Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
85


__ADS_3

Mengesampingkan rasa terkejutnya, Ruksa pun dengan cepat mengambil dan menganti amunisinya dengan yang baru, lalu kembali menembaki para musuh.


Walau dirinya kesulitan melihat target, namun tembakannya berhasil mengenai beberapa kepala musuh dan berhasil mengurangi jumlah mereka.


Namun anehnya, meski dirinya dan juga Dania telah berhasil menjatuhkan musuh dengan jumlah yang cukup banyak, kendati begitu, jumlah mereka terasa tidak pernah berkurang satu pun, sebab jumlah tembakan yang mengarah padanya tidak berkurang sedikit pun.


" Gila, mereka kok nggak ada habis-habisnya sih. Gigih banget mau bunuh gue! " Ujar Ruksa dengan nada kesalnya, ia pun kembali menembaki musuh mereka tanpa henti, hingga membuat peluru miliknya kembali habis.


Ia pun berdecak kesal lalu mengulurkan tangannya pada Dania, meminta gadis itu untuk memberikannya amunisi yang baru.


Akan tetapi, gadis itu tak kunjung memberinya amunisi baru, Ruksa yang merasa aneh pun menolehkan kepalanya.


Tubuhnya tertegun ketika mendapati raut panik dari wajah gadis itu. Membuatnya berdecak kembali dan menyadari bahwa amunisi mereka sudah habis dan mereka terjebak dengan posisi yang tidak menguntungkan.


Entah sudah ke berapa kali Ruksa berdecak, ia mempertanyakan dimana para bawahannya, termasuk Ismail dan juga Ayahnya


Apa mereka semua sudah mati?


" Woi! Malaikat maut! lo nggak bakalan biarin kita mati kayak gini kan?! " Teriak Ruksa dengan lantang.


Namun suaranya teredam dengan suara peluru yang terus menembak ke arahnya.


Ruksa pun mendengus dengan kasar, Apakah mereka akan mati dengan jiwa yang masih tertukar?!


Aish, kenapa di saat genting seperti ini, makhluk itu tak muncul juga? Dasar makhluk tak berguna!


Boom!!!


Tiba-tiba terdengar sebuah ledakan dari balik tembok tempat Ruksa dan Dania bersembunyi membuat rentetan tembakan pun langsung terhenti seketika.


Boom!!!!


Suara ledakan Bom pun kembali terdengar.

__ADS_1


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Ruksa pun langsung menarik tangan Dania dan membawanya pergi ke tempat yang lebih aman.


Karena area Gereja sudah tak aman lagi, Ruksa pun memutuskan menarik gadis itu masuk ke dalam hutan yang berada di pinggir samping Danau Gereja


Keduanya terus berjalan masuk ke dalam hutan, di belakang, terdapat beberapa musuh yang masih mengincar nyawa Ruksa, mereka berjalan dengan senjata di setiap orang.


Di beberapa kesempatan, para musuh menembakan beberapa peluru kearah Dania dan Ruksa. Dan peluru itu berhasil mengenai kaki kanan Dania, membuat tubuh gadis itu jatuh tersungkur.


Ruksa yang menyadari hal itu, menghentikan langkahnya lalu berjalan kembali untuk menolong gadis itu. " Lo masih bisa bangun? " tanyanya.


Gadis itu menggelengkan kepalanya, dari sudut matanya, terlihat air mata mengalir membasahi kedua pipinya, ia berkata pada Ruksa untuk meninggalkannya karena dirinya sudah tak sanggup dan tak ingin membebani Ruksa untuk lebih lama lagi.


" Enak aja, yang lo pake ini tuh tubuh gue, kalau lo mati, otomatis gue yang akan mati. " timpal Ruksa dengan nada tak terimanya.


" Benarkah? Maaf, aku nggak tahu. Tapi aku sungguh sudah tak sanggup lagi. "


Ruksa pun berdecak, tanpa membuang waktu, ia pun menarik tangan gadis itu dan membawa tubuh gadis itu ke punggungnya untuk melanjutkan pelariannya, ia bahkan melepas heels yang sejak tadi melekat di kakinya.


Terdapat aliran sungai yang cukup deras di bawah tebing tersebut.


Dengan nafas yang masih tersengal-sengal, Ruksa mencoba berpikir sejenak, akan tetapi keadaan tak mengijinkannya untuk berpikir, sebab, ia bisa mendengar suara langkah kaki dari musuh yang tak jauh dari tempatnya berdiri, artinya bahwa jarak mereka sudah semakin dekat.


Dan benar saja, tak lama kemudian, para musuh pun keluar dari bali semak-semak dengan menodongkan senjata ke arah Ruksa dan Dania.


Ruksa yang sudah tersudut dan tak punya pilihan lain lagi, memilih untuk melompat dari atas tebing.


Para musuh yang melihat aksi nekatnya langsung terbeliak, mereka tak pernah menduga bahwa target mereka akan melakukan hal senekat itu, terlebih lagi, tebing itu cukup tinggi.


Meski begitu, salah satu dari mereka tak melepaskan pandangannya dari permukaan air sungai itu, setelah cukup lama menunggu dan tak ada tanda apapun, orang itu pun memutuskan untuk pergi, dia menyakini bahwa target mereka sudah mati.


Tapi nyatanya, seakan Dewa kematian belum mengijinkan Ruksa dan Dania untuk mati, keduanya menyembulkan kepalanya lalu berenang ke tepian dengan selamat.


Setelah berhasil mengeluarkan peluru dari kaki Dania dengan sebuah pisau, Ruksa pun menyobek kain bagian rok midi dressnya untuk di gunakan untuk menutupi luka di kaki Dania. Ia pun kembali mengendong tubuh gadis itu dan membawanya kembali menyusuri hutan dengan tenang, sebab tak ada tanda-tanda musuh yang mengikuti mereka.

__ADS_1


Setelah berjalan cukup jauh, Ruksa yang sudah lelah menggendong tubuh Dania di punggungnya, memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak.


Di rasa telah pulih, ia pun kembali melanjutkan perjalanan, berharap bahwa dirinya bisa menemukan jalan keluar.


Tapi, sepertinya Dewa langit tak memberinya jalan mudah, sebab, meski hari sudah mulai gelap, namun mereka belum menemukan jalan keluar.


Di dalam hati, Ruksa mulai cemas, selain takut akan binatang buas pada malam hari, ia juga khawatir dengan kondisi Dania yang semakin memburuk dengan suhu tubuh panas yang semakin meninggi


Apakah mereka sungguh akan mati seperti ini? Pikir Ruksa


Di saay, Ruksa yang mulai pasrah, ia pun melihat sebuah rumah kosong.


Tanpa berpikir panjang, ia pun memutuskan untuk tinggal di rumah itu sementara waktu.


Walau rumah itu sudah di tinggalkan cukup lama, tapi Ruksa masih merasa bersyukur, sebab ia masih bisa menemukan kayu bakar lengkap dengan pemantik api. Dan juga ia menemukan sebuah selimut yang masih terbungkus rapih dengan plastik, dan selimut itu masih dalam kondisi baik-baik saja.


Setelah membersihkan beberapa sudut dari tempat itu, Ruksa pun meletakkan tubuh Dania yang sudah terkapar lemas tak sadarkan diri dengan suhu tubuh yang semakin meninggi.


Ruksa pun semakin cemas dibuatnya, terlebih lagi kondisi di luar sudah gelap, ia pun hanya bisa menggunakan alat seadanya untuk menurunkan demam pada tubuh Dania.


Esok paginya, Ia kembali mengecek tubuh gadis itu.


Di detik berikutnya, ia menghela nafas lega, meski suhu tubuh Dania masih tinggi, tapi setidaknya suhu tubuhnya tidak sepanas semalam. Ia kemudian beranjak, lalu mencari makanan ke dalam hutan dan juga ke sungai.


Di saat seperti ini, Ruksa merasa beruntung, karena dirinya pernah menjalani latihan bertahan hidup di hutan saat berada duduk di bangku SMP, kini latihan itu tak sia-sia, sebab ia bisa menggunakannya di waktu sekarang.


Tak terasa tiga hari pun berlalu dengan sangat cepat, dan Dania pun akhirnya tersadar dan kondisi tubuhnya perlahan membaik dari sebelumnya.


Saat tersadar, gadis itu terus meminta maaf pada Ruksa karena sudah menyulitkannya.


Ruksa yang merasa telinganya sakit, langsung menutup mulut gadis itu dan memintanya untuk menutup mulut jika tidak? Dirinya akan memotong lidah gadis itu agar berhenti berbicara.


Dania yang merasa takut pun, langsung membungkam mulutnya dengan patuh.

__ADS_1


__ADS_2