
" Habis dari mana? Kenapa baru balik. " Tanya Veda
Tubuh Ruksa sedikit tersentak ketika mendapati Veda yang tengah berdiri di depan pintu kamar tidur mereka.
Sebelumnya, karena Ruksa adalah penghuni baru dan belum memiliki kamar, maka Lingga pun meminta Veda untuk menyisakan sedikit tempat di dalam kamarnya untuk meletakkan ranjang tambahan.
Veda yang merasa senang mendapat teman baru, tentunya langsung menerima Ruksa dengan senang hati. Ia bahkan menyiapkan ranjangnya dengan kedua tangannya sendiri.
" Oh, tadi habis ke sasar. " jawab Ruksa dengan santainya, ia berjalan lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya yang baru, tubuhnya terasa lelah dan ingin segera pergi tidur.
Ia mengutarakan kekesalannya pada tempat itu, tak hanya ukurannya yang besar, tempat itu juga terlalu membingungkan, membuatnya beberapa kali salah, beruntung ia bertemu dengan Mikael. Jika tidak? Mungkin dirinya akan berputar di satu tempat hingga pagi.
Veda yang mendengar hal tersebut, spontan tergelak, ia tertawa terbahak-bahak sembari memegangi perutnya yang terasa sakit ia memahami perasaan itu, baginya hal yang di alami oleh Ruksa tidaklah seberapa dengan dirinya yang pernah menyasar hingga masuk kedalam hutan dan membuatnya bermalam di dalam hutan seorang diri selama berhari-hari, beruntung Ibu menemukannya, jika tidak? Mungkin sekarang, dirinya hanya tertinggal nama saja.
" Jangan khawatir, nanti juga kamu akan terbiasa kok. " kata Veda yang sudah berhenti tertawa. " Oh iya, soal Lingga dan Mikael, kamu tak perlu ambil pusing ok? Mereka berdua memang seperti itu sejak dulu, kamu tahu? Padahal ulunya mereka berteman baik, hanya saja ketika Roland pergi, hubungan mereka menjadi kacau. "
" Memang nya siapa itu Roland? " tanya Ruksa yang merasa penasaran dengan hubungan mereka.
" Roland adalah teman sekaligus adik dari Lingga, meski mereka adalah kakak beradik, tapi Roland lebih dekat dengan Mikael. Dia bahkan rela belajar mati-matian agar bisa satu kelas dengan El, tapi, meski pun begitu, Roland tak pernah memperlihatkan kekagumannya pada Mikael. "
" Kenapa bisa seperti itu? "
" Tentu saja karena malu, dia bahkan berpura-pura membenci dan bersikap buruk terhadap Mikael, hanya agar pria itu mau memperhatikannya, tapi sayang seribu sayang, hanya karena sebuah kesalahan kecil, membuatnya terpaksa harus pergi. "
" Kemana? "
Seketika, Veda terdiam, raut wajahnya berubah menjadi pucat, karena terlalu asyik berbicara membuatnya tanpa sadar telah membual terlalu banyak.
__ADS_1
Seakan mengerti, Ruksa pun memilih mengalihkan topik pembicaraan, lagi pula dirinya sudah tahu bahwa Roland sudah pergi ke nirwana
" Bolehkah aku bertanya? "
" Apa Itu? " tanya balik Veda
" Apa kamu akan menghabiskan sisa umurmu di tempat ini? " Tanya Ruksa tiba-tiba membuat gadis di depannya terkesiap sejenak.
" Bagaimana dengan mu? "
" Ku pikir, tidak, bagiku tempat ini tak lebih dari sebuah penjara. " Ungkap Ruksa apa adanya. "
Veda kemudian tersenyum, menganggukkan-anggukkan kepalanya mengerti, di beberapa menit kemudian ia terkekeh kembali. Membuat Ruksa penasaran.
" Kenapa? "
Ruksa terdiam berpikir sejenak.
" Sejak awal aku ke tempat ini, sebenarnya aku penasaran, kenapa kalian sangat terobsesi dengan sosok ibu yang selalu kalian bicarakan. ?
" Apa aku lupa memberitahumu? Kita semua yang berada di tempat ini termasuk kamu, adalah anak-anak yang paling tidak diinginkan oleh keluarganya. " kata Veda
" Aku. " ucap Ruksa sembari menunjuk pada dirinya sendiri.
" Iya, apa aku salah? Bukankah kamu pergi ke tempat ini karena orang tua mu selalu menyiksa dirimu? " tanya Veda yang sedikit kebingungan.
Ruksa yang menyadari kesalahan dirinya sendiri langsung mengutuk dirinya, ia lupa bahwa dirinya sedang menyamar.
__ADS_1
Tunggu? Bagaimana jika mereka tahu bahwa dirinya bukanlah orang yang mereka nantikan? Sepertinya ia harus mempercepat rencananya.
" Iya begitulah, oh iya aku capek banget nih, aku tidur duluan yah. " Ujar Ruksa yang kemudian mengakhiri percakapan mereka.
Kedua mata Veda menyipit, ia menatap Dania dengan raut wajah ragunya, tapi karena malam sudah larut, Ia pun mengesampingkan rasa penasarannya lalu memilih untuk ikut pergi tidur.
.
.
.
Di saat semua orang tengah terlelap, Ruksa terbangun, ia berjalan mengendap-endap menuju gudang penyimpanan, beruntung, ia memiliki ingatan yang begitu bagus dan membuat rencananya berjalan dengan mulus.
Tapi sepertinya dirinya terlalu sombong dan percaya diri, karena dirinya tak memperhitungkan Clara, sebenarnya ia tak pernah menyangka bahwa wanita itu tengah berada di dalam sana.
Beruntung, dirinya masih sempat bersembunyi.
Dari balik sebuah gucci berukuran besar, tempatnya bersembunyi, Ruksa melihat wanita itu tengah membuat sebuah kesepakatan dengan Ayahnya.
Terdengar, jika wanita itu menginginkan semua saham milik Ayahnya, jika menolak maka Dania atau lebih tepatnya tubuhnya akan menjadi taruhannya
Jadi dugaannya benar, bahwa ledakan itu sebenarnya memang sudah rencanakan dengan matang, agar balas dendamnya tercapai.
Ruksa kemudian, mengingat, bahwa Clara adalah anak dari ketua salah satu anak cabang perusahaan Ayahnya. Jika tak salah ingat, Ayah Laura atau lebih di kenal dengan Marlin Lauren tengah berencana memberontak dan memperebutkan posisi Ayah Ruksa
Beruntung, sebelum hal mengerikan itu terjadi, Bagaskara yang sudah menyadari hal tersebut, langsung mengambil tindakan dengan membantai semua anggota keluarga Marlin, tapi siapa sangka, mereka melupakan akar dari semua itu, lebih tepatnya adalah putri Marlin Lauren yaitu Clara Laurent.
__ADS_1