Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
46


__ADS_3

" Lo udah gila yah!! " Pekik Ruksa, tangannya memijat dahinya yang terasa pening. " Udah buat gue nunggu 30 hari, dan sekarang lo nyuruh gue buat nunggu seratus hari lagi, " tambahnya dengan nada tak percaya.


" Yups, betul sekali. " timpal sang malaikat maut secara spontan.


Ruksa pun memasukkan tinjunya kedalam mulutnya seraya menggigitnya,, Kedua kakinya tak berhenti bergerak, ia berjalan mondar mandir lalu berbalik menatap sang malaikat maut yang tengah tersenyum kearahnya bak seorang penjaga toko yang siap melayani pelanggan setianya.


Salah satu alis Ruksa berkedut, ia tak pernah mengira bahwa kedatangan makhluk itu akan membuatnya tak habis pikir seperti ini.


Bagaimana bisa, dia mempermainkan jiwa mereka seperti ini?


Setelah memikirkan berbagai aspek. Ruksa pun menggelengkan kepalanya dengan keras. " Nggak, nggak gue nggak mau, pokoknya gue nggak tahu. Besok lo harus buat kita kembali normal. Bagaimana pun caranya? " ucap Ruksa dengan tegas.


" Kalau ay bisa, udah dari kapan, ay sudah buat kalian normal lagi, tapi karena ini adalah kasus pertama yang belum pernah terjadi, makanya ay bingung harus apa, bahkan para senior pun tak tahu menahu tentang pertukaran jiwa ini. " ungkapnya, tangannya meraih tangan Ruksa seraya menggenggam nya. " Please, mau yah nunggu seratus hari lagi? "


Kedua mata Ruksa mendelik tajam, lalu menghempas tangan makhluk itu dari tangannya dengan kasar, kedua tangannya di lipat dadanya, lalu di detik berikutnya ia berkacak pinggang.


" Nunggu, nunggu lo pikir gue sedang interview kerja apa?! Pake nunggu segala. Sekalinya nggak, seterusnya juga nggak. Lo nggak punya kuping kan, dasar makhluk tidak berguna. " sarkasnya


Cetar!!! Tiba-tiba petir menyambar di iringi langit yang bergemuruh


Tubuh Ruksa tertegun, kepalanya menengadah menatap langit, menyadari bahwa cuaca di sekitarnya sudah berubah drastis, padahal satu detik yang lalu, langit masih terlihat sangat cerah.


Namun, kini langit tiba-tiba berubah menjadi mendung, di iringi petir yang menyambar secara acak di tambah angin yang berhembus kencang dengan hawa dingin yang menusuk tulang, membuat siapapun menggigil kedinginan


Cetar!! langit kembali bergemuruh.


' Apa yang sedang terjadi? batin Ruksa seraya memeluk tubuhnya dengan kedua tangannya sendiri


Ruksa pun menolehkan kepalanya, menatap sang makhluk yang tengah menundukkan kepalanya dengan kedua tangan yang terkepal dengan erat.

__ADS_1


Dari dalam tubuh makhluk itu, mengular sebuah aura kelam yang begitu gelap.


Tanpa sadar kedua kaki Ruksa mundur kebelakang hingga punggungnya mengenai pintu atap.


Kedua kakinya gemetar ketakutan, bahkan ia merasa bahwa kedua lututnya sudah mati rasa dan pada akhirnya tubuhnya kehilangan keseimbangan membuat tubuhnya ambruk ke lantai.


Tak jauh dari tempatnya berada, sang malaikat maut masih berdiri di posisi yang sama. Dengan aura hitam yang mengular dari dalam tubuhnya.


Glek! Tanpa sadar, Ruksa menelan salivanya dengan keringat yang sudah membasahi seluruh tubuhnya, ia merasa bahwa umurnya tak akan lama lagi.


Di dalam hatinya ia ingin menangis, karena dirinya masih belum tahu tentang kebenaran tentang Ruslan.


Namun tiba-tiba sang malaikat maut, menekuk lututnya lalu memeluknya seraya mencebikkan bibirnya, bak seorang kecil yang tengah merajuk pada orangtuanya.


" Hiks hiks, ay tahu, kalau ay memang tak berguna. " histerisnya seraya menangis sesenggukan. " Seharusnya ay milih jadi tukang catat amal, bukannya malah jadi tukang cabut nyawa. " rengeknya.


Dan yang paling mengejutkan adalah, Ruksa tak pernah mengira kalau makhluk itu ternyata bisa merajuk juga. Apalagi caranya merajuk sangat lah tak enak di pandang.


Walau kedua kaki Ruksa masih mati rasa, akan tetapi, dengan sekuat tenaga, perlahan ia pun mencoba bangkit seraya mencoba memberanikan diri dengan berjalan menghampiri makhluk itu.


Setibanya di depan sang malaikat maut, Ruksa pun berjongkok menyamakan tingginya, tangannya terulur lalu menepuk lembut punggung makhluk itu yang ternyata bisa di sentuh oleh manusia. Berharap bahwa sentuhannya bisa menenangkan makhluk itu.


Sebenarnya Ruksa tak keberatan sama sekali, jika pertukaran ini di perpanjang lagi, toh masih ada banyak yang belum ia selesaikan dengan tubuh ini, hanya saja ia tak mau egois dan membiarkan Dania mengemban hidupnya yang penuh bahaya itu, karena bagaimana pun gadis itu bukan dirinya yang sudah terbiasa dengan dunia hitam nan kelam.


" Jadi, gue harus nunggu seratus hari lagi kan? " tanya Ruksa.


Sang malaikat maut menganggukkan kepalanya secara perlahan.


" Ok, untuk kali ini gue masih terima, tapi bener kan cuman seratus hari lagi? Awas kalau lo bohongin gue. " ancam Ruksa.

__ADS_1


Sang malaikat maut pun mendongakkan kepalanya, seraya mengangkat tangannya di udara. " Ay bersumpah demi tuhan, jika dalam seratus hari jiwa kalian tidak kembali. Maka jiwa ay yang akan jadi jaminan. " ujarnya dengan tegas.


Ruksa pun terdiam sejenak, di detik berikutnya ia pun bangkit dari posisi jongkoknya. Kepalanya menengadah menatap langit yang sudah kembali normal seperti semula, ia pun menolehkan kepalanya. " Oke, kalau gitu gue setuju, dan juga . . . cepetan bangun, jijik gue lihat lo kayak gini. " celetuknya dengan santai.


Tanpa berniat beradu argumen, sang malaikat pun bangkit dari posisi meringkuknya. " Karena yu udah hibur ay, jadi ay yang baik hati nan tidak sombong ini, bakalan pura-pura nggak denger apa yang baru saja yu katakan. " katanya. " Karena ay sudah beritahu yu, jadi lebih baik ay balik dulu ke Nirwana, " Tambahnya lalu menghilang, namun di detik berikutnya, makhluk itu kembali lagi " Oh iya, jangan lupa beri tahu Dania soal yang tadi, " ingatkannya. " Bye. "


Dalam hitungan detik, makhluk itu pergi bagaikan sebuah hembusan angin.


Tubuh Ruksa pun terdiam sejenak, tangannya merogoh ponselnya, lalu memainkan jarinya di atas layar dengan kecepatan biasa.


Karena tahu akan di abaikan lagi, Ruksa pun mengirim sebuah voice note yang mengatakan bahwa dirinya akan mengatakan sejujurnya tentang alasan, kenapa gadis itu tak boleh bertemu dengan ayahnya?


Di tempat yang sama seperti sebelumnya dengan menu yang sama. Ruksa terduduk seraya memakan segelas es krim vanila di depannya.


Tak lama kemudian, Dania pun datang dengan wajah kecutnya.


" Mau? " tawar Ruksa seraya menyodorkan satu sendok es krim pada Dania.


Namun Dania menolaknya dengan tegas, ia kemudian merogoh sesuatu di dalam tasnya dan mengeluarkan sejumlah photo usang yang memperlihatkan kedekatannya dengan Ruslan.


" Kenapa tidak bilang? Kalau kalian adalah teman di masa lalu, apa ini alasan kakak melarang ku untuk menemuinya dengan tubuh ini? "


Tanpa berkilah, Ruksa pun menganggukkan kepalanya dan membenarkan apa yang di katakan oleh gadis itu.


Dania yang berada di sebrang hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. " Kenapa tidak bilang? '


" Kalau gue bilang, lo mau apa? Mau buat kita akur lagi? Jangan naif, nyatanya hubungan gue sama ayah lo terlalu rumit untuk di jelaskan. "


Dania pun terdiam seraya merenungkan perkataan Ruksa, memang benar, dirinya terlalu naif dan percaya bahwa dirinya bisa memperbaiki hubungan mereka tanpa tahu penyebab pasti alasan mereka terpisah seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2