
Bagaskara dan anak buahnya masuk ke dalam mansion itu, terdapat beberapa orang yang muncul lalu menembaki mereka. namun hal itu dapat di atasi dengan mudah, karena bagi mereka, orang-orang itu terlihat masih pemula.
Meski begitu, perasaan Gantari menjadi tak enak, ia memberitahukan pada Bagaskara untuk segera pergi dari tempat itu.
Namun, pria dengan marga Wisesa itu menolak, sebab ia tak ingin harga dirinya hancur, lebih baik terjebak dari pada mundur tanpa alasan yang jelas.
Tak bisa membantah perkataan bosnya, Gantari hanya bisa menganggukkan kepalanya lalu mengikuti tuannya dari belakang.
Akan tetapi, di detik berikutnya, prasangka buruknya benar-benar terjadi.
Saat hendak menuruni tangga yang menuju ke tempat ruang bawah tanah, tiba-tiba asap tebal muncul dan menghalangi pandangan mereka. Tak hanya itu saja penglihatan mereka mulai menjadi kabur, kepala mereka di dera rasa pusing yang begitu berat, sebelum jatuh pingsan, Bagaskara melihat beberapa siluet orang yang berjalan mendekatinya, dengan wajah yang di tutupi oleh masker khusus.
Di tempat lain, Ruksa merasa bahwa ada yang tidak beres,
Selama pelajaran berlangsung, badan dan pikirannya berada di tempat yang berbeda. Membuatnya beberapa kali di tegur karena ketahuan melamun.
Sang guru bahkan tak segan-segan melemparnya dengan sebuah penghapus papan tulis, beruntung, Ruksa dapat mengelak membuat benda itu mengenai dinding lalu jatuh ke lantai.
" Jika kamu tak berniat untuk belajar, lebih baik kamu pulang saja sana. " ujarnya
__ADS_1
" Kalau begitu saya permisi. " timpal Ruksa yang kemudian segera mengemasi barang bawaannya.
" Kamu! " teriaknya sembari mengangkat jari telunjuknya. Wajahnya memerah karena marah. " Baik, akan ku laporkan pada kepala sekolah untuk mengeluarkan mu. "
" Bukankah, bapak yang menyuruh saya pulang? Kenapa bapak malah mengancam? Salah saya apa? Nurut salah, nggak nurut salah. "
" Ngelawan yah kamu. "
" Terus, bapak maunya apa? "
" Terserah. "
Ruksa pun seketika langsung membungkam mulutnya, ia kemudian kembali terduduk, dengan wajah dongkolnya ia memangku dagunya sembari memerhatikan pelajaran pria killer itu, meski pun pikirannya sudah pergi entah kemana.
" Nah anak-anak, pelajaran hari ini cukup sampai di sini, ingat untuk giat belajar, dan juga kalian harus mendengarkan perkataan orang tua, jangan kayak tadi. Setelah berani melawan omongan saya, dengan tak tahu malunya dia kembali dan menyimak pelajaran hingga selesai. " terangnya sembari menyindir Ruksa yang acuh tak acuh.
Setelah berkata seperti itu, pria itu kemudian berjalan meninggalkan kelas.
Semua orang yang berada di kelas itu tahu, siapa sosok yang guru itu maksud. Seketika mereka menoleh ke arah Ruksa yang masih dengan wajah acuh tak acuhnya.
__ADS_1
Mereka saling berbisik satu lain, setelah kepergian Aldan dan juga Mikael, Kayla pun kemudian perlahan menggantikan posisi Queensha, gadis itu terus mengganggu Ruksa seperti mencoret bangku sekolah miliknya, atau pun mengisi kolong mejanya dengan sampah.
Itu semua di lakukan karena Kayla ingin balas dendam pada Ruksa, gadis itu mengira bahwa meninggalnya Queensha, Laila dan menghilangnya Mikael, itu semua di sebabkan oleh Ruksa yang seorang pembawa sial. Dan semua orang percaya pada ucapannya.
Kecuali Ruksa sendiri yang menyadari bahwa gadis itu hanyalah seorang penipu dengan dalih balas dendam, tapi nyatanya gadis itu hanya ingin membuat dirinya sendiri menjadi populer.
Namun, Ruksa tak peduli dengan perlakuan gadis itu padanya, karena baginya gadis itu bukan apa-apa, jadi dirinya memilih diam dan memperhatikan saja.
Mengesampingkan sikap Kayla, Ruksa baru teringat, bahwa dirinya belum bertemu dengan Darian sejak dirinya masuk ke sekolah kembali.
' Bukankah dia baik-baik saja? ' Batin Ruksa.
Ia mencoba berpikir, kemana perginya anak itu, apa mungkin dia masih sedih atas kepergian dari temannya itu?
Langkah kakinya terus berjalan, dengan kepala menunduk lemas, hingga tiba-tiba ia melihat sepasang sepatu kulit yang berdiri di depannya.
Kepalanya menengadah, menatap sosok yang berada di depannya. Seketika dahinya mengernyit ketika melihat sosok yang tak asing di depan wajahnya.
" Kamu Dania kan? "
__ADS_1
" Iya kenapa? "
Tanpa aba-aba, pria itu langsung menariknya ke dalam dekapannya dan memeluknya penuh dengan rasa rindu