Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
74


__ADS_3

Saat bel masuk Aldan tetap tak terkekeh, ia tak bisa melupakan ekspresi Laila yang terkejut sekaligus ketakutan setengah mati, baginya melihat semua hal itu sangatlah menyenangkan. Tapi dirinya sangat menyayangkan kejadian itu, seharusnya dirinya mengabadikan momen itu untuk di jadikan sejarah.


Di samping kursi Aldan, Ruksa yang sejak tadi memperhatikan, tidak habis pikir sedikit pun, dari pada kepalanya semakin pusing ia pun memilih mengabaikan laki-laki itu, dirinya masih terkejut dengan sifat asli dari Aldan yang sangat jauh di luar ekspektasinya.


Di hadapan keluarga Wisesa, Aldan sangatlah pendiam, tatapannya selalu netral dan dingin. Tapi di sini, dia seperti anak SMA pada umumnya, Rasanya Ruksa seperti mengenali dua orang yang berbeda.


Tapi tunggu? Aldan tidak seperti dirinya bukan? Yang jiwanya tertukar? Tapi kalau dirinya tidak salah ingat, sang malaikat maut mengatakan, bahwa dirinya dan Dania adalah kasus pertama


Lantas apa yang membuat Aldan berubah sejauh ini? Sungguh Ruksa tak bisa mengakui bahwa laki-laki di sampingnya adalah sepupu pendiam yang di kenalnya selama ini.


Atau mungkin, inilah sifat aslinya, hanya saja dia menyembunyikannya dengan baik dari keluarga Wisesa.


Padahal dulu dirinya pernah berpikir bahwa laki-laki itu tak banyak bicara pasti karena tekanan dari keluarga Wisesa yang selalu mengolok-oloknya karena di tinggal pergi oleh kedua orang tuanya, dan memang sebuah fakta bahwa Ayahnya memang tak ingin mengakui akan keberadaanya, maka dari itu Ruksa berpikir, mungkin dia tak ingin semakin sakit jika membuka mulut.


Namun Ruksa harus mengenyahkan pemikiran itu semua, nyatanya dia seperti remaja pada umumnya, dia berbincang-bincang, tertawa bahkan mengerjai orang lain.


Patut di akui, anak muda di keluarga Wisesa sangat lah menyebalkan, setiap kali ada pertemuan keluarga, mereka pasti akan mejadikan pertemuan itu sebagai ajang menyombongkan diri.


Tapi Ruksa sangat lega, bahwa laki-laki itu tak selemah yang di kira, ia pun tak perlu khawatir dengan masa depan Dania nantinya, sebab ada Aldan yang akan menjaganya.


Akan tetapi Ruksa penasaran, apa yang terjadi pada Laila sekarang? Sebab gadis itu belum menampakkan batang hidungnya sama sekali, padahal kelas sudah di mulai satu jam yang lalu.


Gadis itu tidak mungkin pulang dan jadi gila kan?


Entah kenapa Ruksa merasa kasihan pada gadis itu, padahal dia tidak melakukan kejahatan yang fatal pada Dania. Tapi harus menerima karma seperti itu.


Sungguh kasihan.


*


Di sebuah tempat yang merupakan toilet laki-laki, Laila memeluk kedua lututnya, ia begitu ketakutan, rasanya seperti tengah di kejar oleh para segerombolan Zombi yang terjadi di film-film.

__ADS_1


Saat ini Laila tengah menyesali keputusannya, jika tahu bakal seperti ini, dirinya tak akan meminta bantuan Abah Tomo.


Dan juga sampai kapan dirinya harus bermain petak umpet seperti ini? Jika seperti ini, dirinya tak yakin akan bisa hidup hingga sepuluh tahun ke depan. .


Krieeet~


Tiba-tiba terdengar pintu kamar mandi di buka yang kemudian di ikuti oleh suara gaduh segerombolan anak laki-laki yang di yakini berasal dari klub pecinta Anime/kartun


Tanpa sadar Laila pun meneguk salivanya, tubuhnya gemetar hebat, ia takut bahwa orang-orang yang berada di luar menyadari akan kehadirannya, dengan jantung yang berdegup dengan kencang, kedua tangannya di tangkup seraya merapalkan do'a meminta bantuan pada tuhan, berharap nyawanya masih bisa di selamatkan.


Setelah cukup lama menunggu, mereka pun pergi. Laila pun akhirnya bisa bernafas lega. Tapi tiba-tiba . . .


" BAM! "


" Akhhhhhh! "


Laila pun akhirnya jatuh pingsan tak sadarkan diri.


Di detik berikutnya kedua bola mata mereka terbeliak ketika melihat Laila yang jatuh pingsan dengan ekspresi ketakutan.


Tak lama kemudian tim medis pun datang dan membawanya ke medis untuk di lakukan pemeriksaan.


" Ayo bubar! Kembali ke kelas kalian sekarang juga! " teriak Pak Wiro yang mulai marah.


Seketika para siswa dan siswi pun berlari terbirit-birit kembali ke kelas mereka masing-masing.


Di saat orang-orang yang penasaran dengan apa yang terjadi, Aldan malah tertidur pulas di dalam kelas dengan nyaman, padahal seisi sekolah tengah di landa kegaduhan namun tampaknya dirinya tidak merasa terganggu sama sekali.


Queensha yang melihat sikap tenang dari Aldan, langsung menaruh curiga.


Bel pulang sekolah pun telah berbunyi, para siswa dan siswi pun mulai berjalan berhamburan meninggalkan kelas.

__ADS_1


" Oi bangun, lo nggak mau pulang? " Ujar Ruksa yang berusaha membangunkan Aldan.


Laki-laki itu menggesek kelopak matanya, badannya menggeliat nikmat, setelah puas ia pun merapihkan bawaannya.


" Mau bareng nggak? Gue anterin sampai rumah. "


" Oh, bo. . .


Tiba-tiba ponsel Ruksa bergetar di dalam saku seragamnya. Salah satu tangannya merogoh benda itu dan melihat sebuah panggilan masuk dari Bibi May. Tanpa ragu ia pun menggeser ikon hijau pada layarnya.


" A . . .


" Ayah kamu kondisinya sedang gawat! " Teriak bibi May di seberang sana dengan nada serius nan panik.


Ruksa yang mendengar tersebut, ikut panik


" Ma-maksud Bibi May? " Tanya Ruksa yang masih mempertahankan kewarasannya.


Namun, bukannya menjawab, wanita itu malah menyuruh Ruksa untuk tidak banyak bertanya dan menyuruhnya untuk datang ke rumah sakit sesegera mungkin. Dan parahnya lagi wanita itu langsung menutup panggilan tanpa menunggu jawaban darinya lebih dulu.


Seketika kewarasan Ruksa pun luntur saat itu juga, ia tak bisa berpikir positif setelah mendapat berita itu. Ia pun sejenak menjadi linglung, ia begitu takut jika terjadi sesuatu pada Ruslan, pasalnya mereka belum berbaikan. Jika hal ada hal buruk yang terjadi, ia tak tahu bagaimana menghadapi Dania nantinya?


Di saat dirinya tengah Linglung, sebuah tepukan tangan di bahunya menyadarkannya. Ia pun berbalik dan mendapati Aldan dengan raut cemas di wajahnya


" Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi? " Tanya Aldan.


" Oh itu. . Rus. . . Maksud gue bokap gue kayaknya sedang tidak baik-baik saja di rumah sakit, dan gue harus segera ke sana. " timpal Ruksa dengan terbata-bata.


" Kalau gitu gue anterin. "


Tanpa pikir panjang, Ruksa pun menggelengkan kepalanya dengan keras, dirinya tak bermaksud menolak tawaran Aldan, hanya saja laki-laki itu mengendarai mobil jadi tidak mungkin baginya untuk bisa sampai ke rumah sakit dengan tepat waktu, maka dari itu ia pun memilih ojeg online saja sebagai alternatif.

__ADS_1


Aldan yang tidak bisa membantah fakta tersebut hanya bisa membiarkan perempuan itu pergi seraya berkata hati-hati. Di detik berikutnya setelah kepergian Ruksa, Aldan pun malah ikutan gusar, ia pun berharap semuanya akan baik-baik saja.


__ADS_2