Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
53


__ADS_3

Saat tahu, bahwa dirinya bukan anak dari Ruslan. Dania pun tak bisa berhenti berpikir, perasaannya menjadi gelisah dan tak tenang, awalnya ia berencana akan langsung pulang


Namun, bayangan itu terus menghantuinya, pada akhirnya ia memutuskan meminta bantuan Ruksa, untuk membantunya mencari kedua orang tuanya yang asli.


Tak peduli, seberapa perih luka yang akan di dapatnya nanti. Tapi Dania tak peduli sama sekali. Setidaknya ia bisa mengetahui alasan Ayahnya itu mau membesarkannya hingga sekarang. Bahkan rela untuk tidak menikah demi membesarkan dirinya.


Setelah berdiskusi panjang lebar dengan Ruksa akhirnya Dania pun menyetujui permintaan wanita itu yang memintanya untuk memisahkan ayahnya dengan Alexa sebagai syarat untuk mencari tahu jati diri orang tuanya.


Sebagai tambahan, Ruksa juga melarang keras, gadis itu bertemu dengan Ruslan dengan raganya itu, meskipun keduanya tak tahu bagaimana ke depannya.


Tapi Sebagai antisipasi, Ruksa meminta Dania untuk sebisa mungkin menghindar dan jangan sampai terlibat dengan Ruslan.


Bahkan bila perlu, larilah sebisa mungkin, supaya tidak bertemu.


Saat mendengar keputusan itu, Dania terdiam sejenak, kedua alisnya mengernyit. Entah kenapa, ia merasa sedang menjadi buronan.


Jika sampai berlari, bukankah itu terlalu berlebihan?


Jujurnya Dania tak bisa melakukannya, akan tetapi. Demi kebenaran yang sangat ingin diketahuinya, mau tak mau, ia pun menerima syarat tersebut, walaupun dengan yang hati berat.


Karena kedua belah pihak telah setuju, keduanya pun saling menjabat tangan, sebagai bukti kerja sama mereka.


Tanpa sadar, matahari sudah mulai tenggelam, keduanya sudah menghabiskan waktu cukup lama, hingga tak sadar waktu.


Ruksa yang harus menemani Ruslan, bergegas pergi.


Saat di tawari tumpangan oleh Dania, wanita itu dengan santai menolak tawaran tersebut, ia lebih memilih untuk menggunakan sepeda tuanya


Dania yang tak bisa memaksa pun hanya bisa menganggukkan kepalanya.


*

__ADS_1


Di sepanjang jalan, Dania tak bisa berhenti menghela nafas.


Bahkan Ismail yang tengah menyetir pun menyadari hal tersebut. Kedua matanya sesekali melirik kaca spion, memperhatikan gerak gerik dari bosnya.


Lambat laun, pria itu pun mulai terbiasa dengan kelakuan baru bosnya itu. Ia pun hanya terdiam memperhatikan sikap bosnya itu tanpa membuka suaranya sedikit pun, membiarkan wanita itu bergelut dengan pikirannya sendiri.


Tak terasa, Dania pun sampai di depan gedung apartemen tempat tinggalnya. Ia pun menyuruh Ismail untuk pergi, dan membiarkannya sendirian untuk sementara waktu.


Ismail pun hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, kemudian kembali masuk ke dalam pergi, lalu pergi sesuai dengan perintah bosnya.


Di sisi lain, Dania yang sudah ingin merebahkan diri di atas ranjang, bergegas berjalan menuju lift, agar bisa cepat sampai ke apartemennya.


Sesampainya di depan apartemen Dania pun meletakkan kunci kartunya pada gagang pintu miliknya. Seketika pintu itu terbuka secara otomatis.


Kedua langkah kakinya berjalan gontai memasuki apartemen.


" Dari mana saja kamu? Kenapa baru pulang? "


Tubuh Dania seketika menegang, ketika mendengar suara pria yang tak asing di kedua telinganya, ia pun menolehkan kepalanya secara perlahan. Kedua bola matanya terbeliak ketika mendapati ayah Ruksa tengah terduduk di ruang tamu seraya menyesap secangkir bir.


Apa dia tampak seperti itu? Sehingga putrinya harus memberi ekspresi seperti itu padanya.


" Kenapa sekaget itu? Apa salahnya seorang ayah mengunjungi rumah putrinya? " Ujar Bagaskara. " Salahkan dirimu karena tak pernah datang berkunjung pada ayah mu ini? " tambahnya seraya bangkit dari posisi duduknya lalu berjalan menghampiri putrinya.


Kendati begitu, Dania tak bergeming sama sekali, dirinya begitu terkejut sekaligus ketakutan setengah mati, melihat penampakan pria tua itu.


" Apa kamu dengar apa yang ayah mu ini katakan? " tanya Bagaskara, tangannya terulur ke depan. Namun tiba-tiba putrinya itu malah menghindar, seakan-akan tak ingin di sentuh. Membuatnya berpikir bahwa putrinya ini masih menaruh dendam terhadapnya.


Bagaskara pun, menghela nafas, ia pun menarik kembali tangannya lalu memasukkannya ke dalam saku celananya. Kedua matanya menatap lekat pada putri semata wayangnya.


" Sampai kapan rasa benci mu itu akan sirna? " tanya Bagaskara kembali.

__ADS_1


Dania terdiam, salah satu tangannya memegang tangannya yang gemetar ketakutan, namun sebisa mungkin, ia harus mempertahankan wajahnya agar terlihat tenang, meskipun sebenarnya ia sangat ketakutan setengah mati


Selama ini dirinya berhasil menghindari pria itu berkat saran dari Ruksa, namun ia tak pernah menduga bahwa pria tua itu akan datang menghampirinya seperti ini dan membuatnya tak bisa berkutik. Memanggil Ismail pun tak akan ada gunanya.


Sungguh, Dania ingin pergi berlari saat itu juga.


Apalagi, aura dominan yang di pancarkan dari dalam tubuh Ayah Ruksa sangatlah kuat. Membuat Dania kesulitan untuk bersikap tenang.


Namun, karena dirinya sudah berjanji pada Ruksa, Ia pun mencoba menenangkan diri dengan cara menarik dan menghembuskan nafasnya secara perlahan.


Ia kemudian memejamkan kedua matanya, kepalanya menoleh pada ayah Dania yang sudah terduduk santai kembali di atas sofa.


Dengan keberanian yang sudah susah payah di kumpulkan, Dania pun berjalan menghampiri ayah Ruksa, lalu terduduk tepat di samping pria itu, menatapnya dengan lekat.


" Jika aku meminta mu untuk meninggalkan wanita itu, apa kamu bersedia? " tanya Dania.


Bagaskara terdiam, tangannya terhenti memainkan gelas di tangannya, ia tak pernah menyangka akan mendapat pertanyaan itu secara mendadak. Ia pun menolehkan kepalanya seraya membalas tatapan putrinya itu.


Keduanya saling bertukar tatapan.


" Lihat? Ayah bahkan tak bisa memutuskan siapa yang penting di dalam hidupmu? Jika demikian, jangan harap ikatan antara kita bisa bersatu. " Dania berkata seraya bangkit dari posisi duduknya. Ia menghentakkan kakinya kesal, lalu berjalan meninggalkan pria tua itu dan kembali ke tempat tidurnya.


Namun ke dua langkah kaki Dania tiba-tiba terhenti.


" Kenapa? . . . kamu sangat melarang ayah menikah dengan Alexa? Padahal dia adalah wanita yang baik. " Ungkap Baskara, seraya menyesap kembali minuman yang berada di tangannya.


Dania pun membalikkan tubuhnya, lalu berkata. Bahwa Alexa yang di sebut baik itu, telah pergi dengan pria lain. Dan juga, perasaan cinta wanita itu tak pernah tulus, sebab wanita itu telah mengincar keluarga Wisesa sejak dulu.


Bahkan, wanita itu pernah berjalan berdua dengan seorang pria di sebuah mall terkenal. Keduanya terlihat sangat mesra.


" Kalau begitu buktikan. " Bagaskara berkata.

__ADS_1


" huh? "


" Buktikan kalau Alexa tidak sebaik yang Ayah kira. . . . Jika dalam seminggu kamu bisa membuktikannya, maka ayah akan memutuskan untuk meninggalkannya selamanya, sama seperti mu yang meninggalkan Bismo. " kata Bagaskara. " Jika dalam waktu seminggu, kamu tak bisa membuktikannya, maka kamu harus menerima pernikahan ayah dengan Alexa. " tambahnya seraya berjalan meninggalkan Dania yang masih mematung.


__ADS_2