
Setelah ledakan itu terjadi , Ruksa, Dania, Amar Ruslan dan juga Rusdi memilih untuk segera kembali ke kota.
Sedangkan Zaiden dan Rajendra, memilih untuk menetap di sana, untuk mengumpulkan bukti bahwa tempat ini berhubungan dengan Clara, mereka bahkan menutup semua jalur masuk gunung untuk semua orang termasuk para warga yang tiba-tiba menjadi penasaran.
Para warga berbondong-bondong, memotret dan merekam kejadian itu dengan ponsel mereka. Membuat Zaiden jengkel di buatnya, ia kemudian memanggil bala bantuan untuk berjaga-jaga.
Meski, rumah itu sudah hancur sepenuhnya dan menyisakan beberapa anak saja yang selamat, namun berkat kepandaian Zaiden, pihak polisi menemukan beberapa tulang, yang di yakini bahwa mereka adalah orang-orang yang hilang beberapa tahun yang lalu, yang ternyata seorang ketua gangster yang menghilang secara mendadak bak di telan bumi.
Hal, ini di yakini dengan penemuan sebuah simbol berupa pin yang merupakan ciri Khas mereka.
Kadang, Rajendra tak habis pikir, bagaimana cara mereka yang masih kecil, mampu menaklukkan seorang gangster? ia yakini bahwa suatu saat, mereka akan menjadi monster yang mengerikan.
Di saat, Rajendra dan Zaiden tengah sibuk menyelidiki kasus di rumah itu, berbeda dengan Rusdi yang tengah fokus berkendara agar bisa sampai secepat mungkin ke kota lalu bergegas ke perusahaan Wisesa untuk menghentikan Clara yang ingin mengambil alih perusahaan keluarga Wisesa menggunakan Arga, yang ternyata, keduanya sudah saling mengenal sejak lama dan telah merencanakan semuanya sejak lama.
__ADS_1
Ruksa sendiri tak pernah menyangka bahwa Arga ternyata ikut terlibat, di balik wajah polosnya, ternyata ia menyembunyikan sebuah rahasia besar, di mana bahwa dirinyalah penyebab semua ini.,
Di tengah perjalanan, Ruksa tak berhenti gelisah, ia terus menggigiti kuku ibu jarinya, sembari berpikir, mungkinkah, pamannya ikut terlibat juga? Mengingat bahwa pria itu terkesan seperti acuh tak acuh dengan sikap putranya. Seakan-akan dia tak peduli lagi.
Namun, setelah di pikir kembali, pria itu bukan bersikap acuh tak acuh, melainkan dia sengaja menjauhkan putranya dari huru hara keluarga Wisesa, sebelum ia membangun pondasi yang kuat untuk putranya.
Rasanya, Ruksa ingin mentertawakan dirinya sendiri, ia terlalu sibuk membasmi hama yang berada di sekitarnya, hingga melupakan, bahwa ada hama yang lebih picik dari hama yang selalu mengelilinginya.
" Cepat hubungi Ismail, dan katakan padanya untuk mengulur waktu untuk kita. " ujar Ruksa tiba-tiba, membuat Rusdi dan Ruslan terperangah heran mendengar ucapannya. Keduanya saling bertukar pandang.
Ruksa yang mendengar penuturan Rusdi, segera tersadar akan ucapan yang baru saja keluar dari mulutnya. Karena panik, ia lupa bahwa jiwanya masih berada di dalam tubuh Dania. Ia kemudian hanya bisa mengigit bibir bawahnya dengan cukup keras, lalu kemudian segera mengalihkannya dengan memuji pemandangan laut yang tengah mereka lewati.
" Aish, jangan mengalihkan pembicaraan, paman sungguh mengkhawatirkan mu. "
__ADS_1
" Memang nya ada apa dengan ku, aku baik-baik saja kok. "
" Benarkah? "
" Kenapa? Jika tak percaya paman bisa membedah otak ku. "
" Lalu, kenapa kamu terlihat gelisah seperti itu? Yang sedang dalam masalah kan dia ,bukan kamu, jadi kamu tak perlu merasa gelisah seperti itu. Anak kecil seperti mu, tak ada hubungannya, lebih baik kamu fokus saja belajar dengan baik.
Ruksa pun menoleh dan mendapati reaksi Dania yang terlihat biasa saja, dia bahkan terlihat menikmati pemandangan pantai yang sempat mereka lalui.
" Bagaimana bisa ini bukan urusanku, ini kan urusan keluarga alu juga, kan Ayah. " ucap Ruksa dengan menekankan kata terakhirnya.
Rusdi yang merasa tertinggal informasi, langsung melirik dari balik kaca spion
__ADS_1
" Kenapa? Apa Kakak, menyembunyikan sesuatu lagi dari ku? Bukankah kita sudah berjanji sebelumnya untuk saling terbuka. Wah Lo tuh, sungguh seorang Kakak yang tak bisa di pegang omongannya.