Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
88


__ADS_3

Setelah mendengar pembicaraan kelompok pria berjas hitam itu, Ruslan pun langsung bergegas pulang.


Setibanya di rumah, ia di sibukkan dengan mempersiapkan peralatan mendaki gunung untuk mencari keberadaan putrinya dan juga Ruksa, meski dirinya harus menjaga jarak dengan wanita itu, namun hatinya tidak bisa berbohong, dia sebenarnya masih bisa mengkhawatirkan wanita itu. Di dalam hati, dirinya terus berdo'a dan berharap bahwa kedua wanita itu masih dalam keadaan selamat.


Di dalam tasnya ia membawa beberapa makanan ringan berupa roti, bubur instan dan juga kotak P3K untuk berjaga-jaga. Di rasa, tak ada yang tertinggal, ia kemudian langsung mengunci rumah lalu bergegas menuju kendaraan motornya.


" Loh, Rus, mau kemana? Muncak kok sore? Nggak takut di gondol setan? " Tanya Amar yang baru tiba dengan membawa dua plastik berukuran sedang berisikan makanan.


Akan tetapi, bukannya menjawab, Ruslan malah melewati Amar begitu saja.


Melihat sikap Ruslan yang menganggapnya seperti hantu, Amar pun menarik pergelangan tangan pria itu yang hendak menghidupkan mesin motor. " Ada apa? Kalau ada masalah, aku bisa bantu. " ucapnya.


Tubuh Ruslan sedikit tersentak, ia terkejut akan keberadaan Amar di sampingnya.


" Ada apa? Apa ada sesuatu? " Tanya Amar kembali yang menyadari sesuatu


" Anak ku hilang, dan aku harus segera menemukannya secepat mungkin. " timpal Ruslan, tanpa ada niat menutupi.

__ADS_1


" Kalau gitu, aku ikut. " ujar Amar dengan nada serius


Ruslan pun terdiam sejenak, lalu di detik berikutnya ia menggelengkan kepalanya, berkata bahwa dirinya bisa menanganinya sendiri dan tak ingin merepotkan siapa pun.


Akan tetapi, Amar yang memiliki sifat keras kepala, langsung menaiki jok belakang sepeda motor milik Ruslan begitu saja.


" Kamu yakin mau ikut? " tanya Ruslan memastikan.


" Yakin lah, memangnya kenapa? Lagian kalau cuman naik gunung mah sih gampang, saya di kampung juga sering naik gunung dan mandi di sungai jadi kamu nggak perlu khawatir. " terang Amar dengan bangga.


Mendengar, jawaban itu, Ruslan hanya memutar kedua bolanya dengan malas, ia kemudian berbalik dan menatap pria itu. " Maksud saya bukan itu, memangnya kamu yakin mau naik gunung dengan pakaian seperti itu? "


Merasa malu, ia pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu meminta Ruslan untuk mengantarnya pulang untuk mengganti pakaiannya.


Namun Ruslan enggan mengantarnya, pasalnya, hari sebentar lagi akan gelap, dan dirinya tak mau membuat putrinya menunggu ketakutan di dalam hutan, dan juga perasaanya semakin tak enak, ketika mengingat perkataan mereka yang mengatakan bahwa salah satu antara Dania dan Ruksa ada yang terluka.


Dirinya takut, jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Putrinya dan Ruksa.

__ADS_1


Akan tetapi, dirinya kembali terdiam sembari berpikir, mungkin tak ada salahnya mengajak Amar untuk membantunya.


Pada akhirnya mereka pun pergi setelah Amar mengganti semua pakaiannya dengan milik Ruslan termasuk alas kakinya, beruntung ukuran badan mereka tak jauh beda, jadi Amar bisa menggunakan pakaian milik Ruslan.


Setibanya di kaki gunung, Ruslan pun memarkirkan dan menitipkan sepeda motornya pada salah satu rumah warga di sana.


" Loh, kalian nggak salah naik gunung jam segini? " Tanya seorang wanita yang merupakan pemilik dari rumah tersebut, kepalanya mendongkak ke atas melihat langit yang perlahan menggelap.


" Sebenarnya, saya ingin mencari putri saya yang hilang di gunung ini. Sudah sejak pagi, dia belum pulang juga, begitu pula dengan temannya .


Mendengar penjelasan dari Ruslan, wanita itu langsung membekap mulutnya, ia kemudian memanggil suaminya untuk meminta bantuan warga.


Ruslan yang merasa tak enak pun, menolak tawaran tersebut.


Akan tetapi, semuanya terlanjur ketika seorang pria yang merupakan suami tersebut datang, dan ternyata pria dari wanita itu ternyata merupakan seorang ketua RT sempat.


Dia menyarankan, untuk mencari pada malam hari, selain karena jalannya cukup terjal, di dalam hutan itu juga terdapat hewan buas, jadi ada baiknya menunggu hingga pagi.

__ADS_1


Mendengar penuturan pria itu, Ruslan justru semakin cemas, ia semakin takut jika terjadi sesuatu pada putrinya, maka dari itu ia menolak saran itu dan memutuskan untuk pergi menemukan putrinya sesegera mungkin.


__ADS_2