
" Aku pulang. " Ruksa berkata seraya melepas sepatu yang melekat di kedua kakinya.
Ruslan yang sudah menunggu sejak tadi sore, dengan antusias menyambut putri kesayangannya, meski keduanya sudah mengetahui bahwa tak ada ikatan darah yang terjalin di antara mereka, tapi mereka sepakat untuk menjadi sepasang Ayah dan Anak seperti dulu, dan melupakan masalah itu sejenak
" Sudah pulang, ayo makan dulu, Ayah sudah . . .
" Tidak, aku tidak lapar. " sela Ruksa yang kemudian berjalan melewati Ruslan begitu saja.
Blam!
Pintu pun di tutup dengan cukup keras, membuat Ruslan terlonjak kaget, tak biasanya putrinya marah-marah seperti ini, malah ini adalah kali pertamanya dirinya melihat putri kesayangannya itu tampak marah dan juga kesal terhadapnya.
Mungkinkah karena mereka tak jadi bermain di mall tadi? Pikir Ruslan yang kemudian merasa bersalah.
Ruslan pun merasa bersalah, lalu menghela nafas dan menyadari kesalahan yang diperbuatnya, padahal ia sendiri yang berinisiatif untuk mengajak mereka bermain, tapi dirinya juga yang membatalkannya secara sepihak. Baik dari putrinya dan juga Fajri maupun Bibi May, ketiganya pasti merasa kecewa dengan keputusannya yang mendadak seperti itu.
Terutama Fajri yang katanya langsung menutup diri di dalam kamar, begitu pula dengan putrinya yang memutuskan untuk pergi entah kemana. Tapi syukurlah, gadis itu sudah kembali sebelum jam delapan malam, padahal ia sudah berencana untuk mencari putri kesayangannya jika dia tidak pulang sebelum jam sepuluh malam.
Kendati begitu, meski Ruslan yang menyadari kesalahannya, tapi tak menyesali keputusannya sama sekali, berinisiatif meluluhkan hati putri kecilnya agar mau memaafkannya.
Tok tok tok
" Dania. " panggilnya dengan suara lembut.
.
.
.
Namun sayangnya tak ada jawaban sama sekali, ia pun kembali mengetuk pintu itu hingga beberapa kali, hingga akhirnya pintu itu terbuka dengan sendirinya dan menampakan raut kesal dari wajah putri kecilnya,
" Maaf, aku sedang ada ujian besok, jadi tolong jangan ganggu. "
Blam!
Pintu itu pun kembali tertutup, tanpa memberi kesempatan untuk Ruslan berbicara sepatah kata pun, dirinya hanya termangu di depan pintu lalu menghela nafas dan memilih untuk tidak mengganggu dan membiarkan putrinya belajar.
Kepalanya menoleh ke belakang, menatap hidangan yang sudah tersaji di atas meja.
__ADS_1
" Mana makanannya banyak lagi. " gumam Ruslan seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu kemudian memutuskan untuk merapihkan kembali semua makanan itu, menyimpannya ke dalam kulkas untuk di hangatkan pada esok pagi.
Keesokan paginya, setelah menghangatkan semua makanan semalam, Ruslan pun kembali memanggil putrinya.
Namun, sudah beberapa, ia memanggil nama putrinya, tapi tak ada jawaban, merasa ada yang aneh, kedua langkah kakinya membawa ke depan pintu kamar, lalu mengetuk pintu kamar itu beberapa kali.
Tapi sayangnya, tak ada jawaban sama sekali, karena keanehan itu semakin terasa, Ruslan pun memutuskan untuk memeriksa rak sepatu, dan benar saja, sepatu milik putrinya sudah menghilang, yang artinya putrinya itu sudah berangkat sekolah tanpa di sadari olehnya sedikit pun.
Ruslan pun sedikit terdiam, merasa putrinya sudah bukan putrinya lagi, rasanya dia sudah menjadi sosok orang lain.
Di sisi lain, Ruksa yang sudah berada di area sekolah, terus menguap beberapa kali dengan perut yang keroncongan.
Suasana sekolah begitu sepi, hanya ada dirinya seorang yang sudah berada di dalam lingkungan sekolah.
Tentunya, hal ini dikarena kan dirinya bangun pada jam pagi buta, supaya ia tak bertemu dengan Ruslan lalu melampiaskan amarah yang masih tersisa di dalam hatinya.
Alhasil, dirinya menderita kantuk berat dengan perut yang keroncongan. haruskah ia meminta Dania untuk membawakannya makanan?
Akan tetapi, saat hendak menghubungi gadis itu, tiba-tiba ponselnya lowbat, ia lupa mencharger ponselnya semalam.
Karena terlalu lemas untuk merasa kesal, Ruksa pun memutuskan untuk tidur di kelas, supaya dirinya bisa mengobati kantuk serta melupakan rasa lapar di perutnya.
Seketika, ia pun terperanjat bangun, menatap makanan yang begitu menggiurkan dan menggoda imannya, kepalanya menoleh ke samping dan mendapati Mikael yang terduduk manis di kursi sampingnya seraya memegang sebuah buku tebal di tangannya
" Sudah bangun? " tanyanya. " Karena kamu sudah bangun, kalau begitu aku pergi, ngomong-ngomong kamu pasti belum sarapan kan? Jadi aku membelinya untuk mu. " Ujar Mikael lalu pergi tanpa menunggu jawaban dari Ruksa, tapi langkahnya tiba-tiba berhenti lalu berbalik. " Ah, dan kamu jangan khawatir, aku tak memasukkan apapun ke dalam nasi itu jadi kamu hanya perlu memakannya dengan tenang." tambahnya.
Alis Ruksa pun mengerut, lalu menatap nasi goreng di depannya, Bukankah perkataan Mikael itu malah membuatnya menjadi khawatir? Ia kemudian teringat akan perkataan Aldan tentang guna-guna yang bisa jadi di masukkan kedalam makanan.
Tapi, jika di pikir kembali, untuk apa Mikael mengguna-guna dirinya? Lagi pula Dania tak secantik itu untuk di guna-guna oleh anak setampan Mikael. Tapi bagaimana jika anak laki-laki itu sebenarnya memiliki dendam tersembunyi padanya? Jadi bisa saja kan dia menaruh sesuatu di dalam makanan itu?
Mendadak, Ruksa menjadi ragu untuk memakan makanan itu, padahal di dunia Mafia dirinya bisa membedakan mana yang sudah diracuni dan mana yang tidak, namun untuk pertama kalinya dirinya tak yakin bahwa makanan itu aman untuk di konsumsi atau tidak
" Lo ngapain ngeliatin makanan kayak gitu? " Tanya Aldan yang baru masuk kedalam kelas.
" Menurut lo, ini makanan ada peletnya nggak? " tanya nya secara gamblang.
Aldan pun mengernyitkan dahinya, lalu menatap sekotak nasi goreng yang sudah mendingin itu, tangannya terulur seraya memegang sendok di tangannya, tanpa ragu ia menyodok makanan itu dan memasukkannya kedalam mulutnya dengan santai.
Kedua mata Ruksa pun mengerjap, menatap Aldan yang masih mengunyah.
__ADS_1
Namun tiba-tiba tubuh Aldan terlihat seperti kejang-kejang dengan kedua bola mata yang berubah menjadi putih, Ruksa yang melihatnya seperti itu mulai panik dengan mencoba menenangkan laki-laki di depannya, tentunya hal itu membuat orang-orang yang sudah berada di dalam kelas ikutan menjadi panik.
Tapi di detik berikutnya, Aldan pun tergelak, dan mengatakan bahwa dirinya hanya bercanda, lagi pula di zaman sekarang mana ada yang percaya hal seperti itu.
Seketika, mereka yang berkumpul pun bubar.
" Sialan lo, bukannya lo yang bilang kalau makanan yang waktu itu ada peletnya. " ucap Ruksa seraya memukul bahu laki-laki itu dengan cukup keras, hingga membuat laki-laki itu meringis kesakitan.
Tapi, di detik berikutnya Aldan malah terkekeh geli " Dan lo percaya? "
" Terus, ngapain lo sampe repot-repot buat makanan pengganti? "
Kedua bahu Aldan pun terangkat secara bersamaan, sebenarnya tak ada alasan khusus baginya melakukan itu, semua itu murni karena dirinya ingin bersenang-senang.
' Sialan ini bocah, beraninya mempermainkan gue, ' batin Ruksa.
Ia pun kembali terduduk di bangku miliknya, lalu menyantap nasi goreng itu dengan lahap.
" Lo lapar apa doyan? " tanya Aldan.
" Dua-duanya. " Timpal Ruksa dengan nada ketus.
Aldan pun kembali terkekeh geli. " Oh iya temenin gue dong. "
" Ogah gue. "
" Ke acara nikahan Kakaknya Kakek gue, minggu ini. Bisa nggak? Soalnya gue nggak mau pergi sendirian ke sana. " Ungkap Aldan tanpa menghiraukan perkataan Ruksa sedikit pun.
Mendengar hal tersebut, Aktivitas Ruksa pun terhenti sejenak, lalu kembali melanjutkan aktivitas makannya. " Terus kenapa lo ngajak gue? "
" Karena lo adalah satu-satunya teman yang gue miliki. " ungkapnya. " Bisa kan? "
" Gimana . ..
" Okeh gue jemput lo jam delapan pagi. "
" Gue belum sempat bilang iya anjir. " timpal Ruksa tak terima.
Aldan pun hanya nyengir sebagai jawaban.
__ADS_1
Di dalam hati, Ruksa hanya tak bisa habis pikir sekaligus masih tak percaya bahwa orang yang berada disampingnya adalah Aldan yang di kenalnya.