
Sejak kecil, Arga tak pernah merasakan yang namanya kasih sayang dari kedua orang tuanya, sebab ibunya sudah meninggal sejak usianya masih terbilang belia. Ia pun di didik dan di besarkan oleh Ayahnya seorang diri.
Berbeda dengan pamannya Bagaskara yang senang bergaul dengan wanita cantik, Ayahnya lebih suka mengabiskan waktunya dengan bekerja, di saat luang, pria itu akan menghabiskan waktunya untuk mengajarinya.
Tentunya, Arga tak menyukai hal itu, sebab, di saat Ayahnya mengajarinya, maka di saat itulah ia serasa menghabiskan waktunya di dalam neraka.
Bagaimana tidak? Pria itu akan memaksanya untuk memahami buku yang di bencinya dalam satu hari.
Tak jarang, dirinya selalu jatuh sakit, sebab otaknya yang di paksa untuk bekerja lebih keras lagi.
Sebenarnya, ia bukanlah satu-satunya anak Ayahnya, akan tetapi tak ada satu pun yang mengetahui hal itu, sebab, anak itu berjenis kelamin perempuan, dan Ayahnya tak menginginkannya, maka dari itu, pria itu memilih untuk tidak mengungkapkannya.
Berkat didikan sang Ayah yang begitu keras, membuatnya tak bisa memiliki seorang teman, kecuali saudaranya, Ruksa. Wanita itu adalah satu-satunya teman yang di milikinya, itu pun mereka hanya bertemu saat ada acara keluarga saja, selebihnya ia hanya bisa menghabiskan waktunya dengan belajar dan belajar.
__ADS_1
Terkadang, ia merasa iri dengan kehidupan Ruksa, meski dia seorang anak perempuan dari seorang pemimpin, tapi hidupnya terasa lebih berwarna dari pada dirinya, terlebih lagi, dia memiliki seorang ibu yang cantik, baik dan juga lemah lembut.
Arga akui, bahwa dirinya juga ingin punya ibu seperti ibu Ruksa yang selalu ada, tapi sayang, tuhan begitu menyayangi wanita itu dengan mengambilnya di usia yang masih terbilang muda.
Ia bisa melihat dan merasakan, betapa terpukulnya Ruksa saat itu, tapi ia tak bisa berbuat banyak, sebab, ia tak tahu bagaimana cara menghibur seseorang yang kehilangan orang yang sangat di cintainya, sebab ia tak pernah merasakan perasaan seperti itu.
Sejak saat itu, ia jarang menemui wanita itu. Dan hari-harinya menjadi sangat sepi dan membosankan, hidup dalam tekanan Ayahnya membuatnya jengah dan ingin melarikan diri. Namun hal itu tak pernah terjadi, sebab, kemana pun ia melarikan diri, Ayahnya pasti akan menangkapnya kembali.
Suatu hari, seorang wanita datang ke tempat lesnya, tanpa aba-aba memeluknya dengan erat dan mengatakan bahwa dia adalah wanita yang telah melahirkannya. Alias ibu kandungnya.
Ia mendengus, kemudian mengatakan bahwa wanita itu sudah gila. " Nyonya, tolong jaga omongan anda, jika tidak? Jangan salahkan aku, jika aku bertindak tidak sopan pada anda. " Ujarnya sembari mendorong tubuh wanita itu menjauh darinya dengan sedikit kasar.
Akan tetapi, wanita itu kembali datang menemuinya dan mengatakan hal yang sama, membuatnya frustasi sekaligus jengah, ia kemudian meminta wanita itu untuk melakukan tes DNA. Jika terbukti benar, maka ia akan mengakui, tapi jika semuanya terbukti salah, maka jangan salahkan jika dirinya bertindak dengan sangat kejam.
__ADS_1
Saat hasil tes itu keluar, ia begitu terkejut melihat hasilnya, sebab di atas kertas itu menunjukan bahwa golongan darah mereka cocok satu sama lin.
Tapi bagaimana bisa? Lalu wanita yang telah di anggapnya ibu itu siapa? Jangan bilang kalau dia adalah anak pungut.
Seakan tahu akan apa yang ada di dalam pikirannya, wanita itu meraih tangan Arga dengan mengatakan bahwa ia adalah anak kandung Ayahnya, hanya saja dia adalah hasil di luar dugaan.
" Jangan bilang, kalau aku adalah anak haram kalian. "
" Bisa di bilang begitu. "
" Nggak mungkin. Aku tak bisa menerimanya begitu, akan aku tanyakan sendiri pada Ayah. " Ucapnya sembari bergegas pergi.
Akan tetapi, wanita itu langsung menghentikannya, dengan alasan, bahwa dia di larang menemui Arga sampai kapan pun, jika tidak? Pria itu tak akan mengampuninya.
__ADS_1
Arga terdiam sejenak, memikirkan bahwa perkataan wanita itu ada benarnya.