Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
108


__ADS_3

" Kenapa berpikir demikian, Bukankah, di lihat dari mana pun, aku ini adalah putri mu? Maaf, putri angkat mu. " ungkapnya mengkoreksi dengan nada bicara kesal. Kedua tangannya di lipat di dada, sesekali mencuri pandang pada Ruslan, memastikan bagaimana ekspresi dari pria di seberangnya, ia tak boleh gegabah menyimpulkan kesimpulan. Karena jika tidak, itu sama saja dengan mati.


Ruslan terdiam, kedua matanya menatap lekat dan menyusuri setiap jengkal tubuh putrinya yang berada di depannya. Dengan seksama. Menyadari bahwa gadis di depannya adalah putrinya yang asli dan bukan yang palsu.


" Lalu apa hubungan mu dengan Ruksa, kenapa kamu sangat akrab dengannya? Menemuinya setiap hari tanpa sepengetahuan Ayah, bukankah Ayah pernah berkata untuk menjauh dari wanita itu? "


" Memangnya kenapa?! Bukankah bagus, Ayah pernah mengatakannya bukan? Kalau dia adalah cinta pertama mu, makanya, anak mu yang baik ini berusaha mendekatkan kalian supaya cinta kalian bersemi kembali. " terang Ruksa dengan semangat, ia bernafas lega, bahwa Ruslan masih belum menyadarinya.


" Kamu salah paham, dia memang cinta pertama Ayah, tapi bukan berarti Ayah mu masih menyukainya. " timpal Ruslan


" Kenapa? Apa karena dia tak secantik dan semuda dulu, jadi dengan mudahnya, cinta mu luntur begitu saja. "


" Bukan karena itu alasannya. "

__ADS_1


" Lantas apa? Jika sudah tak menyukainya kenapa Ayah masih menyimpan barang lamanya? Bersikap gelisah karena melihatnya dengan pria lain, bukankah itu tandanya masih cinta? Joka cinta ya cinta, jangan jadi pengecut seperti ini, dan malah menjadikan anak mu sebagai pelampiasan perasaan kesal mu. " terang Ruksa panjang lebar.


Lidah Ruslan pun seketika menjadi kelu, padahal ia berniat memarahi gadis di depannya ini, karena sering menyelinap keluar tanpa sepengetahuannya, di tambah, hal itu dilakukannya. pada malam hari.


Hal ini diketahui olehnya karena dirinya menerima laporan dari salah satu bawahannya, bahwa putrinya sering menyelinap keluar untuk menemui seseorang. Tapi ia tak pernah menyangka bahwa seseorang itu adalah Ruksa.


" Aku akui, aku salah karena menyelinap keluar, tapi aku kan melakukannya untuk demi Ayah. " tambahnya menegaskan.


" Pokoknya, tak peduli alasan mu apa, mulai sekarang, jangan menemuinya lagi titik. " timpal Ruslan yang tak mau kalah.


" Setidaknya beri aku alasan untuk berhenti menemuinya. " ucap Ruksa dengan tegas yang sama-sama tak ingin mengalah.


Ruslan terdiam sejenak, kedua bola matanya bergerak gelisah, di detik berikutnya ia kemudian menolehkan kepalanya. " Apa Kamu yakin ingin mendengarkannya? "

__ADS_1


Seketika seluruh tubuh Ruksa pun tertegun setelah mendengar pertanyaan dari Ruslan, di sisi lain, dirinya bahagia, akhirnya ia bisa mengetahuinya, tapi di sisi lain ia juga takut, jika kebenaran yang akan didengarkannya ini, akan membuatnya tak nyaman.


Namun, karena dirinya sudah berjanji pada Dania, maka mau tak mau, dirinya harus mendengarkannya, apalagi ini kesempatan langka yang mungkin tak akan ada lagi kesempatan kedua, maka dari itu ia pun langsung menganggukkan kepalanya.


" Baiklah mungkin sudah seharusnya kamu tahu, percaya atau tidak, keluarga Wisesa lah yang telah membunuh ibu mu. " ujarnya lalu beranjak pergi menuju kamar tidurnya, meninggalkan Ruksa dengan sejuta pertanyaan di dalam kepalanya.


" Bagaimana mungkin, lagi pula kita tak ada hubungannya dengan mere. . . ka. " tiba-tiba ucapan Ruksa terpotong, ia terdiam sejenak, mencerna perkataan Ruslan, ada banyak pria dari keluarga Wisesa, jadi yang mana satu, apa mungkin, Dania adalah adiknya? Mengingat, Ayahnya suka bermain wanita sejak dulu. Tapi seingatnya, di antara wanita yang ada di dekat Ayahnya, ia tak pernah melihat pria itu membawa gadis SMA.


Ia kemudian menggelengkan kepalanya, mengenyahkan pikiran itu, dan mencoret Ayahnya dari kandidat.


Mungkinkah, salah satu pamannya? Mengingat, mereka juga menyukai wanita, kecuali Paman Chandra, pria itu tak pernah sekalipun terlihat memainkan wanita, pria itu adalah sosok pria sejati yang sesungguhnya.


Dia bahkan tetap setia, pada istrinya yang sudah meninggal.

__ADS_1


Ruksa pun mengutuk dirinya, seharusnya ia bertanya lebih spesifik lagi, tentang sosok yang di bicarakan oleh Ruslan. Jika seperti ini maka semuanya sia-sia saja.


__ADS_2