Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
103


__ADS_3

Sejak Arga bertemu dengan ibunya, dan membiayai semua keperluan sang ibu, membuatnya tak bisa konsentrasi pada pembelajarannya, ia lebih banyak melamun memikirkan cara mendapatkan uang dari pada menyimak pelajaran yang ada di depannya. Pada akhirnya semua nilainya menjadi turun drastis.


Chandra yang mengetahui hal itu, langsung menariknya ke ruang bawah tanah dan memukuli tubuhnya hingga membuat memar di beberapa bagian tubuhnya.


Setelah penyiksaan itu, Arga kembali ke dalam kamarnya, ia terdiam menatap pemandangan dari balik kaca jendela kamarnya, cahaya indah sang rembulan menyelusup masuk ke dalam kamarnya.


Tubuhnya meringkuk kesakitan, namun perlahan ia tertidur begitu saja. Ia begitu lelah hingga mengabaikan luka di tubuhnya.


Esok paginya, dengan kondisi tubuh yang masih terasa sakit. Arga pergi sekolah dengan menggunakan kendaraan umum yang kemudian di akhiri dengan berjalan kaki lima belas menit untuk sampai ke sekolahnya, namun tiba-tiba ia di hadang oleh ibunya yang meminta uang padanya.


" Maaf, aku tak punya uang. " timpal Aldan dengan nada malas.


" Jangan bohong. "


Arga memutar bola matanya dengan malas, mengabaikan wanita di depannya dengan melewatinya begitu saja.


" Arga, kamu harus membantu ibu. "


Langkah kaki Arga tiba-tiba berhenti, kedua matanya menatap wanita itu, ia mendengus, ibu katanya? Dia bahkan tak peduli dengan kondisi tubuh anaknya sendiri, yang di pedulikannya hanyalah uang dan uang.


Selama ini, Arga terlalu bodoh karena menuruti semua permintaan wanita itu.

__ADS_1


" Arga, apa kamu sudah tak menyayangi ibumu? "


" Biar ku tanya, apa kamu pernah menyayangiku? " Arga bertanya balik.


" Tentu saja, jika bukan karena Ayah mu . . .


" Jangan gunakan Ayah sebagai alasan, katakan yang sejujurnya, apa kamu mendekatiku hanya karena uang kan? Bukan karena kamu merindukan ku, di kepala mu hanya ada UANG! UANG! DAN UANG! Aku sudah muak, kamu bahkan tak pernah memikirkan perasaan ku sedikit pun. " Arga yang berhasil meluapkan amarahnya pada ibunya, memilih meneruskan perjalanannya menuju sekolah.


Selama kelas berlangsung, Arga terdiam melamun. Memikirkan perkataannya yang di lontarkan pada ibunya. Menyadari bahwa perkataannya terlalu berlebihan.


Setelah kelas berakhir, ia bergegas mencari keberadaan ibunya, namun. Wanita itu hilang bagaikan di telan bumi.


Mungkinkah Ayahnya telah menyadarinya?


Perasaannya semakin kuat, bahwa Ayahnya lah yang menyembunyikannya. Namun, ponselnya tiba-tiba berdering.


" Halo. "


" Kamu pasti sangat menyayangi ibu mu. " terdengar suara halus seorang gadis, dari sebrang sana.


" Siapa kamu? Dimana ibu ku sekarang! "

__ADS_1


" Jangan khawatir, Dia baik-baik saja. Jika ingin menemuinya, aku bisa mengirimkan mu sebuah alamat. " panggilan itu berakhir begitu saja.


Arga terdiam sejenak, ia merasa bahwa suara itu sangat familiar di telinganya. Ia mencoba memanggil nomor itu sekali lagi, tapi sayangnya no itu sudah tak bisa di hubungi lagi, ia berdecak kesal. Tangannya mengacak rambutnya frustasi.


Ia kembali berusaha mengingat suara itu, hingga terbesit sosok gadis yang ditemuinya beberapa hari itu.


" Mungkinkah gadis itu? " terkanya.


Ponselnya kembali berdering, tapi kali ini bukan dari nomor yang sebelumnya, melainkan dari Ayahnya.


Seketika tubuh Arga gemetar, ia bisa menebak bagaimana ekspresi wajah Ayahnya, dia pasti sedang mengerutkan kedua alisnya.


" Apa yang harus aku lakukan? " gumamnya sembari menatap layar ponselnya hingga panggilan itu berakhir, namun tak lama kemudian ponselnya kembali menyala membuatnya semakin frustasi.


Pada akhirnya, Arga memilih untuk tidak pulang karena takut di marahi oleh Ayahnya.


Beberapa hari kemudian, Ayahnya berhasil menemukannya dan memarahinya habis-habisan, tapi Arga sudah terbiasa dan tak memasukkan ke dalam hati, namun ada hal aneh, kenapa Ayahnya tak menanyakan barang-barang yang sudah di jualnya?


Setibanya di dalam kamar, tubuhnya tertegun melihat barang-barang yang telah di jualnya, berada di tempat yang seharusnya. Sekarang ia mengerti kenapa Ayahnya bersikap seperti itu?


Tak lama kemudian, ponselnya berdering, menunjukan sebuah nomor yang tidak di kenal. Tanpa ragu, Arga mengangkat panggilan itu.

__ADS_1


" Sekarang, kamu berhutang banyak padaku, jadi. . . Apa kamu menerima tawaran ku? "


__ADS_2