Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
32


__ADS_3

" Kenapa kamu pulang sangat larut? dan juga warna merah apa yang melekat di baju mu? Kamu tak terluka bukan. " Tanya Ruslan dengan nada yang masih mengintimidasi.


Dahi Ruksa mengernyit heran seraya mencari noda merah yang di maksud oleh ayah Dania. Hingga kedua matanya mendarat di bagian bahunya yang memang terdapat noda merah, yang di yakini bahwa noda tersebut adalah darah dari Alvaro.


" Oh, Bukan apa-apa, ini hanya . . . hanya . . hanya noda cat, tadi nggak sengaja nyenggol orang yang lagi ngecat. " elaknya,


" Oh, kalau begitu ,segera cuci cepat. mumpung nodanya masih basah. " ujar Ruslan dengan suara dinginnya.


Dengan Patuh, Ruksa pun bergegas menuju kamar tidurnya, mengganti pakaiannya dengan sebuah pakaian santai dengan celana pendek dan kaus pendek yang melengkapi penampilan santainya.


Di depan mesin cuci, dengan kedua tangannya Ruksa terus menyikatnya, berusaha sebisa mungkin untuk menghilangkan noda darah itu. Namun seberapa keras ia mencoba menghilangkan noda darah itu, tapi noda itu tak kunjung hilang sepenuhnya membuatnya frustasi


Ia pun akhirnya menyerah dan memilih untuk menghubungi Dania, memintanya untuk membelikan seragam baru untuknya.


Dania yang berada di sebrang sana hanya bisa mengelus dadanya, sebab wanita itu selalu menghubungi di waktu dirinya tengah tertidur pulas.


Dan juga, untuk apa dia meminta seragam baru? Memang nya ada apa dengan seragam lamanya? Seingatnya, seragamnya masih bagus.


Namun ia tak mengutarakannya, karena takut wanita itu akan memarahinya balik.


Dania pun hanya bisa mengatakan iya sebagai jawabannya, tanpa menanyakan alasannya.


Setelah memutuskan panggilan dari Dania, Ruksa pun menghentikan aktivitasnya membiarkan noda darah itu tetap berada di sana.


Ruksa pun teringat kembali akan kejadian, di tempat gang sempit nan gelap. Dirinya yang merupakan satu-satunya wanita di sana berdiri dengan kokoh.


Setelah berhasil menumbangkan salah satu dari mereka, ketiga pria itu sedikit terkaget dengan aksi Ruksa yang berhasil menumbangkan ketua mereka dalam satu kaki serang.


Tersirat rasa takut di wajah mereka, takut jika mereka telah menyinggung orang yang salah.


Namun, pria dengan luka di wajah itu tak terima dan tak peduli pada status wanita yang telah merusak masa depannya.


Dia berdiri secara perlahan, lalu menyuruh anak buahnya untuk membalaskan dendamnya.


Mendengar hal tersebut, Ruksa tak merasa gentar sekali pun, sorot matanya terlihat sangat tenang bagaikan air.


Ia terdiam di tempat yang sama dengan memasang kuda-kuda.


Satu di antara ke tiga pria itu pun maju dengan membawa balok kayu di tangannya.


Ruksa pun menghindari setiap serangan dari pria itu, membuat sang pria berdecak kesal.

__ADS_1


Dia pun meminta kedua temannya untuk menyerang Ruksa secara bersamaan.


Akan tetapi, Ruksa malah terkekeh geli, ia pun semakin bersemangat meladeni mereka. Namun di detik berikutnya ia harus menelan kecewa, sebab ke tiga pria itu tak memenuhi ekspektasinya.


Bagaimana bisa mereka bisa tumbang hanya dalam hitungan menit saja?


Pria dengan luka di wajahnya itu sangat terkejut, kedua matanya menatap tak percaya pada Ruksa.


Sedangkan Ruksa sendiri hanya busa menyunggingkan senyumnya dan berjalan menghampiri pria yang tengah ketakutan setengah mati.


" Tolong berikan belas kasihmu, aku janji tak akan mengulangi kesalahan yang sama. Jika perlu, Aku akan menjadi bawahan . . oh tidak, maksudnya aku rela menjadi anjing peliharaan mu. " pintanya, seraya meminta memohon.


Ruksa pun berjalan mendekat, menghampiri pria itu. Lalu berjongkok, menyamakan tingginya dengan pria itu.


" Baiklah, kali ini gue maafkan. Kalau begitu pergilah. "


" Benarkah? "


" Mmm, pergilah sebelum aku berubah pikiran. " Ruksa berkata.


Kedua sudut bibir pria itu terangkat ke atas, lalu pergi seperti yang di katakan oleh Ruksa.


Ia pun menoleh kebelakang, menatap Alvaro yang terkulai lemas di atas tanah. Ia pun mendesis seraya berkacak pinggang seraya berpikir bagaimana membawa tubuh bongsor itu dengan tubuh mungilnya.


Ruksa pun mencoba mengangkat tubuh itu, namun apa daya tubuhnya tak mampu. Tangannya merogoh ponselnya, hendak menghubungi Ismail. Namun jari tangannya terhenti di udara, dan berpikir bahwa dirinya terlalu sering meminta bantuan pada pria itu. Ia pun akhirnya memutuskan untuk membawanya sendiri.


" Gila, dia makan apaan sih? Kok bisa segede gaban gini? " Keluhnya serata terus berjalan.


Kedua kakinya gemetar menahan beban tubuh Alvaro yang dua kali lipat besar darinya. Keringat peluhnya membasahi seluruh tubuhnya.


Sepanjang jalan, ia tak berhenti mengumpat. Sebab tak ada satupun kendaraan yang melintas, bahkan ojeg pun tak ada. Seharusnya ia tak membiarkan pria dengan luka di wajah itu pergi.


Nafasnya terengah-engah.


" Ke . . .. mana perginya semua kendaraan umum ?! Ke. . napa di . . saat seperti ini me. . . reka pada menghilang! "


Setelah menyiksa diri selama satu jam, dengan berjalan menyusuri jalan dengan membawa Alvaro di punggungnya.


Ruksa pun akhirnya sampai di rumah sakit terdekat. Tanpa menunggu hasilnya ia pun langsung pulang ke rumah.


Kini jam sudah menunjukan pukul 23:00 malam. Di depan pintu rumah, Ruksa terdiam mematung takut untuk masuk ke dalam rumah seraya meneguk salivanya. Ia bisa menebak semarah apa pria itu terhadapnya.

__ADS_1


Sebenarnya, Ruksa tak bermaksud, tidak memberi kabar. Hanya saja, baterai ponselnya sudah habis, dan akhirnya tak bisa memberi kabar.


" Sudah tidur kali yah. " terkanya karena melihat kondisi rumah yang sudah gelap.


Tangannya mencoba memutar kenop pintu secara perlahan, ia begitu terkejut ketika pintu itu ternyata tak di kunci sama sekali.


Keadaan rumah begitu gelap gulita, hanya cahaya lampu temaram dari lampu luar yang menerangi ruangan tengah


Ruksa berjalan mengendap-endap, berharap langkah kakinya tak menimbulkan suara.


Namun tiba-tiba lampu ruangan itu menyala, memperlihatkan Ruslan dengan raut yang sulit untuk di jelaskan.


Dan di sinilah Ruksa berada, di sidang oleh Ruslan. Setelah selesai dengan urusan noda di baju itu, ayah Dania tiba-tiba memanggilnya ke ruang tengah.


Kepala Ruksa menunduk menatap lantai rumah, seraya memainkan ke sepuluh jarinya. Di depannya, Ruslan melipat kedua tangannya di dada. menatap putrinya dengan tatapan mengintimidasi.


Karena melihat penampilan kacau dari putrinya, Ruslan pun hanya bisa memberinya hukuman ringan dengan menyuruhnya menghilangkan noda yang berada di bahunya.


Setelah putrinya selesai dengan hukumannya, ia pun kembali memanggilnya seraya menginterogasinya lagi.


" Apa kamu tahu sudah jam berapa ini? "


Ruksa tak menjawab, kepalanya semakin menunduk ke bawah, dan menyadari akan kesalahan yang di perbuatnya.


" Apa kamu tahu betapa khawatirnya ayah?! Apalagi kamu ini seorang wanita. Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu? Apa yang harus ayah lakukan? "


Ruslan pun menghela nafas, tangannya memijat pelipisnya, ke dua matanya menatap putrinya yang sedang ketakutan.


Ia pun beranjak dari kursi, mengambil kotak p3k.


" Sebenarnya kamu habis dari mana? Apa teman-teman mu itu menganggu mu lagi? "


Ruksa menggelengkan kepalanya.


" Lantas, dari mana kamu mendapat luka ini? "


Mulut Ruksa pun bungkam, tak berani menjawab.


" Apa kamu tak mempercayai ayah? "


" Bukan itu, hanya saja . . . hanya saja . . . Aku tak ingin menjadi beban. "

__ADS_1


__ADS_2