
Ckrik! Akhirnya terbuka
" Fuh! Akhirnya terbuka juga," bernafas lega. Saat ini yang bisa Dira lakukan hanya mengurus rumah seperti biasa.
" Heh kemana saja kamu?" Jena tiba-tiba muncul
" Aku ya?" Bukannya kamu tahu? Kamu yang mengunciku kan?
" Ambilkan aku makanan!" Ambil saja sendiri, duh aku masih harus di hina begini, kamu tidak berubah padahal aku anak yang baik! Batin Dira
" Cepat! Lamban sekali!!" Bentak Jena yang sekarang duduk santai diruang tv.
" Iya tunggu sebentar,"
" Aku sudah menguncinya di luar, tapi kenapa dia ada disini?" Gumam Jena, dan terdengar oleh Dira, sudah kuduga! Dasar jahat! Rasanya aku ingin membalas, tapi itu akan sama saja dengannya, Batin Dira. Deg..deg deg
" Ini, kenapa aku merasa sesak, apa jangan-jangan...uhh" Yeah berhasil, batin Olivia, kita kembali lagi guys, bermain api haha! Dan disisi lain.
" Haff, benar nih kita bertukar lagi," kata Dira, tidak merasa terkejut, lagi-lagi orang yang pertama dilihatku itu Ash, tapi ada apa dengan wajahnya? Dalam hati Dira.
" Hmmm?" Bertanya-tanya
"Bukan apa-apa," jelasnya, yang sebenarnya sebab dari wajah Ash merona ialah karena godaan Olivia yang merengek ingin bertukar kembali, dengan kiss di pipi, sebagai bayaran.
" Apa kamu sedang demam?" Hendak menyentuh kening, tapi Ash menangkis.
" Jangan sentuh aku," aku sudah cukup dengan itu, bisa-bisa aku gila! Batin Ash
" Aku tidak apa-apa, jangan membuatku merasa..." Oh iya, Olivia sudah tidak ada, dalam hati Ash
" Baiklah," oh iya, dia kan suka putri Olivia, batin Dira
" Hmm?? Kenapa kamu terus memegang pipi kananmu? Sakit gigi?" Tanya Dira polos
" What? Serius kamu pikir gitu? Mana ada penyirir sakit gigi!" Terlihat kesal
__ADS_1
" Santai dong, cuma becanda,"
" Apanya yang lucu?!"
" Haisss, aku ingin makan,"
" Kamu sudah makan beberapa menit yang lalu, itu akan tetap sama kan meski jiwanya berbeda..."
" Oh, itu aku hanya basa-basi saja, haha" soalnya disana aku belum makan.
Kruyukkkk!!
" Eh? Aku lapar ya, kebetulan aku sedang memegang makanan, meski entah apa ini, jadi Dira hendak makan ya?" Segera memakan, yang sebenarnya itu makanan untuk Jena.
"Umm, tidak terlalu buruk, manis dan renyah, entah coklat apa, ini lumayan enak..."
" Hey Dira bodoh, lama sekali, apa kaki mu itu sudah tak berfungsi!!!" Teriak Jena
" Oh, kau itu Jena si idiot toh, apa yang kau inginkan? tentu saja aku hancurkan!" Gumam Olivia, segera menghampiri Jena.
" Ada apa?" Bertanya acuh tak acuh
" Itu kan makananku, kamu lupa atau bodoh??! Kenapa kamu memakannya?!" Marah jengkel
" Makanan mu dari mana? jelas-jelas ada ditanganku... Ya kumakan, aku juga lapar..." Masih acuh tak acuh
" Beraninya kamu! Aku sudah menyuruhmu mengambil makanan!" Membentak
" Kurasa kamu tidak lumpuh, atau yeah mungkin kakimu hanya dijadikan pajangan, entahlah? membosankan berdebat denganmu"
" Kamu benar-benar!!!" Beranjak dan hendak memukul
" Jika begitu jangan salahkan aku!! Aku akan..." Siap menampar
Plakkk!
__ADS_1
"Huh???" Olivia menampar Jena
" Hmm?" Reaksi yang menunjukan bahwa tidak ada rasa merasa bersalah sedikitpun
" k,Kamu..." Masih menahan sakit
" Jangan salahkan aku, kamu yang memintanya..."
"Keterlaluan!!" Teriak
" Kamu ingin mengadu, dasar bocah pengecut..."
"...." Apa? Sejak kapan dia jadi berani? Lihat apa yang bisa aku lakukan, tunggu dan lihat saja nanti! Batin Jena yang memandang benci kepergian Olivia
" Aku tidak suka di tindas, tapi hal itu membuat ku terhibur, aku bisa melawan! Dan aku memang suka melawan" Senyum sinis. Keesokan harinya, Di ruang buku, perpustakaan sekolah.
" Kamu menapar Jena?" Tanya Luis serius, wajah ramahnya hilang Tah kemana.
" Ya," tidak merasa bersalah
"...." Membisu
" Kenapa? Kamu tidak suka? Mau menapar balik?" Acuh tak acuh
" Tidak! Aku hanya berpikir kamu berbeda, tapi sepertinya aku salah" senyum masam
" Kamu berharap aku baik, tetap diam walau tertindas, tetap menjadi bodoh saat dibodohi, tetap tersenyum meski terluka? Benarkah aku harus menjadi orang terbodoh di dunia ini? Tidak, aku tidak mau!" Melanjutkan baca halaman selanjutnya
" Tidak! Tapi bagaimana bisa kamu menampar Jena?" Nada sedikit meninggi
" Duh, yang kunilai darimu sekarang adalah kebodohan...yeah entah, tapi sebaiknya pikirkan dengan logikamu, kenapa aku menamparnya? Hmm...kenapa ya? Haha aku tidak tahu..." Langsung berdiri dan pergi
" Dira, aku akan percaya kamu tidak melakukannya, tapi kamu mengakuinya tanpa ada penyesalan dimatamu, sepertinya kamu malah merasa itu hebat..." Menggenggam tangan Olivia
" Lepaskan! Hmph, kecewa padaku aku tidak perduli, kamu sama saja dengannya, secara tidak disadari kamu sama saja dengannya...yeah sama!" Pergi. Dan, aku harus mengubah penampilan, Dira itu mengapa memohon agar tidak banyak berubah? Dia itu penakut sekali
__ADS_1