Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
38


__ADS_3

Ruslan pov


Setelah berhasil membuat putrinya pergi tidur. Ruslan yang masih terduduk di depan meja makan, kembali menatap benda usang di tangannya, meski sudah termakan usia. Namun gelang itu masih terlihat baik-baik saja.


Tangannya kembali menatap benda kecil itu tanpa mengindahkan tatapannya.


Seketika rasa rindu itu tiba-tiba muncul begitu saja. Sudah hampir delapan belas tahun dirinya tak pernah saling bertatap muka dengan wanita itu.


Akan tetapi, entah kenapa? Akhir-akhir ini ia merasa bisa melihat jati diri Ruksa pada putrinya.


Jika di ingat kembali, sikap putrinya akhir-akhir ini terlihat sangat berbeda dengan sebelumnya. Dia seperti orang yang berbeda.


Pernah sekali ia bertanya pada dokter yang merawat putrinya, namun dokter itu tak pernah mengatakan adanya kesalahan dalam pemeriksaannya.


Karena tak ingin ambil pusing, ia pun memilih untuk membiarkannya asalkan putrinya baik-baik saja.


Dan menganggap sikap putrinya itu mungkin karena dirinya masih belum melupakan sosok wanita itu di hatinya.


Saat hendak memasukkan album photo itu kedalam kotak, tiba-tiba selembar poto yang telah usang terjatuh begitu saja.


Ruslan pun membungkukkan tubuhnya lalu mengambil selembar photo itu.


Seketika senyum di wajahnya terbentuk begitu saja. Ia pun kembali terduduk, melihat photo lawas miliknya sendiri.


Kenangan itu pun kembali berputar di dalam kepalanya, Masih teringat jelas saat dirinya bertemu dengan Ruksa untuk pertama kalinya.


Mungkin wanita itu tak pernah ingat, kapan pertemuan pertama mereka? ,Namun tidak bagi Ruslan yang masih ingat dan tak akan pernah melupakannya.


Baginya pertemuan itu bagaikan sebuah sejarah yang patut di kenang dan di abadikan selamanya. Namun hal itu tak ia lakukan pada saat itu. Hanya photo dirinya saja yang bisa mengingatkannya pada masa itu.


Kala itu dirinya yang masih berusia lima tahun, merengek ingin pergi ke taman hiburan yang baru saja di buka seminggu yang lalu.


Karena tak tahan dengan rengekannya, kedua orang tua Ruslan pun akhirnya menuruti semua perkataannya dan pergi ke taman hiburan tersebut.


Namun, alih-alih menikmati wahana yang ada. Dirinya malah terpisah dengan kedua orang tuanya dan berakhir tersesat sendirian, di tempat yang begitu luas.


Karena lelah mencari sosok kedua orang tuanya, ia pun memutuskan memisahkan diri dari kerumunan dan memilih duduk di sebuah bangku taman.

__ADS_1


Di bangku itu, ia membungkukkan tubuhnya lalu menangis seorang diri.


Tak lama kemudian, ia merasa ada seseorang yang memukul kepalanya sejak saja. Ia mendongakkan kepalanya dan mendapati seorang gadis yang memegangi sebuah permen pelangi berukuran besar tengah tersenyum kepadanya, memperlihatkan deretan giginya yang hitam berlubang.


Gadis itu mengenakan kostum harimau lengkap dengan ekor yang terdapat di belakang tubuhnya, Rambutnya di kuncir dua, dengan poni pendek sebagai pelengkap penampilannya.


Ruslan tak bisa tak mengernyitkan dahinya ketika melihat penampilan aneh dari gadis itu.


' Apa dia tak merasa kepanasan mengenakan kostum itu? Padahal cuaca begitu terik. ' batin Ruslan


" Kenapa kamu menangis? Bukankah kamu seorang pria? " gadis itu bertanya.


" Apa hubungannya pria dan menangis? " tanya kembali Ruslan.


Bukannya menjawab, Gadis kecil itu malah memilih terduduk di samping Ruslan seraya mengemut permen itu dengan santai.


" Mau? " tawarnya


Ruslan pun langsung menggelengkan kepalanya dan mengatakan bahwa ibunya akan marah jika dirinya ketahuan memakan permen. Ia juga mengatakan bahwa dirinya takut jika ibunya akan membawanya kembali ke dokter gigi.


Setelah mendengat kata dokter gigi, seketika gadis itu pun mencebikkan bibirnya lalu membuang permen itu ke tanah, kedua tangannya terlipat di dada dengan ekspresi kesal.


" Seharusnya kamu tak mengatakan itu, kamu membuat suasana hati ku hancur. Kamu tahu? Aku ini sedang memberontak pada ayah ku yang sangat ingin membawaku ke dokter gigi. Padahal kan gigi ku baik-baik saja! Lihat lah. iiiiii. " ucapnya seraya kembali memperlihatkan deretan gigi yang sudah rusak.


Ruslan pun hanya memberi ekspresi ngeri melihat deretan gigi itu, secara spontan ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia tak bisa membayangkan, jika dokter gigi mencabut semua gigi itu dan menjadikan mulut gadis itu menyerupai mulut seorang nenek tua.


" Kenapa kamu memasang wajah seperti itu? "


" Bukan apa-apa. "


Tanpa sadar, kehadiran gadis itu membuat tangis Ruslan terhenti.


Keduanya akhirnya menghabiskan waktu dengan saling bertukar cerita. Menceritakan apa saja yang akan mereka lakukan saat dewasa.


Tentunya, Ruslan sebisa mungkin menjauhi topik pembicaraan tentang gigi


" Oh iya siapa namamu? " tanya Ruslan yang sejak tadi penasaran dengan nama gadis itu.

__ADS_1


Gadis itu menolehkan kepalanya lalu mengulurkan tangannya ke depan " Nama ku Ruksa Wisesa dan kamu? "


Saat hendak menerima uluran tangan itu, tiba-tiba tubuhnya di tarik kedalam pelukan seorang wanita yang merupakan ibunya.


Tersirat raut cemas yang tercetak di wajah wanita itu. di belakang punggung ibunya sang ayah hanya bisa menyaksikan dengan ekspresi lega.


" Syukurlah kami menemukanmu, ayo pulang. " Sang ibu berkata lalu memangku tubuh Ruslan dan membawanya pergi tanpa menghiraukan seorang gadis yang sejak tadi menemani putranya.


Tahun pun terus berganti tahun, tanpa terasa sebelas tahun pun berlalu begitu cepat. Dan sejak saat itu Ruslan tak pernah bertemu dengan gadis harimau itu.


Kendati begitu, nama itu masih terngiang-ngiang di dalam kepalanya. Ia begitu merindukan sosok gadis itu, membayangkan, apakah gadis itu tumbuh dengan baik? Dan yang paling penting, apakah giginya masih ada?


Tapi, ia tak peduli bagaimana penampilan dia sekarang, karena baginya dia tetaplah gadis harimau yang ia sukai.


Bruk!


Tanpa sengaja ia menubruk seorang gadis yang masih mengenakan seragam sekolah, gadis itu memiliki rambut sebahu serta warna kulitnya yang putih pucat.


" Maaf, lo nggak . . apa-apa? " Kedua mata Ruslan terpaku melihat name tag gadis itu.


Ruksa Wisesa.


Nama itu terukir jelas di name tag gadis itu, Seketika, kedua sudut bibir Ruslan terangkat ke atas.


Akhirnya aku menemukan mu. batin Ruslan.


Ingin rasanya dirinya mengajak gadis itu untuk saling bertukar kata. Namun sayang nya, dia tak mengenali sosok Ruslan.


Gadis itu pergi setelah merapihkan penampilannya tanpa mengeluarkan satu kata patah pun. Membuat hati Ruslan berdenyut nyeri.


Akan tetapi ia tak akan menyerah begitu saja, di lihat dari seragam yang dikenakannya, Ruslan tahu di mana gadis itu bersekolah.


Esok paginya, ia pun langsung pindah ke sekolah itu, dan betapa beruntungnya dirinya, selain satu kelas. Ia juga satu bangku dengan gadis itu.


Akan tetapi, gadis itu begitu dingin terhadapnya, bahkan dia sudah menciptakan tembok tinggi. Seakan-akan dia tak mengijinkan siapa pun masuk ke dalam teritorinya termasuk Ruslan.


flashback off

__ADS_1


Ruslan terkekeh kembali mengingat betapa sulitnya ia mendapatkan hati wanita itu dan menerimanya, meski hanya sebatas teman. Namun baginya itu sudah cukup.


Malam pun sudah larut, Ruslan pun memutuskan untuk pergi tidur, tentunya setelah dirinya merapihkan benda di tangannya.


__ADS_2