
Di hari yang sakral dan membahagiakan ini, sudah sepantasnya semua orang yang ikut hadir juga harus merasakannya.
Tapi nyatanya semua itu tak berlaku untuk, Mikael dan juga Aldan.
Bagi mereka, ini adalah hari terburuk mereka. Padahal keduanya baru saja saling mengenal, namun benih-benih persaingan sudah muncul di antara mereka.
Karena tak ada yang mau mengalah, pada akhirnya Mikael,Ruksa, Aldan dan juga Dania tengah berada di satu meja yang sama, mereka menikmati kudapan yang di buat langsung oleh seorang master chef berbintang lima.
Beruntung, Karena Daniel yang harus menghadapi beberapa rekan bisnis pentingnya, membuat Dania menjadi leluasa untuk membuatnya bergabung dengan Aldan, Mikael dan juga Ruksa.
Ia sudah membayangkan bagaimana jika pria itu tak sesibuk sekarang, pastinya pria itu akan menempelinya kemana pun ia pergi.
Meski seperti mimpi, tapi Dania sangat menikmati Drama yang tengah terjadi di depan kedua matanya, sesekali dirinya terkekeh melihat interaksi Aldan dan juga Mikael yang berusaha mengambil hati Ruksa dengan berlomba-lomba siapa yang paling cepat membawa kudapan untuk mereka santap selanjutnya.
Ruksa yang merasa ditertawakan, langsung mendelik tajam pada Dania, membuat gadis itu harus membuang muka, lalu berpura-pura bahwa dirinya tak melihat apapun.
Awalnya, suasana meja mereka terkesan hidup dan juga ramai. Hingga kemudian, Bismo dan Adiknya Queensha datang dan merusak suasana di sana.
" Bukankah seharusnya orang dewasa berkumpul lagi dengan sesama orang dewasa? " tanyanya. " Tak alasan bagi kita untuk bergaul dengan mereka yang masih kecil" tambahnya.
" Memangnya kenapa? Apa salahnya berkumpul dengan anak kecil? Lagi pula Kak Ruksa sendiri tak keberatan menemani kami yang masih anak kecil ini. Benar kan Kak Ruksa? " timpal Ruksa dengan nada meremehkan lalu mengalihkan tatapannya pada Dania.
Di dalam hati, Ruksa sangat ingin mencabik-cabik pria itu sekarang hingga hancur berkeping-keping, dirinya masih belum melupakan kejadian malam itu, malam yang membuat jiwanya berakhir di tubuh Dania.
" Heh lo, jaga ya itu mulut. Nggak sopan banget sih sama abang gue. " ujar Queensha dengan kesal.
" Tapi bukankah dia yang mulai lebih dulu yang bersikap tidak sopan? " timpal Ruksa yang tak mau kalah
" Lo tuh . .
__ADS_1
Tiba-tiba Bismo mengangkat tangannya di udara, menyela perkataan Adiknya, lalu berkata bahwa dirinya baik-baik saja dan merasa tak tersinggung sama sekali.
Queensha yang tak bisa melampiaskan amarahnya hanya bisa menghentakkan kedua kakinya. Tatapannya kemudian jatuh pada wanita yang terduduk di sampingnya.
" Ah, kakak pasti Kak Ruksa kan? Wah kakak ternyata lebih cantik dari yang di photo, pantas saja Abang ku sering memuja kakak, oh iya perkenalkan aku Queensha adiknya Bang Bismo. " ujar Queensha seraya mengulurkan tangan dengan senyuman di wajahnya.
Namun, Dania terdiam, kepalanya menunduk, dengan kedua tangan yang mengepal di bawah meja.
Padahal sebelumnya, Dania merasa bahwa dirinya sudah merasa menjadi kuat dengan sosoknya kali ini, tapi ternyata dirinya salah besar. Entah kenapa seluruh tubuhnya tiba-tiba menjadi panas dingin? setiap kali dirinya mendengar suara perempuan itu. Jika bukan karena kecelakaan itu, mungkin dirinya sudah memutuskan untuk bunuh diri.
Ruksa yang menyadari akan perubahan dari raut wajah Dania, langsung bangkit dari posisi duduknya, berjalan menghampiri lalu menarik tangan gadis itu dan membawanya pergi tanpa menghiraukan seruan yang terus memanggil mereka kedua.
Dania yang tangannya tiba-tiba tertarik begitu saja, terlonjak kaget, namun dengan patuh ia berjalan mengikuti kemana pun Ruksa membawanya pergi
Setelah berjalan cukup lama, keduanya telah sampai di sebuah danau yang membentang luas, tempat itu terletak di belakang gereja
Dania pun menolehkan kepalanya, menatap wanita di sampingnya lalu menganggukkan kepalanya pelan. " Terima kasih dan juga maaf karena . . .
" Lupakan, dan juga jangan bersikap formal padaku, anggap saja kalau aku ini adalah adik kelas mu, karena ada banyak ratusan pasang mata yang mengarah pada kita. " ungkap Ruksa sedikit berbisik. " Dan juga jangan menolehkan kepala mu. " tambahnya.
Tanpa sadar, Dania meneguk salivanya dengan kasar, ia tahu betul apa yang di maksud oleh Ruksa, kedua tangannya kembali sedikit gemetar.
Di sisi lain, Ruksa yang sejak tadi menyadari keberadaan mereka hanya terdiam santai, hingga seorang pelayan pria mendatangi mereka dengan sebuah nampan di tangannya.
" Apa kalian haus? " tawar pria itu
" Tidak, kami sama sekali tidak haus. " timpal Ruksa.
" Sayang sekali, tapi kami sedang haus darah. " Pria itu pun menjatuhkan nampan di tangannya, lalu menyerang Dania dengan sebuah pisau kecil di tangannya. Namun dengan sigap Ruksa menghadangnya dengan memelintir tangan pria itu hingga patah dan membuat pria itu berteriak kesakitan.
__ADS_1
Dor! Dor! Dor!
Tiba-tiba puluhan peluru mulai menghujani mereka, beruntung, tak jauh dari tempat mereka berdiri, ada sebuah tembok kecil setinggi pria dewasa, yang kegunaannya sendiri tidak tahu.
Dengan cepat, Ruksa pun menarik Dania untuk bersembunyi di tembok itu, ia kemudian menyingkap roknya yang memperlihatkan senjata api yang sengaja ia bawa untuk keadaan tak terduga seperti ini.
Tanpa ragu, ia mulai menembaki musuhnya dengan senjata api di tangannya.
Baku tembak pun menjadi tak terelakkan, namun karena kalah jumlah, Ruksa pun menjadi kewalahan menghadapi mereka, terlebih lagi dirinya sudah kehabisan peluru.
Ia sangat yakin, bahwa target mereka kali ini adalah dirinya.
' Sialan gue kehabisan peluru lagi. ' batin Ruksa. Kepalanya menoleh dan menatap Dania di sampingnya yang masih terdiam, tangannya mencoba meraih tangan gadis itu dan memberinya kata-kata penenang.
Namun, tiba-tiba. Dania menyingkap gaunnya dan memperlihatkan setidaknya ada beberapa isi ulang peluru, kepalanya menoleh pada Ruksa " Kakak mau? " ucapnya dengan polos
Ruksa yang tak pernah mengira bahwa gadis itu akan menyembunyikan isi ulang peluru hanya bisa mengerjapkan kedua matanya.
" Waw, gue nggak pernah berpikir kalau lo cukup berani untuk membawa benda itu kemana-mana. " ujar Ruksa. " Kalau begini, lo tinggal duduk manis, dan biar gue yang membereskannya. " tambahnya seraya memasukkan isi peluru itu.
Dor! Dor! Dor!
Tubuh Ruksa kembali tertegun mendengar suara tembakan yang berasal dari arahnya, kepalanya menoleh dan mendapati Dania tengah memegangi senjata api di tangannya yang sesekali menembaki para musuh
" Lo kenapa nggak bilang dari awal, kalau lo jago nembak orang?! " tanya Ruksa yang tak terima karena telah melewatkan sesuatu yang berharga
" Ceritanya panjang, akan aku ceritakan nanti. " timpal Dania yang sesekali menembaki musuh dengan santainya.
Di samping Dania, Ruksa masih terdiam, ia masih begitu terkejut dengan perubahan Dania yang ternyata sudah berubah drastis.
__ADS_1