
" Kenapa lama sekali? Apa kamu baik-baik saja? " tanya Ruslan pada putrinya yang baru kembali dari kamar mandi.
Sikap Ruslan yang over protektif itu membuat salah satu alis Ruksa berkedut, ia tak menyangka bahwa sikap itu akan kembali kambuh dalam waktu singkat.
" Seperti yang terlihat, aku sangat baik-baik saja. " timpal Ruksa.
" Bukan seperti itu, Ayah hanya khawatir, jika terjadi sesuatu padamu. "
Ruksa pun memutar bola matanya malas, apa yang perlu di khawatirkan, lagi pula jarak kamar mandi dengan meja makan mereka hanya berjarak sekitar lima menit saja, di tambah, siapa yang mau menculik atau membunuh dirinya dengan badan dan wajah seperti ini, hanya orang bodoh yang mau menculik dirinya.
Bibi May yang melihat interaksi keduanya hanya bisa menggelengkan kepalanya, sedangkan Fajri begitu fokus dengan ponsel di tangannya, seakan tak peduli jika bumi hancur sekaligus.
Hingga tiba-tiba ponselnya di rampas begitu saja oleh sang ibu, Fajri yang awalnya ingin protes mengurungkan niatnya ketika melihat raut marah dari wajah sang ibu yang lebih menyeramkan dari pada wajah hantu.
Setelah mengisi perut hingga full, mereka pun memutuskan untuk pulang, tak lupa membayar tagihan terlebih dahulu.
" Kak, sebelum pulang main dulu ke Timezone yuk. " Ajak Fajri pada Ruksa sedikit berbisik
Tanpa menoleh, Ruksa pun menolak ajakan itu tanpa pikir panjang.
Akan tetapi, meski sudah di tolak, Fajri tak menyerah begitu saja ia terus menerus merayu perempuan di sampingnya, dan mengatakan bahwa jika bukan sekarang, maka tak ada lagi kesempatan untuk main
" Terus, Ayah Kakak gimana? Dia kan lagi sakit. "
Fajri pun terdiam sejenak, jari telunjuknya mengetuk dagunya dengan tatapan melihat ke atas, sesekali menatap pria yang berjalan di samping ibunya, dari kejauhan ia bisa melihat dari atas hingga bawah, bahwa pria itu terlihat biasa saja, tak terlihat seperti orang sakit.
" Biarkan saja Paman ikut serta, lagi pula aku yakin, Paman pasti tak akan menolak." Ucapnya yakin. " Kakak bayangkan saja, di rawat beberapa di rumah sakit pasti sangat jenuh, di tambah pas sampai di rumah, paman harus berbaring lagi, apa kakak tega melihat paman yang harus kesepian lagi? Jadi sebelum hal itu terjadi, ada baiknya kalau dia di bawa untuk bersenang-senang terlebih dahulu. "
Salah satu alis Ruksa terangkat sebelah, kedua tangannya terlipat di dada, kedua matanya menyipit menatap bocah di sampingnya, meski keduanya jarang bertemu apalagi berkomunikasi, tapi Ruksa merasa ada perasaan akrab dengan bocah itu, rasanya dia mengingatkan pada seseorang yang di kenalnya.
__ADS_1
Sebenarnya Ruksa perasaan dari bocah di sampingnya, karena ia baru mengetahui bahwa Bibi May tidak selembut yang di lihatnya, terkadang wanita itu akan menjadi menyeramkan ketika anaknya mendapat nilai rendah apalagi ketahuan bolos. Wanita itu juga tak segan-segan memberi hukuman cukup berat pada putranya itu.
Dan karena ujian semester sebentar lagi tiba, membuat Bibi May menjadi keras dari sebelumnya, wanita itu melarang keras Fajri untuk menyentuh ponsel sebelum bocah laki-laki itu menyelesaikan kegiatan belajarnya.
Tak lupa, dia juga mendaftarkan Fajri di berbagai tempat les terbaik di kota.
Tapi karena Ruslan yang masuk rumah sakit karena di tusuk membuat wanita itu kehilangan fokus, dia begitu sibuk mengurus Ruslan hampir setiap hari
Karena hal ini Fajri pun memanfaatkannya. Dengan berbagai alasan dirinya berhasil melewati jam belajar yang membuat otaknya terasa terbakar. Di tambah mereka sedang berada di luar, jadi dia menyarankan untuk bermain terlebih dahulu.
Di sisi lain, Ruksa merasa kasihan pada bocah itu, tapi juga dirinya harus memperhatikan Ruslan terlebih dahulu, jadi dia memilih jawaban tidak.
" Ayolah kak, aku akan lakukan apapun yang kakak ingin kan, bagaimana? " ujar Fajri yang masih belum menyerah.
" Jika Kakak menyetujui permintaan mu, bagaimana jika luka di tubuh Ayah ku terbuka kembali? Apa kamu ingin bertanggung jawab? "
" So-soal itu . . . Anggap saja aku tak pernah berkata seperti itu. " Fajri pun berjalan lebih dulu dan masuk ke dalam mobil dengan wajah cemberutnya.
" Aku bersumpah bahwa aku tidak melakukan apa-apa. " Ruksa berkata dengan serius.
Selama perjalanan, suasana di dalam mobil pun terasa sangat suram, tapi Ruksa tak memperdulikannya, dirinya lebih fokus memikirkan nasib dirinya di masa depan.
" Loh kok kita ke mall, Bibi mau beli baju? " tanya Ruksa yang menyadari bahwa mereka telah berhenti di sebuah mall.
" Bukan, ini ayah mu katanya mau ke toilet lagi. " timpal wanita itu
Lagi? Ruksa pun mengernyitkan dahinya, ia yakin pria itu pasti sudah mendengar percakapannya dengan Fajri.
Dan benar saja, sebelum turun dari mobil, pria itu berkata bahwa dirinya ingin bermain sejenak, sekaligus dirinya ingin membeli bebrapa barang.
__ADS_1
Di dalam hati Ruksa hanya tak bisa habis pikir, bagaimana pria itu rela mengorbankan kesehatannya untuk seorang bocah. Di sampingnya, Raut wajah Fajri tiba-tiba mendadak jadi cerah.
" Tidak Ruslan, kamu baru saja keluar dari rumah sakit, aku tak ingin luka mu kembali terbuka. " jawab Bibi May dengan tegas.
Senyuman di wajah Fajri pun seketika luntur kembali.
Akan tetapi, walau sudah mendapat penolakan, Ruslan tetap gigih, ia bersikukuh dengan perkataannya seraya berkata bahwa dirinya sudah jenuh berdiam diri di rumah sakit, jadi sebelum dirinya pulang ke rumah, dirinya ingin bersenang-senang terlebih dahulu.
" Tapi . ..
" Ayolah Bibi May, hanya sebentar saja, satu jam. Bagaimana? " ucap Ruksa yang membantu meyakinkan wanita itu.
Bibi May terdiam sejenak, jari tangannya mengetuk stir mobilnya.
" Ayolah hanya satu jam saja. " ucap Ruksa kembali meyakinkan.
Wanita itu pun menghela nafas, ia akhirnya menyerah, dan membiarkan mereka pergi untuk bersenang-senang, dengan beberapa syarat, bahwa mereka harus kembali dengan tepat waktu dan tak ada yang boleh terluka.
Ketiganya pun setuju, dengan antusias, ke tiganya berjalan setengah berlari masuk ke dalam mall.
Akan tetapi saking antusias dan tak ingin menyia-nyiakan waktu Fajri tiba-tiba tak sengaja menabrak seseorang hingga membuatnya jatuh tersungkur di atas lantai.
Dari kejauhan, Ruksa dan Ruslan yang melihat Fajri langsung mempercepat langkah mereka dan menghampirinya sekaligus membantunya untuk berdiri.
" Caca kamu tidak apa-apa? "
Tiba-tiba tubuh Ruksa menegang, mendengar nama panggilan dan suara yang sangat familiar, ia pun meneguk salivanya dan memberanikan melihat sosok di depannya, berharap bahwa dugaannya salah besar.
Oh tidak, kenapa mereka ada di sini? batin Ruksa yang terkejut melihat Dania bersama Daniel.
__ADS_1
Namun tak hanya dirinya saja yang ikut terkejut, Dania dan juga Ruslan pun ikut terkejut dengan pertemuan yang tidak terduga ini.