
" Siapa lo?! Keluar sekarang juga, akan ku bunuh lo. " teriak Nagira dengan amarah yang membuncah, ia gak terima melihat adiknya kesakitan seperti itu.
" Kakak, ini sakit sekali. " rengek Nagisa kembali.
Tanpa membuang waktu, Nagira pun merobek bajunya, kemudian melepaskan pisau yang masih menancap di telapak tangan sang adik lalu membuangnya secara sembarangan, ia kemudian membalut luka sang adik dengan kain yang ia robek dari bajunya. Setelah selesai, ia kembali berteriak.
" Gue hitung satu sampai tiga, jika lo nggak muncul, jangan salah gue kalau mereka mati di tangan gue. " ancamnya.
" Satu! "
Tak ada jawaban.
" Dua! "
Masih tak ada jawaban.
" Jangan sampai lo menyesalinya. Kalau mereka akan mati secara mengenaskan. " ancam Nagira kembali. " Ti . . .
Tiba-tiba, sosok Mikael pun muncul dari balik tembok dengan raut wajah datarnya.
Seketika, kedua bola mata Nagira dan Nagisa terbeliak secara bersama-sama. Keduanya tampak sangat terkejut melihat sosok Mikael yang ternyata seorang pengkhianat
Terlepas dari rasa terkejutnya, Nagira langsung berjalan menghampiri Mikael, tanpa basa basi, ia langsung meninju wajah itu beberapa kali hingga meninggalkan jejak memar di wajah mulus itu.
Meski di pukuli secara brutal, akan tetapi, pria itu tidak bergeming sedikit pun, wajahnya tetap tenang bagaikan air di permukaan danau. Tak peduli dengan rasa sakit yang terus menimpanya secara bertubi-tubi.
Di rasa puas, Nagira pun berhenti memukuli Mikael lalu meludah secara sembarangan.
__ADS_1
Seakan luka yang di terimanya bukanlah apa-apa, Mikael bangkit dari posisinya, seakan-akan tak terjadi apapun yang menimpanya, ia kemudian meludahkan darah dari dalam mulutnya.
" Kalian boleh pergi. " Kata Mikael sembari melemparkan sebuah kunci kepada Ruslan.
Nagira yang melihat hal itu, langsung naik pitam, lalu kembali mengangkat tinjunya, melayangkannya ke arah Mikael.
Namun, kali ini berbeda, Mikael tak lagi tinggal diam seperti sebelumnya, sebelum tinju itu mendarat di wajahnya, tangan kanannya terlebih dahulu menangkap tangan Nagira dan membuat salah satu alisnya berkedut.
Keduanya saling bertukar tatapan sengit, hingga tak lama kemudian, Mikael memelintir tangan Nagira, lalu membanting tubuhnya ke lantai dengan cukup keras hingga membuat gadis itu meringis kesakitan.
Akan tetapi, gadis itu kembali bangkit, kemudian menyerang kembali Mikael, kali ini ia menggunakan pisau yang ia pungut sebelumnya.
Meski begitu, Mikael bukanlah tandingannya, meski Nagira sudah mengayunkannya dengan benar, namun tak ada satupun serangannya yang mengenai musuhnya, yang ada dirinya tampak seperti orang yang hilang kendali.
Pada akhirnya Mikael merebut paksa pisau itu, menarik tubuh gadis itu, lalu membantingnya dengan cukup keras hingga membuatnya langsung tak sadarkan diri.
" Maju satu langkah, atau akan ku kirim kakak mu ke Neraka. "
Nagisa pun terdiam dengan kedua mata yang melotot.
Di sisi lain, Ruksa yang melihat kedua gadis itu yang menderita, ia tersenyum cukup puas, . Meski di dalam hatinya ia sangat ingin memukul wajah itu dengan kedua tangannya.
" Kalian cepatlah pergi, sebelum tempat ini hancur. "
" Kalau begitu, ayo, Ikutlah dengan kami, lo tenang aja, gue bakal meminta polisi buat pengecualian khusus buat lo. " ujar Ruksa.
" Terima kasih, tapi maaf, aku tak bisa, karena orang yang sudah mati tak bisa hidup kembali. "
__ADS_1
" Tapi kan lo. . "
" Lebih baik, kalian segera pergi, sebelum tempat ini meledak. " ulangnya kembali, menyela serta memotong perkataan dari Rukaa.
" Tapi.
" Anak muda, apa kamu tahu dimana Bagaskara? " sela Ruslan.
Mikael tersenyum, lalu mengatakan bahwa dirinya tak tahu dengan jelas, namun ia sebelumnya mendengar bahwa pria itu akan menghadiri sebuah rapat, selebihnya ia tak tahu termasuk, tempat rapat yang di maksud.
" Kalau begitu terima kasih. " ucap Ruslan
Mikael pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Ketiganya kemudian bergegas pergi meninggalkan tempat itu meninggalkan pria itu bersama dengan Nagira dan Nagira.
Setelah mereka keluar dari tempat itu beberapa menit. tiba-tiba.
Boom!!
Bom!!
Bomm!!!
Seketika semua tempat itu hancur tak bersisa.
Zaiden yang belum sempat menyimpan bukti, hanya bisa terdiam membeku, melihat semua bukti yang susah payah ia cari, hancur tak bersisa, pada akhirnya ia tak bisa membawa Clara sebagai dalang dari kasus yang di tanganinya ke pengadilan untuk di adili
__ADS_1