
Setelah menyelesaikan pembelajarannya yang membosankan. Ruksa pun merenggangkan tubuhnya sejenak, lalu bergegas mengemasi barang-barangnya, menenteng tasnya untuk pergi ke rumah sakit untuk menemui Dania.
Tanpa di ketahui oleh dirinya, Darian terus mencari keberadaannya. Namun untuk beberapa alasan, Ruksa begitu sulit di temui.
Padahal Darian hanya bermaksud untuk menanyakan surat formulir pendaftaran anggota baru dari Ruksa yang seharusnya surat itu sudah berada di tangannya sekarang.
Bahkan setelah ia menunggu lama di depan kelasnya, tapi seakan tuhan tak mengijinkan, keduanya masih belum dipertemukan membuat pria itu frustasi di buatnya
" Kayaknya gue lupa sesuatu deh? " gumamnya seraya terdiam sejenak, memikirkan apa yang sudah dilupakannya. Namun di detik berikutnya kedua bahunya terangkat secara bersamaan, lalu melupakan apa yang sudah mengganggu pikirannya. Ia pun berjalan santai menuju terminal untuk pergi ke rumah sakit.
Setibanya di sana, Ruksa melihat Dania yang tengah tertidur begitu pulas.
Di pandangnya wajah letih itu, membuat Ruksa termenung sejenak seraya berpikir, mungkin dirinya terlalu berlebihan memberi tugas pada gadis itu.
Bagaimana pun juga Dania masihlah seorang remaja yang seharusnya menikmati masa mudanya dengan berkumpul bersama teman-temannya dan bukannya terjebak di dalam tubuhnya yang sudah tua.
Netranya kemudian beralih pada tubuh Aldan yang tengah terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang pasien.
Ia kemudian berjalan menghampiri Aldan, memandangi tubuh itu dari ujung kaki hingga kepalanya, tanpa sadar tangannya memijat pelipisnya yang mendadak terasa sakit.
Bagaimana bisa dua anak ini memiliki kehidupan yang sama-sama begitu tragis?
Apa salah mereka hingga dunia memperlakukan mereka dengan sekeji ini?
Dunia memang tak adil dan juga kejam. Terkadang, harta pun tak bisa membantu jika kita lemah dan juga bodoh.
Sama halnya dengan Aldan, meski dia dari keluarga Wisesa. Namun karena dia lemah, maka hanya kemalangan lah yang selalu menimpa dirinya.
Tak ingin mengganggu tidur keduanya, Ruksa pun memilih terduduk seraya memainkan ponselnya dalam diam, hingga beberapa jam kemudian gadis itu pun terbangun dari tidurnya.
Tanpa memberinya kesempatan untuk berbicara, Ruksa pun langsung meminta anak itu membelikannya makanan. Karena ia tahu bahwa gadis itu pasti belum mengisi perutnya sejak pagi.
Di tengah dirinya menikmati makan siangnya, tiba-tiba sebuah panggilan dari Ayah Dania masuk ke dalam ponselnya. Ia pun meminta izin pada Dania untuk mengangkat panggilan itu.
" Ada apa? " tanyanya tanpa basa basi.
__ADS_1
" Ayah punya tiket nonton, mau menonton? "
Otak Ruksa tiba-tiba berhenti berpikir. Tunggu dia bilang tiket nonton?
" Apa hanya kita berdua? " tanyanya dengan penuh kehati-hatian.
" Iya, bagaimana? Kita berangkat selepas ayah selesai bekerja kalau kamu mau?"
Tunggu? Apa ini kencan? Ruksa pun menjadi kegirangan seperti orang gila. Namun . . .
Plak!! Ia menampar wajahnya dengan keras, menyadarkan dirinya dari pemikiran yang tidak-tidak.
Sadarlah engkau wahai Ruksa, jauhkan pemikiran mu itu. Ingat yang di ajaknya itu putrinya dan bukan lo. Jadi jangan berpikir yang tidak-tidak. batin Ruksa.
Karena tak kunjung mendapat jawaban, Ruslan pun memandangi layar ponselnya yang masih terhubung dengan putrinya. " Dania, apa kamu baik-baik saja? Jika kamu tak. . .
" Gu- Aku mau, mau banget, kalau begitu sampai jumpa di rumah. " selanya lalu langsung menutup panggilan secara sepihak.
Sudah lama sejak dirinya menonton film bersama Ruslan, membuat degup jantungnya menjadi tak beraturan. Ia pun melirik jam pada ponselnya.
Di detik berikutnya ia membelalakkan matanya ketika melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 15:10 yang artinya ayah Dania akan segera pulang.
Dengan raut paniknya, ia buru-buru pulang ke rumah. Ia juga meminta pada Dania untuk memberinya ongkos untuk naik ojeg agar dirinya bisa secepatnya sampai ke rumah.
Untung saja, arus jalan saat itu sedang lancar.
Sesampainya di rumah, degup jantungnya tak bisa berhenti, entah karena dia buru-buru pulang ke rumah atau karena dirinya akan menghabiskan malam minggunya bersama ayah Dania?
Sebisa mungkin ia tak boleh bersikap gugup di depan Ruslan, dan mengingatkan pada dirinya sendiri bahwa ini bukanlah sebuah kencan seperti yang dipikirkannya melainkan ini sebuah acara untuk mengeratkan hubungan antara ayah dan putrinya.
Ia pun memutuskan untuk mengenakkan sweater berwarna mint yang di padukan dengan celana jeans biru langit dengan sepasang sepatu sneaker putih sebagai pelengkap penampilannya. Rambutnya sengaja ia ikat menyerupai ekor kuda.
Tok! Tok! Tok!
Pintu kamarnya tiba-tiba di ketuk yang kemudian di susul oleh suara Ruslan yang bertanya apa kah dirinya sudah siap atau belum?
__ADS_1
" Aku si. . . ap. " Seketika tubuh Ruksa membeku, melihat penampilan pria itu yang menurutnya sangat tampan dengan rambut gondrongnya, serta kumis tipis yang menghiasi wajah itu, yang memancarkan aura karisma yang begitu kuat.
Oh dan lihat! Pria itu mengenakan jaket pemberian dari Ruksa saat keduanya masih dekat.
Jadi, dia masih menyimpannya.
Seketika hati Ruksa terenyuh, rupanya pria itu masih menyimpan barang pemberiannya.
" Ada apa? Apa penampilan ayah ini terlalu tampan? "
Iya sangat tampan. Batin Ruksa.
'" Jangan narsis, ayo kita pergi sebelum filmnya di mulai. " Ujar Ruksa lali berjalan lebih dulu untuk menenangkan degup jantungnya.
Ruslan pun terkekeh, lalu berjalan mengikuti putrinya dari belakang.
Selama film itu tayang, Ruksa tak bisa fokus pada film tersebut. Sebab ia tak bisa mengalihkan perhatiannya pada wajah itu, wajah yang selalu dirindukannya sejak dulu.
Ruksa menjadi penasaran, kenapa pria itu tiba-tiba menghilang bagai di telan bumi? bahkan pria itu tak pernah mengundangnya ke acara pernikahannya. Apa mungkin dia takut membuatnya menjadi senti mental? Ataukah ada alasan lain di balik semuanya?
Sadar tengah di perhatikan Ruslan pun menoleh, " Ada apa? Apa filmnya tak menarik? " tanyanya.
" Iya karena wajah di depan ku ini lebih menarik. " ujarnya dalam hati. " Tidak, ini seru hanya saja mata ku terasa perih karena terlalu lama menatap layar. " dustanya.
" Kalau begitu. . .
" Tak apa, lagi pula filmnya sebentar lagi selesai. " selanya.
Ruslan pun tersenyum lalu kembali melanjutkan menonton. Begitu pula dengan Ruksa yang melanjutkan memandangi wajah itu dalam diam.
Meski tak ingin mengakui, namun ia sangat bersyukur bahwa jiwanya berada di tubuh Dania.
" Itu mata tolong yah di kondisikan. Ingat yah dia tuh ayah dari tubuh yu, jadi jangan menatapnya kayak gitu, nanti bisa di kira kalau yu itu inces yang suka sama bapak sendiri. "
Seketika tubuh Ruksa tertegun, setelah mendengar suara yang begitu familiar itu. Perlahan ia membalik tubuhnya ke samping.
__ADS_1
Dan benar saja, makhluk itu tengah terduduk di sampingnya seraya memakan popcorn seraya menikmati film.
Ini makhluk kenapa selalu datang di saat yang tidak di butuhkan sih? Batin Ruksa.