Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
110


__ADS_3

Ruksa Pov


" Gadis bodoh!! Apa dia sedang menggali kuburannya sendiri! " ucap Ruksa yang begitu kesal dan juga marah karena sikap Dania yang sembrono, pantas saja, pagi ini, gadis itu sulit di hubungi, padahal ia ingin memberinya tugas, jika bukan karena Ismail yang berinisiatif untuk memberitahunya, mungkin dirinya akan mengira bahwa gadis itu sedang sibuk dengan urusan kantor.


Sepulang sekolah, ia bergegas pergi menuju tempat Dania berada.


Ia tak pernah menyangka, bahwa Ayahnya akan menjadi bodoh setelah menikah, bisa-bisanya pria itu, dengan mudahnya masuk ke dalam jebakan seperti seorang pemula saja.


Karena tak ingin mencuri perhatian, ia pun memilih pergi seorang diri, tentunya ada Mia dan juga Ismail yang menjaganya dari kejauhan, memastikan bahwa tak ada musuh yang mendekat ke arahnya.


*


Di depan sebuah gerbang yang menjulang tinggi, Ruksa mendongakkan kepalanya, wajahnya merengut melihat tingginya gerbang itu, ia tak habis pikir, siapa yang mau tinggal di hutan belantara seperti ini?


Apa dia seorang penyendiri? Atau jangan-jangan, orang itu adalah sungguh seorang vampir? Seperti rumor yang beredar di kalangan masyarakat.


Sebelumnya, Ruksa kesulitan untuk mencapai tempat itu, sebab mereka takut jika mereka tak bisa kembali lagi. Sebab ada rumor yang mengatakan, bahwa sudah ada banyak pendaki yang hilang di tempat itu.

__ADS_1


Banyak yang mengira bahwa mereka di sembunyikan lalu di bunuh oleh seorang vampir yang tinggal di dalam kastil itu.


Ada pula yang memperkuat dugaan tersebut, karena penemuan mayat yang terjadi beberapa tahun yang lalu, secara keseluruhan mayatnya masih utuh, kecuali di lehernya yang terdapat sebuah luka sayatan yang cukup besar, namun yang aneh adalah di dekat mayat tersebut tidak terlihat bercak darah sama sekali, bahkan di dalam tubuh itu sudah tak ada lagi darah setetes pun.


Maka dari itu, orang-orang langsung mengasumsikan, bahwa hal itu hanya bisa di lakukan oleh seorang Vampir saja. Hanya saja, mereka sengaja menggorok leher itu agar orang-orang tidak akan menduganya bahwa itu adalah perbuatan Vampir.


Namun nyatanya, pembunuhan itu masih bisa di jelaskan secara ilmiah, bahkan Ruksa sendiri pernah mencoba metode ini agar tidak meninggalkan banyak jejak.


Ia hanya perlu menggantung mayat tersebut secara terbalik, dan membiarkan darah di dalam orang tersebut mengalir keluar hingga tak tersisa. Dan ia bisa membuangnya kapan saja.


Ia tak pernah menyangka, bahwa di jaman sekarang, masih ada orang percaya dengan hal-hal seperti itu.


Ruksa pun mendengus, tiba-tiba dirinya ingin bertemu dengan orang yang menciptakan cerita tersebut, sepertinya dia adalah orang yang sangat pintar, karena berhasil mengelabui banyak orang. Dia juga patut menyabet piala oscar sebagai penulis dan sutradara terbaik.


Saat Kedua kakinya melangkah masuk ke dalam gerbang, Ruksa bisa merasakan suasana yang begitu tenang nan sunyi, tempat itu tak bedanya dengan gunung pada umumnya, sejuk dan damai.


Angin sepoi-sepoi menggerakkan dedaunan serta pepohonan di sekitarnya, jika di pikir dan di rasa kembali, sepertinya tidak buruk jika tinggal di tempat seperti ini, selain sunyi dan tenang, tempat ini sepertinya mampu memberikan ketenangan untuk kepala dan jiwanya.

__ADS_1


Akan tetapi, semua perkataan yang keluar dari mulutnya langsung ditampiknya beberapa menit kemudian, lantaran, jarak antara gerbang utama dan rumah yang di maksud orang-orang masih sangatlah jauh, ia bahkan beberapa kali beristirahat sejenak, untuk menghilangkan penat serta dahaganya.


Rasanya tak beda dengan mendaki gunung pada umumnya.


" Gila, ini orang kebanyakan duit atau gimana sih? bisa-bisanya buat rumah di dalam gunung kayak gini, apa dia tipikal introvert? " gerutunya sembari melanjutkan perjalanannya, jika tahu jaraknya akan sejauh ini, sebelumnya ia pasti akan memaksa tukang ojek untuk mengantarnya masuk sampai ke depan halaman rumah yang di maksud.


Namun, nasi sudah menjadi bubur, mau tak mu Ruksa pun hanya bisa memaksakan diri dan terus berjalan menyusuri jalan setapak.


Jam terus bergulir, tapi Ruksa masih tak kunjung sampai dengan titik di mana Dania berada, membuatnya semakin jengkel, terlebih lagi saat persediaan airnya sudah habis.


Tenggorokannya terasa sangat kering, dan perutnya juga lapar.


Jika kondisinya terus seperti ini, yang ada dirinya akan mati sebelum menyelamatkan Sang Ayah dan juga Dania.


" Oh Tuhan, bisakah kamu turunkan hujan? Umat mu ini sungguh kehausan. " Ucapnya dengan nada suara pelan.


Akan tetapi, sayangnya bukan hujan yang di turunkan, tapi melainkan panas yang begitu terik yang membuat Ruksa semakin tersiks

__ADS_1


__ADS_2