
" Kenapa aku? " keluh Dira, lalu tersadar bahwa ia berada di kegelapan.
" Hey maafkan aku," suara anak perempuan yang sepertinya lebih muda darinya
"Ukh, apa yang terjadi? Kenapa gelap?" seorang anak kecil sekitar 6 tahun berdiri di depannya, dengan pakaian bak seorang putri, rambut pirang yang cantik mata biru serta bibir kecil yang indah. Apa ini mimpi? Batin Dira
" Maafkan aku, aku ceroboh," ucapnya yang sedari tadi meminta maaf
" Hmmm?? ini mimpi kan?"
Tanya Dira sembari melihat keadaannya.
" Bukan, ini nyata, karena sihir, " jelas gadis kecil itu, ia terlihat dingin, namun tetap terkesan cantik dan lucu.
" Haha siapa namamu? Kita sedang main ya?" tanya Dira tersenyum meremehkan cerita gadis kecil itu
" Aku putri Olivia charlotte sawn, jika kamu meremehkan cerita ku, aku akan membuktikan..."
" Tunggu, Putri? Kamu seorang putri, kucubit, aww, sakit..." ringis Dira
"Pfft..." gadis kecil itu tersenyum, membuatnya sangat menggemaskan, rasanya ingin ku peluk, pikir Dira.
" Ah tolong jelaskan" pinta Dira sambil tersenyum ingin mengerti sesuatu.
" Intinya, ini kesalahan ku, aku merasa bosan dengan hidupku, aku ingin tentangan, aku ingin hal yang baru, dan...aku membuat salah seorang penyihir memenuhi permintaanku, dia temanku Ash yang kebetulan bodoh tapi jenius, dia mencoba memuaskanku dengan hal gila yang baru saja ia temukan, bertukar jiwa, ya untuk sementara, aku ingin mencoba itu, lagi pula tidak akan lama, hanya sekitar beberapa bulan sesuai dengan habis efek sihirnya..." kata gadis kecil itu menjelaskan, Dera hanya melongo, gadis kecil yang tampak biacara tidak sesuai dengan usianya, bagaimana bisa?
" Mmm masa sih?" gumam Dera, gadis kecil itu tampak kesal
"Setidaknya aku telah memberitahumu, sekarang bagaimana kisahmu?" tanya gadis kecil itu
" Namaku Dira Natalia, aku seorang anak yatim piatu...." menjelaskan dengan detail
" Mmm begitu," setelah paham
" Hidupku menyedihkan, lebih baik jangan bertukar..." tetap mengatakannya meski Dira tidak terlalu percaya bahwa mereka bisa bertukar jiwa
" Menarik tahu! Aku ingin merasa bagaimana di aniaya,hahaha" Dira menatapnya penuh keheranan, bagaimana bisa ada seseorang yang senang di aniaya.
" Umurmu berapa sih?" gumam Dera
" Ingat ya, butuh apapun bisa minta tolong pada Ash, kita mulai? "
" Tunggu, kalau begitu jangan biarkan dirimu di buli,"
" Aku ingin melawan, kakak kamu bodoh sekali, mereka akan terkejut tiba-tiba si pecundang melawan, haha" Dera jelas tidak suka dianggap pecundang, tapi ini membuatnya merasa tertarik.
" Aku yakin kamu akan sangat menikmati hidupmu, namun sayangnya tidak bisa menjalin cinta, pufff... Usiaku 6 tahun," tertawa geli
" Kumohon jangan lakukan apapun pada hidupku, sepertinya perubahannya akan besar," kata Dira
" Sekarang Hidupku adalah hidupmu, kamu bebas lakukan apapun, sekarang namaku adalah Dira Natalia, dan kamu putri Olivia charllote sawn... Bisa dimengerti?" tersenyum jail
" Aku..." belum selesai bicara, Dira sudah ada di kamar yang benar-benar megah dan teramat-amat asing , 'wah!! Kamarnya indah, mmm?? Tubuhku kecil sekali, hihi... Lucunya, eh siapa dia, kenapa dia memandangiku seperti itu?' batin Dira. Seketika pria itu memeluknya, berjubah hitam, berambut perunggu, bermata merah, sangat tampan. Apakah ini teman putri Olivia yang ia ceritakan itu? Dalam hati Dira.
" Untunglah tuan putri sadar, saya benar-benar tegang, takutnya tuan putri tidak dapat bangun kembali, kalo tidak nanti saya... Eh ehmm," menghentikan pembicaraan karena ia melihat tatapan putri Olivia yang seakan bertanya-tanya
" Kamu, putri? Atau..."
" Aku bukan putri Olivia,"
__ADS_1
" Oh ternyata aku berhasil toh?" gumamnya
" Namamu Ash?"
"Yup," sekarang ia berprilaku santai, tidak hiteris dan sangat hormat padanya, apa ini karena Dira bukan tuan putri?
"Ini gila!!! Aku aku aku ingin pulang," kata Dira meronta-ronta
"Pfft..." tersenyum geli, Dira keheranan
" Bisa lanjutkan? Merengek lagi, normal kan?" Ash sambil menahan tawa
" Apa sih? " tidak mengerti
" Haha sejujurnya, tuan putri yang Asli tidak pernah berperilaku seperti itu, jadi ini kesempatanku untuk melihatnya seperti ini, meski bukan dia yang melakukannya, tapi itu tubuhnya... Haha bisa lakukan lagi?" tersenyum
"Tidak," Dira tidak mau mempermalukan putri Olivia
" Tidak di sangka ia berteman denganmu yang usianya jauh lebih tua darinya," kata Dira
" Hmmm apa salahnya? Lagi pula dia seorang anak yang pemikirannya dewasa,"
"Oh," jawabnya singkat
" Aku ingin dia senang, biarkan dia puas dulu disana, dunia disana berbeda, jadi dapat temukan hal baru yang ia sendiri tidak pernah membayangkannya....dan sebagai imbalannya, kamu bisa hidup bahagia di sini," menutup mata
" Benarkah kebahagiaan disini setimpal seakan membeli hidupku disana?"
" Bukannya disana kamu tidak terlalu bahagia?" menyenyitkan salah satu alisnya
"Bagaimana kamu bisa,"
" Sihir!" ya sudah, aku juga tidak paham sihir, lebih baik diam dan nikmati saja, batin Dira
" Pagil saja namaku Ash, ia tidak pernah memanggilku kakak," ungkapnya sembari tersenyum dengan memejamkan mata, dan seakan pikirannya hanyut entah apa yang dipikirkan pria itu
" Siapa namamu?"
" Dira Natalia, berapa usiamu Ash? "
" Oh, aku baru saja 12 tahun, kamu yang disana?"
" Mmm 9 tahun,"
"Ternyata aku selalu bermain dengan anak-anak," bicara seakan-akan dirinya sudah dewasa hanya karena kedua gadis itu berusia lebih muda darinya
" Mmm, tunggu, kenapa ketika aku berkedip atau menutup mata sejenak seakan melihat putri Olivia?"
" Kalian kan terhubung, jika kamu tidur, dalam alam bawah sadar kalian, kalian sedang terbangun, begitupun sebaliknya, jika kamu sekarang terbangun, disana kamu sedang tertidur, paham?" Dira hanya mengangguk
" Hufff, bagaimana keadaanya sekarang ya? Iblis kecil, kamu harus berbelas kasih! jangan macam-macam," gumam Ash
# Kehidupan baru putri Olivia
" Uhuk...Uhuk," Olivia terbangun, apa-apaan dengan keadaan ini? Basah! Hanyut? Apa dibuli? Olivia mengesampingkan kemukinan konyol itu, yang sekarang dilihatnya adalah seorang anak laki-laki dan beberapa temannya yang terlihat khawatir
" Kamu baik-baik saja?" tanya pria itu
" Kamu pasti Luis, kalian benar-benar berkemah ya?" Gumam Olivia
__ADS_1
" Dira, kamu?"
" Sebaiknya menyingkir dariku," tatapan dan perkataan dinginnya membuat semua terkejut, siapa? Ada yang merasuk? Semuanya bertanya-tanya
" Kamu ingat siapa kamu?" tanya Luis khawatir, memangnya jika kemasukan air bisa berubah begitu? Batin Luis
"Aku?" kenapa kamu bertanya? Merepotkan! Kamu harusnya yakin saja kalo aku ini si Dira adikmu itu, toh wujudnya tidak berubah. Batin Olivia
" Ya, tentu saja," sangat menuntut jawaban
" Oke, hai semua, namaku Dira Natalia, aku seorang yatim piatu, aku diadopsi oleh pamanku, dia yang bertanya adalah sodara tiriku, yang satunya tidak ada, jadi cukup begitu, mau lagi perkenalannya?" sekedar basa-basi, senang rasanya bisa lepas dari beban yang namanya putri anggun dan sopan santun, pikir Olivia.
" Baik, kalian bisa tanya apapun," memasang wajah datar, tidak seperti biasanya yang terlihat lemah lembut dengan keraguan yang khas.
" Aku yakin kamu bisa sembuh secepatnya," tukas Luis, sembari membantu Olivia berdiri
" Kakakku yang tampan, jangan berlebihan seperti itu, huh senangnya bebas berekspresi," Luis yang belum pernah disentuh wajahnya oleh Dira hanya bisa membeku, dan yang lainnya juga, mereka percaya ini hanya mimpi atau juga halusinasi. Setelah pertandingannya selesai, pertandingan dimenangkan oleh Jena dengan temannya yang lain, mengapa demikian, padahal tim Luis lebih dulu melaju, itu karena mereka lama menunggu Dira sadar, dan hanya terdiri dua kelompok dalam pertandingan itu. Luis dan teman lainnya tidak merasa kecewa sedikitpun, hanya heran mengapa Dira terasa berbeda.
Di depan api unggun, semua sedang mengitarinya, seseorang akan memimpin, biasa dilakukan, ya mereka menceritakan sebuah kisah menyeramkan. Harbe, guru pembimbing yang agak killer kalo berhadapan dengan siswa nakal, menceritakan sebuah kisah menyeramkan tentang hantu di hutan tersebut, ia berhasil membuat semua ketakutan, semuanya kecuali Dira atau juga Olivia, menurutnya kisah itu tidak sebanding dengan hal mengerikan di dunianya, bagaimana bisa semua anak percaya dengan apa yang mereka belum tahu dan lihat kebenarannya.
" Sttt... Luis kamu penakut haha..."
" Sedikit, aku khawatir pada kedua adikku," belanya sedikit merasa malu
" Ohhh," godanya, pura-pura mengerti
" Haha sepertinya satu dari kalian tidak merasa takut," Harbe, usia 27 tahun.
" Aku hanya tidak mengerti saja, hehe..." mencoba merendahkan diri, mendengar penyataan Olivia, semua anak menjawab "Ohhhhh" tanda bahwa mereka tidak seremeh itu, karena Dira tidak paham cerita. "haha kalian semua kompak?" Olivia merasa geli
" Oh begitu, padahal kamu itu anak yang pintar, haha...mmm atau sepertinya karena kamu anak yang pemberani, kamu bisa menceritakan cerita menyeramkan?" tanya Harbe tertarik
" Sedikit," aku tidak boleh pamer kan? Hehe, dalam batin
" Baiklah, silahkan di coba,"
" Kalo tidak seram bagaimana?"
" Ini hanya main-main saja," jelasnya
" Oke, jadi begini, hal yang menyeramkan adalah saat anak laki-laki dan perempuan bercinta," cerocos Olivia, semua tertegun, mengapa tak bisa memberi reaksi pada pernyataannya, padahal mungkin bisa di kategorikan lucu.
" Iya karena, suatu ketika, pria itu membawa pasangannya ke hutan, dimalam hari yang gelap tanpa penerangan apapun, di bawah rindangnya pohon besar itu, mereka tak bisa lari dari kematian, mereka mencintai satu sama lain, mahkluk itu ingin menyerang mereka, mahkluk yang sangat membenci kebersamaan mereka, Diana dan Giog, mmm sepertinya ini tidak menarik?" semua berkata "lanjutkan!" ini kisah cinta yang tragis, batin semua pendengar. Ah apa aku melihat kumpulan ayam bodoh disini? Padahal ini cerita sepele, mengapa begitu antusias? Batin Olivia.
" (bla-bla).... Mereka mati mengenaskan dalam pelukan keduannya, makhluk itu... tersenyum misterius...mungkin jika diantara kalian yang sedang jatuh hati, dan mahkluk itu menilai kalian tidak dapat bersatu, maka dia akan berikeras memisahkan kalian, lihatlah di sebelas sana, tak terlihat pohon tak terlihat benda apapun, kiranya ia mendengar ceritaku, kita bisa tau dia ada disana ketika mata merahnya menyala, dan terdengar garukan kuku tajamnya," kratakkk, suara pohon yang ditunjuk jari Olivia.
" Haha dia dengar, kuhitung satu sampai tiga, kalian bisa melihat matanya tapi ingat jangan teriak, itu akan membuat dia menyerang kita...haha satu...Dua... Tiga..." keakkkk, suara burung, dan jelas mata mereka membelalak melihat sorotan mata tajam yang dijelaskan Olivia, semua merinding ketakutan, menutup mulut agar tidak berteriak.
" Sudah sudah, itu hanya halusinasi, karena kalian merasa takut, jadi demikian terlihat padahal tidak ada, hahaha" semua masih tertegun, huh memangnya makhluk itu masih ada samapai sekarang? Batin Olivia.
" Bagus sekali, seperti nyata, padahal apa?"
"Halusinasi," Olivia mengingatkan, 'hebat! Sihirku masih berguna di sini' batin Olivia
" Ya itu," Harbe masih merinding dan yang lain pun sama
" Sudah cukup untuk malam ini, kita bisa tidur sekarang..." kata Lea, sang guru pembimbing lainnya, ia masih muda 25 tahun, tapi terlihat tua karena sudah menikah dan mempunya anak 4 tahun. Perkemahan mulai usai, Olivia dan kedua sodara tirinya di jemput oleh sang ayah.
" Ayah!!" Jena melompat memeluk ayahnya, dengan wajah puas karena ia mendapatkan ayahnya lebih dulu dari Olivia, sang ayah hanya tersenyum lembut pada ketiga anaknya itu.
__ADS_1
"Cih dasar bocah!" gumam Olivia, ternyata ini ayah tirinya, terlihat biasa saja seperti pelayan dikerajaannya, keluarganya jauh lebih tampan dan cantik dari ini. Jena menjulurkan lidah ke arah Olivia.
" Memangnya aku mau berebut denganmu?? Dih mana mungkin!" gumam Olivia, Olivia tersadar bahwa Luis sedang memperhatikannya sekarang.