
Keduanya saling terdiam, tak ada satu pun dari mereka yang mau memecah keheningan yang berada di antara keduanya. Hingga ponsel Ruksa tiba-tiba bergetar.
Ia pun merogoh benda itu dari balik saku seragamnya.
Kedua alisnya mengerut ketika melihat sebuah nama yang tertera di layar ponselnya.
Tumben, tak seperti biasanya Bibi May memanggilnya, membuatnya bertanya-tanya ada apa gerangan?
Tanpa membuang waktu, jarinya menggeser layar hijau di layar ponselnya, lalu mendekatkannya ke daun telinganya
" Halo, ada apa bibi May? " tanya Ruksa.
" Dania kamu dimana? Tadi bibi telpon ke sekolah, tapi katanya kamu tidak masuk. "
Sial, ketahuan dong gue bolos. Batin Ruksa.
Namun, Ruksa berusaha setenang mungkin. Ia pun mencoba mengalihkan pembicaraan dengan bertanya, ada apa wanita itu tiba-tiba memanggil dirinya.
" Oh iya bibi hampir lupa, ayah kamu masuk rumah sakit! "
Brak!!
Secara spontan ia berdiri seraya menggebrak meja hingga membuat seluruh pengunjung kafe dibuat kaget olehnya termasuk Dania yang berada tepat di depannya yang hampir tersedak di buatnya.
" Apa?! Kok bisa? Baiklah kalau begitu aku akan segera ke sana. " Ruksa berkata seraya menutup panggilan itu secara sepihak, ia pun bergegas merapihkan barang bawaannya.
Dania yang berada di sebrang Ruksa hanya terdiam tak mengerti sekaligus penasaran, apalagi melihat raut panik nan cemas yang tersirat jelas di wajah wanita di depannya itu.
" Ada apa? Apa ada sesuatu? " Tanya Dania penasaran.
Tangan Ruksa pun terdiam sejenak. Ia menolehkan kepalanya.
Gara-gara mendengar Ruslan yang masuk rumah sakit membuat otaknya mendadak berhenti berpikir, dan baru menyadari bahwa dirinya sedang bersama dengan Dania.
Ia pun mencoba menenangkan diri dengan menarik dan menghembuskan nafasnya secara perlahan.
Di rasa sudah tenang, ia pun memberitahukan bahwa dirinya baru saja mendapat panggilan dari bibi May yang mengatakan bahwa Ruslan masuk di rumah sakit.
Seakan tersambar petir, Tubuh Dania pun terlonjak kaget, kedua bola matanya bergerak secara gelisah. Dadanya kempang kempis, perasaan resah gelisah mulai menyelimuti dirinya.
Kepalanya mendongkak, menatap Ruksa dan kembali bertanya untuk memastikan, apakah yang baru saja di dengarnya itu sungguh benar terjadi?
__ADS_1
" Apa wajah gue terlihat berbohong?! " Timpal Ruksa.
" Kalau begitu bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja? " tanyanya kembali.
Ruksa pun menghela nafas, ia berbalik menatap Dania seraya berkata dengan jujur, bahwa dirinya juga tak tahu bagaimana keadaan pria itu, karena dirinya belum sempat bertanya.
" Kalau begitu, ayo kita bergegas ke sana. " ajak Dania.
Ruksa pun hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.
Tanpa membuang waktu, keduanya pun langsung bergegas meninggalkan kafe dan pergi menuju rumah sakit.
Beruntung, Dania selalu membawa Ismail, alhasil, mereka bisa sampai ke rumah sakit dengan sedikit memakan waktu.
Keduanya langsung berlarian mencari sosok Bibi May.
Setelah cukup lama mencari, keduanya akhirnya bisa menemukan sosok wanita itu yang tengah terduduk di ruang tunggu.
" Bibi May! " Seru Ruksa.
Kepala wanita itu menoleh, wajah nya begitu panik sekaligus lega akan kedatangan ponakannya itu.
Wanita itu menangis dan memeluk tubuh Ruksa, namun kedua matanya menangkap sosok Dania yang berada di tubuh Ruksa, membuat wanita itu penasaran. " Dania, siapa wanita ini? " Tanya Bibi May.
Tapi itu semua tidaklah penting, sebab yang penting sekarang adalah Ruslan.
" Dia adalah temanku. "
" Tapi kenapa . . .
" Bibi bagaimana dengan Ayah- maksudku . . .
" Bagaimana kondisinya? Apa dia baik-baik saja. " Sela Ruksa.
Kedua mata wanita paruh baya itu mengerjap beberapa kali, kepalanya menoleh, dan memandangi Dania dan Ruksa secara bergantian, dia merasa linglung.
" Bibi May!! " pekik Ruksa.
Wanita paruh baya itu pun terkesiap, dia pun mulai menceritakan kronologis bagaimana Ruslan bisa berakhir di rumah sakit.
Sebenarnya, wanita paruh baya itu tak tahu jelas bagaimana kejadian detailnya seperti apa.
__ADS_1
Sebab, ia juga tahu karena Amar yang memberitahukannya.
Saat kejadian, dirinya baru saja pulang dari mengantarkan putranya bersekolah, lalu berbincang-bincang dengan salah satu tetangga yang berada di samping rumahnya.
Saat tengah asik berbincang-bincang, Amar yang merupakan seorang pemuda penjual Ikan sekaligus teman Ruslan, tiba-tiba berlari kearahnya dengan raut wajah yang terlihat sangat shock dengan darah di kedua tangannya.
Tentunya, Bibi May yang melihat hal tersebut berteriak histeris bersama tetangganya itu secara bersamaan. " Apa yang terjadi? Kenapa dengan tangan mu? " tanyanya.
" Ini bukan darah saya tapi darahnya si Ruslan. " ujar Amar
" Kamu apakan Ruslan!! "
" Bukan saya! " Sanggahnya. " ish Bibi May salah paham, ini memang darah Ruslan tapi bukan berarti saya yang melukai dia, saya dapatkan luka ini, sebab tadi saya berusaha menekan luka tusukan di tubuh Ruslan. "
" Oh bilang dong dari tadi, kamu bikin saya over thinking saja. Terus, Ruslan nya gimana? Sama yang nusuknya udah ketemu? "
" Dia baru saja di bawa ke rumah sakit, soal itu saya nggak tahu, soalnya saya kebetulan lewat, dan tahu-tahu nya dia sudah tergelak begitu saja, dengan darah yang sudah bersimbah. " terang Amar.
Setelah mendapat kabar itu, Bibi May pun bergegas menyusul ke rumah sakit. Tentunya ia menyuruh Amar untuk membersihkan darah itu terlebih dahulu, supaya orang lain tidak salah paham.
" Maaf, menganggu kalian. Apa di antara kalian ada yang memiliki golongan darah AB? Karena pasien saat ini membutuhkan banyak darah. " sela seorang dokter muda yang menangani Ruslan.
Secara spontan, Dania maupun Ruksa berjalan secara bersamaan, keduanya dengan kompak mengulurkan tangannya pada dokter muda itu, dan meminta sang dokter untuk mengambil darah mereka.
Tanpa membuang waktu, dokter itu pun langsung membawa keduanya untuk menjalani tes terlebih dahulu, untuk memastikan apakah darah mereka cocok dengan pasien.
Di tengah menunggu keputusan, Bibi May tiba-tiba undur diri karena harus menjemput putranya. Ruksa pun langsung membiarkan wanita itu pergi, seraya mengatakan bahwa dirinya bisa mengatasinya.
Tak lama setelah Bibi May pergi, dokter muda itu kembali dengan memberitahukan hasil tes darah mereka.
" Karena darah adek ini tidak cocok, maka yang akan di ambil darahnya adalah nona ini. " ujar sang dokter.
Seketika Dania maupun Ruksa tertegun secara bersamaan, keduanya saling bertukar pandang.
" Tunggu dok, kenapa darah saya tidak cocok? " tanya Ruksa.
" Dari hasil lab menunjukan bahwa golongan kalian berlainan, kecuali darah nona ini yang memiliki golongan darah O. " terangnya. " Kalau begitu nona, ayo kita bergegas. " tambahnya.
Dania yang masih terkejut hanya bisa mematung bak sebuah boneka kayu, hingga sebuah tepukan yang mendarat di bahunya menyadarkannya.
Ia pun menoleh dan mendapati Ruksa yang menatapnya dengan tatapan simpati.
__ADS_1
" Untuk kali ini, kita fokus saja menyelamatkan nyawanya, soal itu kita bahas nanti saja. "