Malu, Takk!! Sekarang Olivia lengkap dengan gaunnya.
" Terima kasih, sekarang kamu bisa lihat aku," meski begitu Olivia tetap dengan wajah memerah, Ash membalikan badannya perlahan, tapi matanya tertutup.
"..." Olivia hanya diam, perasaannya berbeda dengan tubuhnya yang sekarang telah diubah
" Putri...inikah dirimu?..." Setelah membuka mata
" Aku tidak tahu, cepat ubah aku kembali!" Malu, menutupi wajah dengan kedua tangan.
" Berhenti omong kosong," memalingkan wajah
"..." Ash mendekat
" Kenapa rasanya aku terus berkeringat?" Gumam Olivia
" Rasanya aku ingin kau tumbuh sebesar ini sekarang," meraih helaian rambut dan menciumnya
" Anu, kenapa aku berkeringat?"
" Keren, kamu jadi terlihat menggairahkan," senyum lembut
" Heh mesum, ubah aku cepat! Aku tidak nyaman," perintahnya
" Bagaimana mungkin kita tidak melakukan sesuatu? Sudah kuubah kamu yang begini... rasanya jika aku tidak melakukan sesuatu, aku akan menyesal"
" Apa maumu Ash?" Sinis
" Pfft...kenapa dengan semua ekspresi yang kamu tunjukan, semua tampak menggemaskan,"melangkah, melewati Olivia, pergi menuju ranjang.
" Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Kemarilah, tidur dengan ku.."
" Mesum!"
" Aku tidak akan melakukan apapun, aku bukan orang mesum yang kamu pikirkan, haiss" Takk!! Tubuh Olivia melayang, membawanya menuju Ash.
" Apa-apaan ini Ash?" Terkejut, mendekat, sangat dekat dengan wajah Ash.
" Hahaha jangan takut, lihat wajahmu, dewasa seperti aku..."
" Ini anak usia 12 tahun, mana ada dikatakan dewasa?" Sela Olivia
" Iya ya...tapi, kamu yang seperti ini sangat enak dipandang, maksudku kita serasi," menyentuh wajah Olivia dengan lembut
"Menyingkir! Aku tidak suka disentuh!" Marah
" Pfft...masih galak ya, wajah cantik mempesona, tubuh mungil gadis remaja, harus nya wataknya itu lemah lembut kan?"
" Iyuu, menyebalkan!" Memalingkan wajah
" Turunkan aku Ash, jangan main-main denganku!" Ekspresi yang lucu, menurut Ash.
" Baiklah," Takk! Brugh...jatuh kepelukan Ash
" Ukh...memang ya, bukan anak usia 6 tahun lagi, rasanya beda...haha berat..." Olivia masih diam, dia mengeluh untuk bangun, dirinya yang saat ini merasa tidak nyaman berada diatas tubuh pria yang mencintainya, apalagi sekarang tubuhnya seukuran tubuh Ash, rasanya canggung.
" Hmmm? Aku salah bicara? Kenapa tidak bicara? Olivia? putri? Kamu tidak apa-apa?" Panik
" Ash bodoh!!" Akhirnya bangkit perlahan, wajah memerah, Ash yang melihatnya pun tak kalah merah wajahnya.
" Ah ba baiklah tidak main-main lagi..." Setelah beberapa menit Ash baru bicara
" Ka kalau begitu kamu bisa ba bangun," kikuk, Olivia hanya menatapnya dengan datar
" hmph, kamu ingin bermain denganku? Bodoh!" Senyum licik
" Apa yang...?" Wajah Olivia seketika dekat, sangat dekat, tangan lembutnya membelai halus bibir Ash, jantung keduanya berdetak sangat cepat.
" Permainan berakhir, haha..." Tawa puas Olivia, tidak terjadi apa-apa, Olivia hanya jahil.
" Rasanya aku ingin jalan-jalan lebih dulu, yeah aku menantikan tubuh ini, rasanya ingin cepat besar, sebal!" Beranjak, Ash masih membeku, perlahan memegangi dadanya yang mana hatinya merasa berdebar.
" Pfft...jangan main-main denganku ya Ash!" Mata kanan mengedip, isyarat ancaman halus.
"...." Aku tidak akan main-main lagi, bisa-bisa aku kena serangan jantung, bahaya! batin Ash.
"Hmph, dasar mahkluk halus!" Ledeknya, 'lalu bagaimana denganmu? apakah kamu yang disebut mahkluk kasar?' batin Ash.
__ADS_1