
Karena sudah lama tidak bertemu karena kesibukkan masing-masing, kedua adik dan kakak itu akhirnya memutuskan meluangkan waktu untuk berbincang-bincang sejenak untuk melepas rindu.
Keduanya melangkahkan kaki mereka ke sebuah bar yang terletak di lantai paling atas yang memperlihatkan pemandangan seluruh kota X yang hingar bingar.
Bar itu memiliki sebuah tema yaitu Freedom, kebebasan. Maka dari itu bar itu tak memiliki atap yang menghalangi bisa pemandangan yang sangat menakjubkan.
Apalagi ketika matahari terbenam, tempat itu akan sangat cocok untuk pasangan yang akan melamar atau pun yang ingin menumbuhkan suasana romantis.
Tentunya bar itu sangat terkenal, terutama di kalangan crazy rich dan juga superstar.
Banyak dari kalangan mereka yang memilih tempat itu untuk prewedding, membuat film bahkan sebuah MV, karena tempat itu menyediakan banyak tempat estetik yang wajib di kunjungi.
Salah satunya, adalah meja yang di tempati oleh Bagaskara dan Candra Wisesa. Tempat itu menghadap langsung tepat ke arah pantai.
Meski cuaca sedang terik, namun di tempat itu tak terasa panas sama sekali, sebab. Pemilik bar itu memiliki sebuah teknologi modern yang bisa mengatur suhu dengan otomatis agar para tamu bisa menikmati tempatnya.
Tak hanya bisa mengatur suhu, alat itu juga bisa mendeteksi hujan, jika terjadi, maka alat itu akan mengeluarkan sebuah kaca, dan menutupi seluruh area bar tanpa takut hujan akan mengganggu aktivitas mereka.
" Bagaimana dengan kabar cucumu? Apa dia sudah membaik? " Tanya Bagaskara.
Candra pun mendongakkan kepalanya, meletakkan segelas berisikan anggur yang sudah berusia lima puluh tahun itu di atas meja. Tangannya memainkan gelas itu dengan kedua sudut bibirnya terangkat ke atas, namun tersirat raut ketidakpuasan pada wajah pria itu. " Berkat keponakan, dia baik-baik saja. " timpalnya.
" Jika dia baik-baik saja, lantas ada apa dengan wajah mu itu? " tanya Bagaskara kembali.
Bukannya langsung menjawab, pria itu malah menghela nafasnya kemudian menyesap kembali segelas anggur di tangannya, lalu kembali menghela nafas. Tangannya memijat pelipisnya yang terasa pusing.
Akhir-akhir ini dirinya tak bisa tidur nyenyak, karena menanggapi sikap dingin dari sang cucu terhadapnya.
Sebenarnya Candra Wisesa merasa lega atas sadarnya sang cucu, namun ia merasa telah gagal menjadi orang tua juga seorang kakek, karena membuat anak dan cucunya menderita karena kurangnya kasih sayang yang diberikannya.
Sejak kepergian sang istri, membuatnya sangat sedih, dan memutuskan untuk menyibukkan diri dengan berkerja, berharap luka di hatinya bisa pulih dengan sendirinya
__ADS_1
Namun, karena keegoisannya, malah membuat sang putra malah menjalin cinta sejenisnya.
Tentunya hal itu membuat Candra murka, ia pun menyuruh bawahannya untuk menyakiti setiap lelaki yang terlihat dekat dengan putranya
Akan tetapi, hal itu tidak membuat putranya membaik, malah semakin parah, setiap hari, dia akan pergi mencari laki-laki untuk memuaskan nafsu birahinya.
Candra yang melihat hal tersebut tentu semakin marah dan murka, ia pun memukuli putranya hingga babak belur.
Alhasil, sang putra pun kabur entah kemana?
Sebulan kemudian, seorang gadis datang dan meminta pertanggung jawaban atas bayi yang di kandungnya.
Awalnya candra tak percaya, bahwa gadis itu telah mengandung putranya, namun setelah di tes. Tenyata benar, di dalam rahim gadis itu ada bibit dari putranya.
Namun, Candra tidak mengerti, bukankah putranya penyuka sesama jenis? Tapi kenapa dia bisa menghamili seorang gadis? Mungkinkah putranya sudah menjadi normal?.
Akan tetapi, dirinya harus menelan pil pahit, sebab bayi itu ternyata berasal dari sebuah kesalahan.
Tapi setelah melihat latar belakang buruk dari gadis itu. Candra pun berubah pikiran, ia pun hanya akan mengambil cucunya saja.
Alhasil, dari perbuatannya. Membuat Aldan sang cucu tumbuh dan hidup tanpa di dampingi kedua orang tua.
Padahal, setelah kelahiran sang cucu, ia sudah berjanji akan berusaha sekeras mungkin membahagiakan sang cucu dan membimbingnya menjadi pria sejati pada umumnya, tapi faktanya ia tak bisa meninggalkan pekerjaannya pada siapapun.
Ia pun hanya bisa menitipkan sang cucu pada seorang baby sitter yang di dapatkan dari rekomendasi seorang teman. Tapi siapa sangka, ternyata, wanita baby sitter itu telah memperlakukannya dengan buruk.
Hal itu di sadari saat dirinya menerima laporan visum dari sang dokter yang mengatakan bahwa cucunya itu sudah lama mendapat luka di seluruh tubuhnya.
Sebelumnya. Saat dirinya mendapatkan berita bahwa sang cucu di larikan ke rumah sakit, Candra yang sedang berbisnis di luar negeri pun langsung membatalkan semua janji yang sudah di buat sebelumnya.
Tanpa membuang waktu, ia pun menaiki jet pribadinya dan terbang menuju ke rumah sakit di mana sang cucu di rawat.
__ADS_1
Hatinya meringis kesakitan, setelah melihat kondisi sang cucu yang begitu mengenaskan. Sang dokter pun mengatakan bahwa cucunya mendapat luka serius di dalam tubuhnya di tambah luka lama yang sudah lama di deritanya membuat luka di tubuhnya semakin marah.
Sebuah keajaiban, bahwa anak itu bisa terbangun kembali.
Dengan perasaan amarah yang membludak dari dalam dirinya, ia pun meminta Ruksa untuk menjaga cucunya untuk sementara, dirinya beralasan bahwa ada suatu penting yang harus dikerjakannya.
Tapi sebenarnya, Candra tengah mencari keberadaan sang baby sitter yang tiba-tiba menghilang.
Namun, bagi dirinya, hal itu bukanlah hal yang sulit. Hanya di butuhkan dua puluh empat jam untuknya menemukan keberadaan wanita itu, tanpa memberinya ampun, ia pun membalas setiap tindakan yang di lakukan oleh wanita itu pada cucunya, hingga pada akhirnya wanita itu kehilangan nyawanya.
Setelah membereskan wanita itu, ia pun kembali menemani sang cucu, namun, bukannya sambutan hangat yang di dapatnya, ia malah menadapat sikap dingin sang cucu yang tak mau berbicara dengannya.
Jangankan untuk berbicara, cucunya itu malah membuang muka setiap kali dirinya berkunjung. Membuatnya menyadari bahwa yang salah sebenarnya di sini bukanlah bukan baby sitter yang menyiksa cucunya atau pun para remaja yang sengaja mencelakai sang cucu, tapi melainkan dirinya yang tak bisa menjadi seorang kakek yang baik untuk sang cucu.
Seharusnya ia belajar dari kasus putranya, tapi dia malah melakukan kesalahan yang berulang lagi.
" Kalau begitu, kamu bisa mengurus cabang yang di sini, biar aku mengutus orang lain yang mengurus di sana, bagaimana? " ucap Bagaskara yang secara tiba-tiba.
Kepala Candra menoleh, menatap kakaknya dengan rasa terima kasih
" Kakak pertama, kamu sungguh pengertian. Sebenarnya aku ingin mengatakan ini dari kemarin, tapi aku takut kakak akan marah padaku. "
" Kenapa harus marah? Lagi pula aku tahu bagaimana perasaan mu. " ungkapnya seraya menyesap sebatang rokok di tangannya.
" Kalau begitu terima kasih, oh iya. Kapan rencana menikah? "
" Dalam waktu dekat ini. "
" Apa putri mu sudah memberi izin? "
Seketika Bagaskara pun terdiam.
__ADS_1