Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
33


__ADS_3

Hari ini Ruksa merasa bahwa dirinya seperti sedang tidak menjadi dirinya sendiri. Biasanya pada jam segini, rasa kantuk selalu datang menyerangnya dan membuatnya tertidur selama pelajaran itu berlangsung.


Dia bahkan gak menyadari bahwa Queensha sudah kembali dan kini tengah mengawasinya dari tempat duduknya.


Entah sudah ke berapa kali dirinya menghela nafas, yang terpenting sekarang, dirinya sangat merindukan rasa kantuk itu.


Semua ini karena percakapannya dengan Ruslan tadi malam yang membuatnya terus mengganggu pikirannya hingga sekarang.


Di mana untuk pertama kalinya dirinya melihat sikap ketakutan akan kehilangan dari pria itu. Tersirat pula rasa penyesalan yang begitu dalam.


Setelah mengobati luka yang tidak disadarinya, Ruslan pun menyuruhnya untuk pergi istirahat. Dia juga memperingatkan untuk tidak mengeluarkan kata-kata itu lagi sampai kapan pun.


Karena bagi pria itu Dania adalah anugerah terindah yang di dapatnya dari tuhan, dia juga mengatakan bahwa tanpa kehadiran putrinya, dia tak bisa bertahan sampai saat ini.


Terlebih lagi, saat keluarganya membuangnya karena sebuah alasan yang tak pernah diungkapkannya.


Hal itu pula yang membuat Ruksa semakin penasaran. Apalagi dirinya baru tahu kalau pria yang disukainya ternyata di buang oleh keluarganya yang sekarang berada di luar negeri.


Pantas saja, dia dan keluarganya menghilang tanpa kabar.


Setelah mendengar cerita itu, membuatnya semakin merasa bersalah. Karena sebagai seorang sahabat dan sebagai orang yang menyukai Ruslan, dirinya tak berada di saat pria itu sedang berada di bawahnya.


Seharusnya malam itu ,dirinya langsung menghubungi polisi saja, tanpa perlu terjun langsung.


Andai kata waktu bisa di putar kembali.


Brak!!


Ruksa pun terperanjat dari lamunannya, kedua bolanya mendelik tajam pada orang yang membuatnya terkejut.


Salah satu alisnya terangkat ketika mengetahui siapa dalangnya.


Orang itu adalah Queensha. Seorang gadis muda yang telah di paksa mengambil cuti oleh Ruksa.


Gadis itu menyunggingkan bibirnya, terdapat aura balas dendam yang terpancar dari dalam tubuhnya.


" Hai, sudah lama kita tak bertemu, apa kamu merindukan ku? " tanyanya.


" Sayang nya tidak sama sekali. " timpal Ruksa dengan nada singkat.

__ADS_1


" Ih, jahat banget sih. Padahal Queensha Rindu banget loh sama kamu. " Ujarnya yang di buat seimut mungkin, namun di balik sikap imutnya itu, tersembunyi hewan buas serigala yang tersembunyi di dalam hatinya yang siap menerkam mangsanya kapan saja.


Karena suasana hati Ruksa sedang buruk, ia pun memalingkan wajahnya, memilih menatap pemandangan uang berada di luar jendela.


Queensha yang di abaikan seperti itu membuatnya menjadi kesal, kedua tangannya mengepal dengan erat


" Sudah berani yah lo sekarang gue, " ujarnya.


Akan tetapi Ruksa terdiam, masih menatap ke arah keluar, mengabaikan Queensha yang seakan-akan keberadaanya tak pernah ada.


Tak tahan di abaikan seperti itu, Queensha pun mengangkat tangannya di udara dan bersiap melayangkan pukulan pada Ruksa.


Namun pergerakan tangannya berhenti, tat kala seorang guru piket masuk menggantikan guru sebelumnya yang sedang mengambil Cuti hamil.


Tak ingin menambah masalah dan membuat Ayahnya marah, Queensha pun hanya bisa menghentakkan kakinya lalu kembali ketempat duduknya.


Saat bel istirahat berbunyi, Ruksa yang sedang tak mood menghadapi orang, ia pun diam-diam mencari tempat, di mana hanya ada dirinya di sana.


Di sisi lain, Queensha yang tadinya berniat membalas dendam, malah di buat kelimpungan mencari keberadaan Ruksa.


Begitu juga dengan Darian yang masih gigih mengejarnya, mengabaikan larangan yang di sudah keluar dari mulut EL.


Tempat itu merupakan sebuah tempat yang jarang di kunjungi oleh siapapun sebab ada rumor mengatakan bahwa tempat itu berhantu yang sudah tinggal lama di pohon besar itu


Namun Ruksa tak percaya dengan omong kosong begitu, ia pun menaruh kedua tangannya di kepala, menggunakannya sebagai bantal.


" Ah rasanya sangat nyaman sekali. " gumamnya seraya menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya.


Kedua matanya menatap dedaunan, seraya mengingat kembali kenangan dirinya yang masih duduk di bangku SMA, kala itu hubungannya dengan Ruslan masih baik, keduanya saling bertukar gurau dan juga pergi tawuran bersama


Terkadang, jika merasa bosan. Keduanya akan bolos sekolah dan pergi ke tempat basecamp mereka, dimana tempat itu merupakan sebuah gedung terbengkalai tapi memiliki fasilitas lengkap seperti Nintendo yang tentunya benda itu merupakan milik Ruksa yang ia bawa dari rumah.


Meski dirinya dari lingkungan Mafia, namun ia tak pernah melakukan hal rendah seperti memalak orang atau pun memaksa orang lain untuk menuruti semua permintaanya.


Walau terkadang semua orang selalu salah paham terhadapnya karena sudah terlahir dari keluarga seorang Mafia, kala itu hanya Ruslan satu-satunya teman yang di milikinya.


Saat itu tak ada yang berani mendekatinya atau pun sekedar mengajaknya bertukar sapa karena statusnya yang merupakan anak dari sang Mafia.


Tak ada yang mau menemaninya makan siang, namun mereka selalu menatapnya dengan tatapan takut. Bahkan saat dirinya berjalan pun, semua orang begitu ketakutan. Terlebih lagi sifatnya yang dingin membuatnya sulit untuk di dekati.

__ADS_1


Akan tetapi, kehidupannya berubah ketika Ruslan datang ke dalam hidupnya sebagai anak pindahan.


Kala itu satu-satunya bangku kosong adalah bangku yang berada di samping Ruksa.


Menyadari hal tersebut, ia pun hanya bisa membiarkannya.


" Ha . .


" Lebih baik jangan dekat-dekat, gue nggak suka. " Ruksa berkata mengabaikan jabatan tangan itu


Merasa malu, Ruslan pun menarik uluran tangannya dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Kendati begitu, pria itu tak pernah menyerah mendekatinya, meskipun dia tahu siapa dirinya yang sebenarnya.


" Lo emangnya nggak takut sama gue? "


Tangan Ruslan berhenti memasukkan makanannya ke dalam mulutnya, kepalanya mendongkak menatap Ruksa yang berada di depannya.


" Kenapa harus takut? kita kan sama-sama makan makanan manusia, atau jangan-jangan lo makan nya paku yah. "


" Kenapa Lo bilang gitu.?"


" Iya habis, lo nanya kenapa gue nggak takut sama lo. Kita sama-sama manusia, sama-sama makan makanan manusia. "


" Bukan itu maksudnya, tapi . .


" Apa karena lo seorang anak Mafia? " Sela Ruslan.


Seketika mulut Ruksa pun bungkam, selama ini tak ada yang berani berkata seperti itu terhadapnya.


" Memangnya seorang anak Mafia bukan manusia? Apa mereka di beri makan daging manusia oleh orang tuanya? Tidak kan? Lantas, apa yang membuatmu berbeda dari mereka? Apa karena harta mu lebih banyak? Atau karena keluarga mu bisa membunuh tanpa pandang bulu? "


" Hentikan, sudah cukup. "


" Ataukah karena . ..


" Gue bilang berhenti! " teriaknya seraya memukul meja makan membuat seluruh siswa yang berada di sana terdiam ketakutan.


Kedua tangan Ruksa mengepal dengan erat, kedua matanya memerah menahan amarah, terdapat air mata yang menumpuk di pelupuk matanya, ia pun pergi dari kantin dan meninggalkan Ruslan di sana

__ADS_1


__ADS_2