Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
109


__ADS_3

Dania pov.


Setelah mengirim pesan berisikan lokasi terakhir Bagaskara pada Ruksa, Dania terdiam menunggu balasan itu. Setelah mendapat balasan yang diinginkan, ia pun kembali menunggu kedatangan wanita itu.


Akan tetapi, satu jam telah berlalu, namun tak ada tanda-tanda bahwa Ruksa akan datang, biasanya dia akan datang lima bela menit kemudian, setelah bertukar pesan, akan tetapi jam terus bergulir dan wanita itu tak kunjung datang.


Tak seperti biasanya.


Perasaan gelisah pun mulai menyelimuti hati Dania, ia berjalan mondar mandir, lalu memutuskan untuk menghubungi Ruksa, menanyakan, apakah telah terjadi sesuatu?


Namun, sayangnya, wanita itu tak kunjung mengangkat panggilan darinya, atau pun berusaha menghubunginya kembali. Membuat perasaan Dania mulai tak tenang.


Ia kemudian langsung menyambar tasnya di atas meja, berniat untuk mengunjungi Ruksa, namun, saat hendak pergi, tiba-tiba Ismail datang dengan raut kusut di wajahnya.


Dania pun mengernyitkan dahinya penasaran " Ada apa? "


" Tuan muda Aldan. . ..


" Kenapa dengannya? "


" Dia . . .


" Ada apa?! " tanya Dania yang mulai tak sabar dengan Ismail.


Pria itu menundukkan kepalanya, terdiam sejenak lalu menghela nafas.


" Saya mendapat berita, bahwa kondisi Tuan muda Aldan kembali kritis, dokter mengatakan bahwa dia harus segera di operasi secepat mungkin, tapi . .

__ADS_1


" Tapi apa? "


Bukannya menjawab, pria itu memilih membungkam mulutnya, membuat Dania tak sabar menunggu lagi dan memilih untuk pergi ke rumah sakit, dan pergi mencari tahu sendiri.


Setibanya di rumah sakit, Dania langsung bergegas menuju ruangan Aldan, di luar ruangan, ia melihat Arga tengah terduduk di kursi, kepalanya menunduk menatap lantai dengan kedua tangan yang mengepal dengan erat.


Kedua langkah kaki Dania pun membawanya berjalan secara perlahan mendekati Arga.


Menyadari akan keberadaanya, Arga pun mendongakkan kepalanya.


Tangisnya kemudian pecah, langsung menghamburkan diri lalu memeluk Dania dengan erat.


" Gue lebih baik mati, dari pada putra gue yang mati. " ujarnya tiba-tiba. " Ruksa apa yang harus gue lakukan, agar anak gue selamat? Gue janji, bakal menyayangi dia seperti orang tua lannya. gue menyesal karena pernah menyia-nyiakannya. " tambahnya sembari sesenggukan.


Dania hanya terdiam, tak tahu harus berkata apa? Ia hanya terdiam, membiarkan pria itu menangis sepuasnya.


" Sama seperti kemarin. Dia sepertinya masih sama marah sama gue, padahal gue sudah berjanji, bakal gantiin posisinya jikalau dia bangun, tapi kayaknya, dia nggak percaya dengan apa yang gue ucapkan. "


" Kalau begitu, aku mungkin bisa membantumu mencari pendonor yang tepat."


" Benarkah?! Apa lo sungguh mau bantu gue? "


Kepala Dania mengangguk, " Sebagai gantinya, lo harus jaga Aldan sebaik mungkin. Jangan tinggalkan dia lagi, apalagi mengabaikannya."


" Itu pasti. Gue janji, nggak bakalan ninggalin dia lagi. "


" Nona, " Panggil Ismail secara tiba-tiba, pria itu berjalan mendekat, lalu membisikkan sesuatu di telinganya.

__ADS_1


" Baiklah, " menoleh pada Arga. " Oh iya, aku tinggal sebentar yah. "


Arga pun langsung menganggukkan kepalanya, membiarkan Dania dan Ismail pergi.


" Ada apa? " Tanya Dania tanpa basa basi.


Ismail terdiam.


Dania pun mengernyitkan dahinya heran.


" Kenapa ada masalah? Katakan saja. "


Pria itu kembali terdiam, namun di detik berikutnya, ia mengeluarkan sebuah amplop coklat berukuran kecil, ia mengatakan bahwa beberapa menit yang lalu seorang kurir menyerahkan amplop itu padanya.


Tanpa membuang waktu, Dania pun langsung menyambar amplop itu, saat di buka, kedua bola matanya terbeliak, tanpa sadar menjatuhkan photo dari dalam amplop itu, kedua lututnya gemetar, ingin rasanya ia memuntahkan isi perutnya.


Ismail yang merasa aneh, dengan sikap atasannya, langsung membungkukkan tubuhnya, mengambil selembar photo yang berserakan di lantai.


Seketika tangannya gemetar. " Bu-bukankah i-ini adalah tuan Besar. " Ucap Ismail secara terbata-bata, ia terkejut melihat wajah babak belur atasannya di dalam photo, di sampingnya terdapat banyak mayat yang tergeletak yang di ketahui bahwa jasad itu berasal dari anggota Wisesa.


Di salah satu belakang photo tersebut, terdapat coretan berupa alamat yang sama persis dengan alamat, dimana Bagaskara terlihat.


" Nona, kita harus segera bergegas. "


" Bukan kita, tapi hanya aku, lebih baik kamu meminta Mia untuk menemukan donor yang tepat untuk Aldan, "


" Tapi, Nona. .

__ADS_1


Tanpa mendengar penjelasan dari Ismail, Dania langsung bergegas pergi begitu saja


__ADS_2