
" Saudari ku, seharusnya, kamu duduk dan diam saja di sana atau lebih baik kamu ikut mati saja bersama mereka, kenapa harus susah payah datang kemari? Jika sudah seperti ini aku terpaksa untuk membawa kepala mu agar tak ada lagi yang menghalangi jalanku. " Arga tiba-tiba datang dengan dua puluh orang yang mengikutinya dari belakang.
Amar yang merasa ada bahaya langsung berdiri di depan Dania dengan mengarahkan senjata apinya ke arah Arga.
Salah satu sudut bibir Arga terangkat sebelah setelah melihat bekas muntahan saudara, ia kemudian terkekeh geli, lalu menatap saudaranya itu yang terlihat sangat pucat. " Tunggu, apa kamu baru saja muntah? " ejeknya. " Kemana perginya Ruksa yang dingin dan kejam? Aku ragu bahwa kamu adalah dia? Jangan bilang kalau kamu melakukan operasi plastik supaya bisa menggantikan posisinya? Waw sangat mengejutkan. Kalau begitu, katakan, di mana dia sekarang? " tanyanya dengan nada dingin mengintimidasi.
Secara spontan, seluruh tubuh Dania menggigil, ia merasa ada tekanan berat di pundaknya, hingga membuat lidahnya terasa sangat kelu.
Dor! Dor! Dor! Arga tiba-tiba menembak ke arah Dania, namun semuanya meleset, kecuali tembakan terakhir yang hanya mengenai sisi pipi kirinya.
Tanpa sadar, Dania meneguk salivanya.
" Katakan, dimana dia sekarang? Atau akan ku pecahkan kepalamu itu. " Kata Arga sembari berjalan mendekat ke arah Dania.
Amar yang merasa terancam langsung melepaskan tembakan ke arah Arga, akan tetapi sebuah peluru meluncur dan mengenai pundak kiri dan kaki kanannya, hingga membuatnya tak bisa berkutik.
" Mbak, larilah, saya akan menjaga mbak dari sini. " kata Amar.
__ADS_1
" Tapi. . .
" Tolong sampaikan rasa terima kasih saya pada Ruslan, katakan padanya bahwa saya sangat bersyukur telah bertemu dengannya dan juga. . .
Dor! Sebuah tembakan langsung menghancurkan kepala Amar, hinggan membuat pria itu akhirnya meninggal
Dania yang melihat adegan itu, semakin membuatnya tak bisa berpikir jernih lagi, kedua lututnya terasa lemas untuk menahan beban di tubuhnya, hingga membuatnya jatuh berlutut ke bawah.
Seketika, Arga pun menjadi senang, akhirnya kemenangan berada di tangannya, karena Ruksa akan mati di tangannya, ia kemudian meletakkan senjata api tepat di dahi wanita di depannya dan siap menarik pelatuk di tangannya kapan saja, Akan tetapi tiba-tiba. . . .
" Sialan!! Siapa yang berani nembak gue hah?! Keluar sekarang juga! Lo pantas mati di depan gue! " ucap Arga dengan lantang yang diiringi dengan perasaan murka, akan tetapi sayangnya tak ada satu pun sosok yang keluar, yang ada hanyalah suara tembakan yang pada akhirnya mengenai Arga.
Merasa bahwa nyawanya semakin terancam, Arga kemudian menyuruh anak buahnya untuk mundur.
Setelah di pastikan Arga dan komplotannya mundur, tak lama kemudian Ruslan, Ruksa dan Mail pun keluar dari persembunyiannya.
" Kamu tidak apa-apa? " tanya Ruslan.
__ADS_1
" Ayah~ aku sangat takut, kenapa kamu sangat lama sekali? Aku ingin cepat pulang~ " Ucap Dania tanpa sadar sembari memeluk Ruslan dengan erat hingga membuat pria di depannya tertegun dengan apa yang ia dengar.
" Ruksa sadar lah, aku bukan Ayah mu. Aku ini Ruslan. " Jawab Ruslan membenarkan.
Akan tetapi, seakan telinganya menjadi tuli, Dania malah memperat pelukan itu seakan ia takut untuk berpisah. Ruksa yang melihat sikap dari Dania yang hampir membeberkan rahasia mereka, langsung menghampiri kemudian menjauhkan mereka.
" Kakak tenanglah , kami semua sudah datang untuk menyelamatkan mu, jadi kamu tak perlu takut lagi, benar kan Ayah. " kata Ruksa dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya. " Aku tahu, Kakak pasti terkejut bukan, hingga membuat mu mengira kalau Ayah ku adalah Ayah mu KAN?!. '
Dania kemudian menganggukkan kepalanya beberapa kali sebagai jawaban, ia juga meminta maaf atas apa yang baru saja dilakukan.
Di dalam hati, Ruksa merasa kasihan, sebenarnya gadis itu tidak salah, tapi yang salah itu adalah tubuhnya yang seharusnya bukan miliknya. Tapi apalah daya, jika orang lain tahu tentang jiwa mereka yang tertukar, pasti Malaikat maut itu akan datang dan mencabut nyawa mereka saat itu juga. Membayangkan kemunculannya saja sudah membuat bulu kuduknya meremang.
" Di mana Amar? Apa dia baik-baik saja. " tanya Ruslan tiba-tiba.
Dengan tubuh yang masih gemetar, Dania menunjuk pada mayat yang sudah terbujur kaku di depannya.
" Maaf, dia meninggal karena berusaha menyelamatkan ku. " ungkap Dania sembari terisak, Ruksa yang merasa tak tega pun mencoba untuk menenangkan gadis itu dengan mengatakan bahwa itu bukanlah salahnya tapi melainkan semua itu sudah menjadi takdir
__ADS_1