
" Nah sekarang bisakah kami bertukar jiwa lagi?"
" Tidak, aku masih merindukanmu," seketika menempatkan Olivia di pangkuannya
" Ini, ini sangat kekanakan, aku bukan anak kecil,"
" Hmm pada kenyataannya kamu memang lah anak kecil, ringan dan kecil, bayi kecilku..." nada mengejek
" Ya? Lalu mengapa bisa jatuh cinta terhadap bayi?" Sama-sama mengejek
" Kamu dewasa dari apa yang dilihat dari tampilanmu sekarang, pikiran mu begitu dewasa...yeah begitulah, sekarang aku menyukaimu toh nanti kamu juga akan tumbuh dewasa, aku sudah mengincar mu sejak kecil, jadi dewasa nanti tidak akan aku lepaskan..." Senyum licik
" Oh begitu," tatapan mengejek
" Yeah" Ash tersenyum manis
" Tapi kenapa harus dengan posisi ini?," posisi Ash yang tertidur bersandar di bantalan besar dan Olivia duduk diatasnya memegangi buku.
" Supaya aku bisa melihat jelas wajahmu," Olivia menghela nafas panjang dan hanya bisa pasrah lalu kembali membaca buku, Ash menatap penuh kasih, sangat mengagumi orang yang sekarang tengah membaca buku saat ini yang sesekali membuatnya menahan tawa karena ekspresi yang ditujukannya, bahkan dirasa jantung nya berdegup kencang.
" Sekali lagi menggangguku, aku akan berhenti bicara denganmu!" Acam Olivia
"Pfft...baik, baiklah, aku akan diam, hmm" isyarat mengunci mulut, Olivia hanya menggelengkan kepalanya, sekali lagi membuat Ash menahan tawa.
" Ash!!!" Memperingati
" Yaya itu salahmu juga, kenapa begitu imut," tersenyum
" Aku seharusnya tidak berjodoh dengan orang bodoh kan?" Ash terdiam, memperbaiki sikapnya yang kekanakan.
" Ehmm, ya itu benar, tapi aku bukan orang bodoh, aku penyihir cilik yang jenius! Dan rasanya dengan ini aku bisa membangun istana dan lain sebagainya..." Bangga
" Aku terkejut, kamu menganggap tinggi dirimu," mencibir
" Ya memang itu kenyataan nya..." Senyum jengkel, Olivia hanya tersenyum geli. Siang itu berakhir dengan TIDUR, mereka berdua tertidur pulas, beberapa menit kemudian Ash terbangun dan mendapati sosok anak kecil yang menindihnya, seketika sadar, lalu tersenyum memandangi gadis pujaannya.
" Apa yang membuat ku jatuh cinta padamu, bayi kecil! Aku tidak paham, tapi rasanya aku hanya ingin bersamamu, bersamamu dan tak terpisahkan yang hanya ajal jalan akhirnya..." Membelai rambut Olivia, warna rambut kuning keemasan yang sangat lembut, gadis kecil yang sangat spesial Dimata semua orang, yang mampu membuat Ash berpikir kelak dia memiliki saingan berat.
" Semoga kita saling mempertahankan ya," tatapan sedih itu membayangkan dimana tiba saat ia dewasa akan terjerat perjodohan politik kerajaan, sangat tidak rela dan enggan melepaskan, Ash tidak mau hal itu terjadi.
" Ash...aku ingin bertukar...jiwa...Dira " mengigau
"Huh segitu inginnya kamu main kesana, atau jangan-jangan, tidak, tidak mungkin kan? Apa dia menyukai pria lain disana?" Galau dan cemburu, mengepalkan tangan.
Bulan lalu, saat Dira bertukar jiwa kembali, Dira yang sangat-sangat kebingungan, dengan yeah mimpi besar yang tersembunyi rapat yang menjadi kenyataan entah kenapa seakan ilusi.
" Bos, kamu mau kami bawakan makanan," Gerand, Dira ingat namanya, dibelakangnya ada tiga anak laki-laki yang namanya sedikit samar untuk diingat.
__ADS_1
" Mmm... itu, tidak, aku harap kalian tidak terus menempel disisiku, aku...aku baik-baik saja," mereka tersenyum, dan menurut.
" Fuhh, itu, Olivia aku tidak tahu apa rencanamu, inikah yang kamu sebut main?" Mengehela nafas panjang
"Tunggu, tunggu dulu, Gerand dan teman-teman nya kan kumpulan orang pembuli, hih! Merinding, entah apa awal mulanya..." Pst pst...sutt bisik-bisik, Dira hanya menahan malu saja, ia dikenal dengan keramahan, kepintaran, kepolosannya, sehingga mudah diperalat, tapi kini berubah jadi bermuka dua, alias pribadinya jadi berubah, mereka berpikir Dira selama ini hanya pura-pura bodoh. Beberapa jam kemudian, saat jam terakhir kelas matematika.
Kring!! Kring!! Bel pulang, seketika siswa di kelas itu merasa berakhir dari penderitaan. Dira terkejut, Gerand dan teman-teman nya ada di depan kelas.
" K, kalian?" Bingung
" Seperti yang kamu mau, aku akan mengantarmu pulang, kamu tidak ingin semobil dengan sadara tirimu kan? Aku bawa mobil, 2 temanku ikut denganku, masih ingat namanya?"
"Tidak," sungguh tidak diduga, batin Dira
" Zain dan Leo, lalu mereka bertiga membawa motor masing-masing, perlu ku ingatkan?"
"..." Membisu, Gerand menghela nafas
" Jack, Mike, dan Brian...kuharap kamu mengingat kami, sesuai perjanjian, aku adalah laki-laki sejati, kamu bosnya disini..."
" Apa?!" Kaget, mereka keheranan dan berpikir ' bukankah itu yang diinginkannya kemarin?'
" Anu..." Bagaimana bisa aku terlibat dengan kalian? Gerand adalah ketuanya, kenapa Olivia berurusan dengan Gerand, meskipun Gerand pria tampan, tapi dia itu playboy tingkat dewa, dan pembuli yang terkenal sadisnya, bagaimana bisa? Dalam hati
" A,apakah ka-lian bisa lupakan itu? d,dan kalian bisa bebas dari permintaan konyolku itu" berusaha tersenyum, berusaha tidak gemetar.
" Hmm? Apakah kamu mau mempermalukan ku? Membodohiku? Mempermainkan kami?" Tatapan hampa, tiada ekspresi apapun
" Saat itu aku tidak menduga, cewek lemah yang orang bicarakan, kemarin menantangku, benar-benar berani sekali, dan memalukan aku dikalahkan, bahkan teman-teman ku juga, aku tidak menyebut itu keberuntungan, kami memang kalah..." Tutur Gerand
" Ha haha, anggap saja aku sedang beruntung,"
"Hmm, Kamu begitu berani, sepertinya aku suka padamu," senyum khas orang pembuli
"...." Membeku, hah?apa?suka? Dia suka aku? Mustahil! Dalam hati
" Yeah bahkan, mmm ya perutku sedikit sakit, masih terasa sekarang," ungkap Zain menyela
"Err maafkan aku," apa sebaiknya aku kabur? Berpikir keras, 'tapi jika kabur itu menimbulkan masalah'.
" Kenapa minta maaf?" Tanya Zain
"Apa?" Dira heran
" Kemarin kamu begitu sadis," sela Jack
" Ini, waktunya pulang, aku harus pergi..." Hendak pergi
__ADS_1
" Tunggu," meraih tangan
"Ku antar pulang," lanjutnya
" Tidak apa-apa,"
" Dira!" Mmm siapa, Luis? Menoleh ke asal suara
" Lepaskan adikku!"
" Yo, kamu itu hanya kakak tirinya," kata Leo, pria loli yang ternyata berhati dingin
" Lalu kalian apa? Sodaranya? Keluarganya?" Luis dengan berani bicara sinis
" Aku akan pulang dengannya, kalian pergilah," kata Dira yang dengan segera menarik tangan Luis menjauh.
" Cih, bocah pengganggu," desis Leo
" Dia harus bertanggung jawab, bagaimanapun dia harus tetap bergabung dengan kita," kata Gerand dengan senyum licik
" Hey kamu benar-benar menyukainya?" Tanya Jack
" Iya, sepertinya aku memang menyukainya" tersenyum.
"Kenapa dia terasa sedikit berbeda," heran Mike
" Apa maksudmu?" Tanya Gerand
" Ada yang berbeda, matanya berbeda" ucap Brian akhirnya bicara
" Yeah, mata dingin yang seakan menyepelekan kita, itu entah kemana, dia tadi, matanya memancarkan rasa takut dan gelisah" kata Mike
" Aku tidak tahu, mungkin dia orang yang bermuka dua, pandai berakting, hmm siapa yang tahu?" Pendapat Gerand
" Yea siapa yang tahu, hahaha...ok let's go" kata Leo, sang periang dalam geng itu. Sedangkan Dira dan Luis hanya terdiam.
"..." Aku harus bagaimana, batin Dira gelisah.
" Ehmm..." Berdehem, karena merasa canggun.
"Eh?"
" Kenapa akhir-akhir ini kamu berubah, apa karena kamu begitu tersiksa? Aku minta maaf untuk mewakili mereka," wajah sedih
" Kakak, aku tidak ingin menghakimi siapapun," ya itu perbuatan sang putri kecil, Olivia. Batin Dira
" Lalu kenapa kamu bergaul dengan mereka?"
__ADS_1
"Kakak! Cepat kita mau pulang," kesal Jena, sang ayah hanya tersenyum saja melihat anak-anaknya yang menggemaskan.
" Mungkin, ada baiknya kamu tidak tahu apa-apa, atau mungkin kamu bisa tahu dan mengubah nasib bersama," gumam Dira. ' etah kenapa aku ingin sekali jujur padamu, agar tidak ada kesalah pahaman dan juga aku tidak sendirian menyembunyikan rahasia ini' batin Dira. Sejak saat itu, Dira selalu diganggu atau lebih tepatnya di layani oleh para pembuli itu, mereka sangat membedakan sikap mereka terhadap Dira, Dira merasa sedikit risih dan tidak enak hati, dan yang pasti para gadis merasa cemburu dan lebih membencinya lagi.